Iman yang dewasa bersumber dari relasi yang intim dengan Allah. (6 Mei 2025)

Renungan dari Bacaan: Kisah Para Rasul 7: 51 – 8:1a; Yohanes 6 : 30 – 35
“Akulah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi” (Yoh. 6:35)

Kisah Para Rasul 7:51-8:1a dan Yohanes 6:30-35 menghadirkan dua momen penting dalam sejarah iman Kristiani: penolakan dan penganiayaan terhadap kebenaran, serta tawaran anugerah dan kehidupan kekal.Kisah Para Rasul 7:51-8:1a mengisahkan kemartiran Stefanus, seorang diakon yang berani menegur para pemimpin agama Yahudi atas penolakan mereka terhadap Yesus. Stefanus menghadapi penolakan yang keras, yang berujung pada kematiannya. Ayat-ayat ini menggambarkan betapa kebenaran sering kali tidak diterima, terutama oleh mereka yang merasa terancam olehnya.

Stefanus, yang dipenuhi Roh Kudus, dengan berani menyatakan dosa-dosa nenek moyang mereka dan penolakan mereka terhadap Mesias yang dijanjikan. Kematiannya menjadi titik balik, menandai permulaan penganiayaan yang hebat terhadap gereja di Yerusalem. Namun, dalam kesetiaannya yang teguh, kita melihat teladan keberanian dan keteguhan iman yang memberikan inspirasi dan semangat pada kita pengikut Kristus. Stefanus, menjelang kematiannya, mengikuti teladan Yesus dalam doa pengampunannya bagi para penganiayanya.Yohanes 6:30-35 menyajikan sisi lain dari penolakan orang Yahudi akan relasi dengan Allah yang memberikan hidup kekal. Di sini, Yesus berdialog dengan orang banyak yang mencari-Nya setelah menyaksikan mukjizat pemberian makan lima ribu orang. Mereka meminta tanda dari-Nya, seperti manna yang diberikan kepada nenek moyang mereka di padang gurun. Yesus mengungkapkan bahwa “roti yang benar dari surga” bukanlah manna, melainkan diri-Nya sendiri. Dia menyatakan, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Dalam ayat-ayat ini, kita melihat tawaran anugerah dan kehidupan kekal yang diberikan Yesus. Dia tidak hanya menyediakan makanan jasmani, tetapi juga makanan rohani yang memuaskan dahaga jiwa. Yesus menawarkan diri-Nya sebagai sumber kehidupan yang kekal, yang dapat diperoleh melalui iman kepada-Nya. Namun, pengajaran Yesus tidak dapat dipahami dan diterima oleh orang Yahudi, yang masih saja mengharapkan makanan duniawi gratis dari Allah tanpa kerja sebagai tanda-tanda kehadiran Allah, tetapi tidak terbuka untuk menjalin relasi dengan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa iman mereka masih kerdil, belum tumbuh dewasa.

Kedua bacaan ini, meskipun berbeda dalam konteks dan nuansanya, memberikan pelajaran yang mendalam bagi kita hari ini. Kisah Stefanus mengingatkan kita akan harga kebenaran dan kemungkinan penolakan serta penganiayaan yang mungkin kita hadapi ketika kita berdiri teguh pada iman kita. Ia juga menyoroti pentingnya pengampunan dan kasih, bahkan di tengah-tengah penderitaan. Sementara itu, perkataan Yesus dalam Yohanes 6:30-35 mengingatkan kita akan anugerah yang tidak terhingga yang ditawarkan kepada kita dalam Kristus.

Dia adalah roti hidup yang memuaskan dahaga rohani kita dan memberikan kita kehidupan yang kekal.Sebagai umat Kristiani, kita dipanggil untuk meneladani keberanian Stefanus dalam menyatakan kebenaran, tetapi juga untuk menerima dengan syukur tawaran Yesus akan kehidupan yang kekal. Kita harus ingat bahwa kebenaran mungkin tidak selalu diterima, tetapi kita tidak boleh berkompromi dengan iman kita. Pada masa yang sama, kita harus sentiasa berpaling kepada Yesus sebagai sumber kekuatan dan pengharapan kita, mempercayai janji-Nya akan kehidupan yang kekal.Kedua bacaan ini menantang kita untuk merenungkan sejauh mana kita bersedia untuk berdiri teguh pada iman kita, dan sejauh mana kita telah menerima dan menghayati tawaran Yesus akan kehidupan yang kekal. Inilah iman yang dewasa, yang bersumber dari relasi yang intim dengan Allah.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *