Percaya tanpa Melihat (27 April 2025)

Bacaan: Kis. 5: 12-16;  Yoh. 20: 19-31.
Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, engkau pecaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20: 29).

Kis. 5: 14 mengisahkan bahwa jumlah orang yang percaya kepada Tuhan terus bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran dan karya para rasul menarik banyak orang dari kota-kota di sekitar Yerusalem. Mereka mendengarkan ajaran, percaya, dan dengan suka cita bergabung. Orang banyak datang dengan membawa orang sakit untuk disembuhkan. Para rasul pun menyembuhkan mereka.

Jemaat abad pertama biasa berkumpul di rumah dan mengadakan perjamuan pada setiap hari pertama dalam minggu.  Hari tersebut pada abad mendatang disebut Hari Tuhan, karena pada hari itu Tuhan yang bangkit hadir di tengah jemaat dalam perjamuan Ekaristi. Kedatangan Yesus dalam Yoh. 20:26 mirip dengan yang dalam Yoh. 20:19. Dalam ayat 26 ini diceritakan bahwa  murid-murid sudah percaya pada Tuhan yang bangkit. Mereka tidak ketakutan lagi, meskipun pintu tetap dikunci. Artinya Tuhan masuk dengan tubuh setelah bangkit. Tiba-tiba Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan kembali menyampaikan salam damai. Kali ini Tomas hadir. Yesus tidak hanya memperlihatkan tangan dan lambung-Nya, tetapi juga meminta Tomas untuk menaruh jarinya  ke dalam lambung-Nya. Yesus menegur Tomas dan mengajaknya untuk percaya. Tomas memahami teguran itu, dan percaya setelah melihat. Tidak dikisahkan ia menaruh jari ke dalam luka-luka Yesus. Ia hanya berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28).

Ketika Maria Magdalena dan murid-murid lain melihat Yesus, mereka segera mengakui-Nya sebagai Tuhan. Namun,  hanya Tomas yang mengakui Yesus dengan sapaan paling agung, “ya Tuhanku dan Allahku”. Hal ini berarti kehendak Allah Bapa supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa, terpenuhi dalam ucapan Tomas. Sabda Bahagia “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ay. 29) menyimpulkan bukan hanya kisah Tomas tetapi juga seluruh kisah dalam bab 20 ini.

Terdapat empat kisah tentang orang yang melihat dan percaya: Murid yang dikasihi Yesus segera percaya ketika melihat cara kain kafan diletakkan. Maria Magdalena yang sedih pada kubur, baru mengenali Tuhannya dan percaya ketika namanya dipanggil. Murid-murid yang ketakutan di dalam rumah, menjadi percaya ketika melihat tangan dan lambung Yesus. Iman kepada Tuhan yang bangkit muncul dengan berbagai cara. Kepada murid-murid pertama iman itu dianugerahkan dengan jalan: melihat Yesus sebelum Dia wafat dan sesudah bangkit, lalu percaya. Kita yang membaca bermacam-macam kisah penampakan dalam Kitab Suci serta tanggapan iman para murid perdana, percaya berdasarkan kesaksian mereka. Tanpa melihat dengan mata sendiri, kita dianugerahi iman akan Tuhan yang hidup. Pembaca modern cenderung bersikap menuntut tanda bukti nyata, seperti Tomas. Banyak orang sekarang sulit menerima sesuatu yang adikodrati jika tidak melihat tanda yang nyata. Hendaknya bersama Tomas kita dapat melepaskan syarat-syarat yang tidak sesuai. Melebihi Tomas, kita percaya tanpa melihat penampakan Yesus, sama seperti murid yang dikasihi Yesus, dan justru karena itu kita dinyatakan bahagia. Kita pun pantas mengakui Yesus dengan sapaan, “Ya Tuhanku dan Allahku” karena Yesus yang tinggal di dalam Bapa, menyatakan kepada kita Bapa yang tinggal di dalam Dia.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *