Renungan dari Bacaan Yosua 5:9a.10-12 dan Lukas 15:1-3.11-32. “Kita patut bersukaria dan bergembira, karena adikmu telah mati dan kini hidup kembali, ia telah hilang dan kini ditemukan kembali” (Luk. 15:32). |
Dalam suatu kunjungan ke rumah permasyarakatan, saya diperkenalkan dengan seorang bapak yang bertugas memberikan bimbingan kepada para warga binaan untuk persiapan kembali ke masyarakat. Ada berbagai pelatihan keterampilan dan pendampingan yang berguna untuk bekerja. Kehidupan bebas di luar rutan, mungkin dapat diibaratkan ‘tanah terjanji’, yang didambakan para warga binaan.
Seperti orang Israel yang harus bekerja dan mengupayakan makanan ketika tiba di tanah terjanji, setiap orang harus bekerja, mengupayakan makanan dan kehidupannya secara mandiri (bdk. Yos. 5:12). Tetapi, akankah ‘cela’ juga dihapuskan, seperti firman Tuhan kepada Yosua, bahwa ‘cela dari Mesir’ disingkirkan dari orang Israel (Yos. 5:9) ?
Terlepas dari kasus apa yang menyebabkan seseorang menjadi warga binaan, entah karena tindak kejahatannya sendiri atau karena terseret kasus orang lain atau karena peradilan yang berpihak, “mantan tahanan” merupakan stigma buruk, yang akan menjadi beban ‘cela’ bagi yang bersangkutan. Bahkan tidak jarang keluarga juga terimbas. Pertanyaannya kemudian: Seberapa terbuka peluang kerja bagi para mantan warga binaan nantinya? Di saat besarnya persaingan di antara pencari peluang kerja, siapa yang bersedia menerima mereka, memberikan kepercayaan dan kesempatan kerja?
Kenyataannya, banyak yang mengeluhkan beratnya perjuangan mencari kerja. Lebih banyak cerita tentang ‘pintu-pintu yang tertutup’ daripada kesaksian adanya ‘tangan-tangan yg terbuka’. Sementara desakan kebutuhan hidup menuntut untuk dipenuhi, tetapi masyarakat seakan menjauh dan cenderung berprasangka negatif terhadap mereka.
Godaan untuk menjadi putus asa dan kemudian menempuh jalan pintas, menjadi semakin besar. Banyak yang akhirnya terjerat kasus lama atau baru. Meskipun demikian, tidak sedikit juga yang berhasil bangkit, membangun dan menata hidupnya kembali. Apa yang membedakan mereka yang berhasil bangkit? Mereka yang sinis, mungkin akan berkomentar: Mungkin mereka sudah lebih ahli dalam kejahatannya.
Orang-orang percaya tidak saja akan melihat dengan mata iman, melainkan juga memiliki rasa kasih terhadap sesama, berani bertindak nyata untuk menunjukkan kepedulian untuk membantu mereka. Saya menyaksikan adanya orang-orang peduli, yang memiliki kebesaran hati untuk mengorbankan waktu mereka yang berharga, berani untuk datang memberikan dukungan moril dan menciptakan komunitas yang memperlakukan para warga binaan, sebagai sesama orang beriman dan bermartabat.
Mereka adalah: keluarga, sahabat, petugas rutan, utusan gereja, awam, pendeta, pastor, suster dan rohaniwan, bahkan ada juga mantan warga binaan yang telah bebas dan berhasil menata kembali kehidupannya. Kehadiran mereka diharapkan dapat menjadi ‘pagar’ dan ‘tembok’ iman di mana mereka yang memerlukannya dapat bersandar. Mereka telah menjadi wujud nyata ‘anak-anak sulung’ yang peduli dan bertindak nyata mendampingi ‘adik-adik’ yang sedang terpuruk.
Sikap ini menjadi alternatif kontras terhadap kemarahan dari ‘anak sulung’ dalam kisah perumpamaan anak yang hilang (Luk. 15:28). Sikap alternatif ini adalah menjawab ajakan Bapa untuk bersikap positif, mendatangi mereka yang sekarang ‘hilang’ untuk memelihara dan menumbuhkan imannya supaya ia berani bangkit dan kembali kepada Bapa. Yang diperlukan bukan hanya sikap gembira terhadap pertobatan sesama, tetapi terutama sikap mendukung dan tindakan nyata, supaya sesama yang telah bertobat, dapat hidup mandiri dan memelihara imannya.
Penulis

