Genetik Ilahi (17 Maret 2025)

Renungan dari bacaan : Daniel 9:4b-10; Lukas 6:36-38
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Lukas 6:36).

Yesus memberi nasihat untuk tidak menghakimi, tidak menghukum, tidak membalas, tetapi dengan murah hati memberikan pengampunan, dalam menyikapi orang-orang yang berbuat jahat, atau yang melukai kita (Luk. 6:27-34). Ia juga mengingatkan bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Kalimat ini sebenarnya selaras dengan prinsip ajaran Yesus atau sering disebut “golden rule” yaitu, apa pun juga yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka (Luk. 6:31).

Seorang hakim, bukan saja menilai benar atau salah, tetapi juga mengambil keputusan, apakah seseorang bersalah dan layak untuk dihukum serta memberikan vonis hukuman apa yang harus diterima oleh orang yang bersalah. Kita bisa saja menilai tindakan seseorang salah atau benar, tetapi kita tidak layak untuk menghukum, atau memberi ganjaran. Memberi ganjaran tidak selalu terlihat nyata seperti mata ganti mata, gigi ganti gigi, memar ganti memar. Bisa jadi ketika seseorang melakukan kesalahan, lalu kita mendiamkan dia, itu pun sebuah ganjaran, itu pun sebuah bentuk hukuman yang kita berikan sebagai balasan atas kesalahan yang dia perbuat kepada kita. Tetapi, Yesus mengajarkan kita untuk tidak menghakimi (tidak menghukum), melainkan berbelas kasihan dan mengampuni.

Nasihat ini sangat penting, karena kita sebagai manusia cenderung dengan mudah menghakimi orang lain, terutama orang-orang yang berbeda atau yang tidak kita sukai. Kita diingatkan untuk tidak mengambil posisi sebagai seorang hakim, karena Allahlah Sang Hakim Semesta Alam. Artinya, jika kita menghakimi, jika kita mengambil tindakan untuk membalas, sekecil apa pun atau sehalus apa pun tindakan pembalasan itu, kita sedang mengambil alih posisi Allah sebagai hakim. Tindakan seperti itu sangat kurang ajar.

Begenilah peringatan-Nya: ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Artinya jika kita mudah untuk berbelas kasih, Allah pun berbelas kasih kepada kita, tetapi bila kita cenderung menjadi hakim yang kejam terhadap sesama, ukuran itu pun akan dikenakan kepada kita pada hari penghakiman nanti.

Adalah mudah untuk berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, tetapi tentu sulit untuk berbuat baik kepada orang yang dengan sengaja menyakiti kita. Yesus mengajarkan kita untuk menjadi teladan, bukan pengekor. Kita diajak lebih dulu memberi contoh, walaupun mungkin tidak mendapatkan balasan seperti yang kita harapkan. Kita diajak untuk berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang melakukan hal yang buruk kepada kita. Karena dengan demikian kita membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Bapa di surga.

Bapa di surga murah hati, berbelas kasih kepada semua orang. Maka kita pun seharusnya demikian. Allah mengadopsi kita menjadi anak-Nya, dengan terlebih dulu mengampuni kita dan menerima keberadaan kita. Dia sabar terhadap kita, di mana kita berkali-kali melukai hati-Nya dengan perbuatan kita. Pikiran kita yang kotor, penuh hawa nafsu, kelicikan dan tipu muslihat. Perasaan kita yang egois, mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap perasaan Allah. Atau perkataan kita yang masih sering sembarangan dan sembrono, sehingga menyinggung orang lain, dan tidak berkenan kepada Allah. Semuanya itu melukai hati Allah. Tetapi, Allah lebih dahulu berinisiatif mengampuni kita, dan dengan sabar menerima segala keburukan kita. Kesabaran-Nya menanti kita, supaya kita bertobat dan tidak binasa, supaya kita memiliki kodrat ilahi dan benar-benar layak untuk diterima di dalam kerajaan-Nya. Kalau Bapa di surga sabar terhadap kita, kita pun seharusnya sabar terhadap orang lain.

Seorang anak pastilah mewarisi genetik orang tuanya. Maka setelah kita diangkat menjadi anak-anak Allah, Allah ingin agar kita bertumbuh dan memiliki “genetik” ilahi atau kodrat ilahi: Murah hati sama seperti Bapa di surga, penuh belas kasihan dan pengampunan. Itulah yang membuktikan bahwa kita benar-benar layak disebut anak-anak Allah yang maha tinggi.

Pengakuan sebagai anak-anak Allah seharusnya ditunjukkan dengan kualitas moral ilahi, yang membuktikan bahwa kita adalah benar-benar anak-anak Bapa di surga.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *