Bacaan: Kisah Para Rasul 6: 8-15; Yohanes 6: 22-29 “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu. Sebab, Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa” (Yoh. 6:27) |
Ungkapan tentang hidup dan makanan sering membuat kita sulit untuk menentukan pilihan antara hidup untuk makan atau makan untuk hidup. “Hidup untuk makan” berarti karena kita hidup maka harus makan. Sedangkan ungkapan yang kedua “makan untuk hidup” berarti kita harus makan supaya bisa tetap hidup. Keduanya menunjukkan bahwa yang dibutuhkan manusia hidup di dunia ini adalah makanan jasmani yang bisa menyehatkan tubuh. Namun, makanan tersebut tidak kekal, manusia bisa binasa, tubuhnya mati walau cukup makan.
Tertulis dalam Yohanes 6:22-24, orang banyak mencari Yesus. Mereka datamg ke Bait Allah, ke bukit yang biasa Tuhan Yesus datang untuk mengajar Firman Allah, namun mereka tidak menemukan Tuhan Yesus di sana, akhirnya orang banyak menemukan Dia di seberang laut.
Pada saat mereka sudah bertemu dengan Yesus, secara basa-basi mereka bertanya, “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus mengetahui apa yang dipikirkan mereka, motivasi mereka, datang kepada Dia. Hal ini dijadikan-Nya sebagai pembelajaran bagi mereka sekaligus mengkonfirmasi tentang tujuan mereka menemui Dia.
Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yoh. 6:26).
Sindiran dan pembelajaran dari Yesus tersebut juga sangat relevan dengan kondisi kita saat ini, terutama bagi kita yang terlibat dalam pekerjaan pelayanan. Kita sering beranggapan bahwa jika rutin datang ke gereja, mengikuti berbagai kegiatan gerejawi, kita memperoleh berkat dari Tuhan. Kita giat dalam aksi pelayanan yang diadakan di gereja atau di masyarakat, dengan maksud agar hidup kita lebih diberkati Tuhan. Pada akhirnya hanya kebanggaan pribadi yang kita tonjolkan dalam pergaulan (pencitraan, sombong). Kita tidak lagi mengutamakan memuliakan nama Tuhan, melainkan sibuk dengan keinginan agar bisa dikenal orang sebagai orang yang beriman dan diberkati Tuhan.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa hendaknya kita bekerja bukan untuk mencari makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepada kita. Sebab, Dia-lah yang telah dimeteraikan Allah Bapa (Yoh. 6 :27).
Kita bekerja bagi Tuhan, melakukan pelayanan pekerjaan-Nya, karena kita sudah diberkati, bukan untuk mencari berkat. Sedangkan, pekerjaan yang dikehendaki Allah ialah hendaklah kita percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. Dia-lah Roti Hidup yang mengenyangkan kita sampai kepada hidup yang kekal.
TUHAN, berikanlah kami hikmat untuk tetap percaya, tekun, dan taat terhadap perintah-perintah-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami.
Penulis

