Lahir dari Roh (29 April 2025)

Bacaan : Kisah Para Rasul 4:32-37, Yohanes 3:7-15
“Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh. 3:8).

Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi, datang kepada Yesus dengan diam-diam di tengah malam dan mengakui bahwa mukjizat yang dilakukan Yesus, menandakan bahwa Yesus adalah seorang guru yang diutus Allah. Tampaknya Nikodemus memiliki nurani yang cukup baik, karena sebagian orang-orang Yahudi lainnya, justru menuduh bahwa mukjizat yang dilakukan Yesus itu berasal dari kuasa Iblis. Tetapi, Yesus  ingin menegaskan kepada Nikodemus bahwa melihat atau bahkan mengalami kuasa Allah saja tidak cukup untuk memastikan bahwa seseorang mengambil bagian dalam Kerajaan Allah. Ia harus dilahirkan kembali. Tetapi, Nikodemus, yang adalah seorang guru Israel, tidak memahami perumpamaan sederhana seperti itu. 
Konsep dilahirkan kembali sebenarnya bukan konsep yang baru dalam agama Yahudi. Seorang non-Yahudi ketika ia berkomitmen untuk menjadi pengikut agama Yahudi ia harus meninggalkan kebiasaan lama, komunitas yang lama, dan berkomitmen untuk menjadi bagian komunitas yang baru dan melakukan segala tuntutan agama Yahudi. Ia harus disunat dan dibaptis. Hal ini berarti ia dibersihkan dari segala noda kekafiran dan disucikan, lalu menjadi seperti manusia yang baru dilahirkan Kembali. Tentu Nikodemus paham tentang hal ini. Tetapi, Nikodemus (dan banyak orang Yahudi lainnya) tidak paham bahwa sebagai seorang Yahudi mereka juga harus dilahirkan kembali. Orang-orang Yahudi meyakini bahwa sebagai keturunan Abraham secara jasmani, mereka juga dilahirkan dari Allah (Yoh. 8:39). Jadi, Yesus mengundang Nikodemus untuk benar-benar menjadi seorang Yahudi, bukan saja secara status keturunan jasmani, melainkan juga secara iman. Untuk itu ia perlu dilahirkan secara rohani. Namun, Niikodemus gagal memahami ilustrasi sederhana yang Yesus sampaikan. 
Seperti juga Nikodemus, pengetahuan kita yang mendalam tentang agama, fasih berbicara soal firman, bisa mengajar Kitab Suci, terlibat dalam pelayanan, bahkan memiliki jabatan terhormat dalam organisasi keagaman, tidak menjamin seseorang telah menjadi bagian dalam Kerajaan Allah. Untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah seseorang harus dilahirkan dari Roh. Dilahirkan oleh Roh berarti bukan atas inisiatif manusia, karena benih itu haruslah benih Ilahi (1Ptr.1:23). Kelahiran dalam roh sama seperti kelahiran jasmani, tidak terjadi secara instan. Diperlukan proses mulai dari benih-benih kebenaran yang disemaikan di dalam hati manusia, bertumbuh, dan akhirnya lahir menjadi manusia baru. Benih-benih kebenaran rupanya telah mulai disemaikan di hati Nikodemus, sehingga ia bisa mengakui bahwa Yesus datang dari Allah, namun belum sepenuhnya mengubah Nikodemus menjadi manusia baru. 
Kedua, lahir dari Allah haruslah diverifikasi oleh bukti berkarakter seperti Roh Allah. Sebaliknya, mereka yang tidak pernah lahir dari Roh Allah berarti masih menjadi anak-anak dunia ini, atau anak-anak Iblis (8:42-44). Mereka yang adalah anak-anak kegelapan terverifikasi dari sikap mereka yang membenci Yesus dan murid-murid-Nya. Meski Nikodemus tidak membenci Yesus, tetapi Nikodemus kurang matang secara rohani (1Kor. 2:14). Dia belum sepenuhnya dilahirkan oleh Roh, karena itu dia belum memahami arti dilahirkan kembali menjadi manusia baru yang tidak hanya saleh secara agamawi, tetapi benar-benar memiliki moralitas Ilahi. 
Yesus berkata, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Asal-usul angin dan ke arah mana tujuannya adalah misteri, sama seperti orang-orang yang dilahirkan dari Allah, tidak dikenali oleh dunia ini. Perjalanan hidup mereka yang mau mengikuti Yesus sering kali tidak dapat dipahami oleh cara pandang dunia ini. Namun, kehidupan mereka yang berbeda dari dunia akan terdengar, dan akan terlihat. Dari kesederhanaannya, sementara dunia berlomba untuk menikmati kemewahan. Dari kerendahatiannya, sementara dunia berlomba mencari hormat yang tertinggi. Serta dari cintanya dan pembelaannya pada sesama, di saat dunia mementingkan dan mengutamakan diri sendiri.

Penulis

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *