Terlibat dalam Karya Perutusan (25 Maret 2025)

Renungan dari bacaan Yesaya 7:10-14,8:1, Lukas 1:26-38
“Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38)

Malaikat Gabriel menyampaikan kabar gembira dari Allah bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan Putra Allah, yang merupakan kedatangan keselamatan Allah yang telah lama dinantikan oleh seluruh umat manusia. Maria menerima berita dari Allah dengan iman dan melibatkan diri sebagai hamba Allah dalam rencana keselamatan-Nya. Ia hanyalah seorang gadis kecil dari Nazareth, bukan siapa-siapa, tetapi dipakai untuk menjadi model iman dan pelayanan untuk umat manusia.

Maria tunduk dengan rendah hati walaupun awalnya dia ragu-ragu dan takut. Pertanyaannya: “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” lahir dari ketakutannya mengingat statusnya sebagai tunangan Yusuf?  Apa yang akan terjadi bila seorang yang baru bertunangan sudah hamil? Hukuman apa yang akan diberikan kepada dia yang dianggap hamil di luar nikah? Namun, Maria tetap yakin akan pemeliharaan dan rencana Allah baginya. 

Menjawab keraguan dan ketakutan Maria, Malaikat Gabriel menjelaskan asal sesungguhnya anak yang akan dikandungnya. Ia meneguhkan Maria dengan menekankan bahwa Roh Kudus akan turun ke atas dirinya, kuasa Allah  yang akan menaunginya. “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Lukas 1:37.)

Selain itu,  melaikat juga memberikan suatu tanda penebuh berupa kehamilan Elisabeth, sepupunya, yang selama ini dipandang hina dalam masyarakat Yahudi karena mandul. Maria menanggapinya dengan iman. Ia percaya bahwa apa yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel akan terjadi padanya. Ia pun  berserah pada kehendak Allah, menerima ajakan Allah untuk ikut terlibat dalam karya keselamatan Allah.  Allah telah mempersiapkan tempat yang pantas bagi Sang Putra dan Ia mengenal setiap pribadi untuk menjadi rekan sekerja-Nya.

Maria menyerahkan ketakutannya pada Allah. Ia bersedia terlibat dan rela berkorban melahirkan Sang Juru Selamat, bagi sukacita semua orang. Keterbukaan hatinya untuk mau terlibat dalam iman menampilkan dirinya sebagai  gambar sempurna orang beriman dan teladan dalam menjadi rekan kerja Allah. 

Masing-masing dari kita pun mendapat undangan untuk menjadi sama seperti Maria: taat pada kehendak Allah dan menjadi rekan kerja-Nya.  Sebab, keselamatan yang diberikan Allah terus berlanjut sampai akhir zaman.
Masa Pra Paskah merupakan kesempatan bagi kita untuk melakukan introspeksi diri agar kita makin bertumbuh dalam iman, taat dan setia dalam menjalani perutusan Allah untuk meneruskan karya keselamatan bagi dunia. Marilah kita menjalani kehidupan kita hari demi hari dengan kesadaran bahwa Allah menginginkan kita terlibat dalam tugas perutusan dan  memberikan kita kesempatan untuk bertumbuh menjadi semakin baik. Kiranya kita selalu bersikap rendah hati, setia, dan mau membuka diri agar semakin peka terhadap panggilan perutusan itu. Kita perlu meneladani Maria dalam hal kerendahan hati dan keterbukaan diri untuk menerima tawaran Allah untuk menjadi rekan kerja Allah. 

Kita seringkali tidak memperhatikan ketika Allah mengajak kita terlibat dalam rencana-Nya karena tidak berani keluar dari zona nyaman kehidupan kita dan kuatir dengan kesibukan kita dalam mengejar  harta duniawi. Marilah kita belajar untuk makin peka mendengar panggilanTuhan, dan jangan hanya menginginkan Tuhan yang selalu mendengarkan keinginan-keinginan kita. Marilah kita memohon agar Tuhan juga memampukan kita menanggapi panggilan-Nya untuk ikut berperan serta dalam karya keselamatan, dengan kata-kata tulus seperti Maria, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *