Renungan dari Bacaan Kisah Para Rasul 15:1-2, 22-29 dan Yohanes 14:23-29 “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” – Yohanes 14:26 |
Shalom saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Perpisahan dengan orang yang kita kasihi adalah salah satu pengalaman yang paling menyakitkan. Inilah yang dirasakan para rasul ketika Yesus menyampaikan pesan perpisahan sebelum naik ke Surga. Namun, dalam pesan-Nya, Yesus memberikan janji besar: Ia tidak akan meninggalkan mereka sendirian, melainkan akan mengutus Roh Kudus—Penolong dan Penghibur sejati yang akan menyertai mereka selamanya. Janji ini tidak hanya berlaku bagi para rasul, tetapi juga bagi kita di masa kini.
Dalam Injil Yohanes, Yesus menyampaikan bahwa siapa saja yang mengasihi-Nya akan dijadikan tempat tinggal oleh Allah. Dengan kata lain, hidup orang percaya menjadi kediaman Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Namun hal ini hanya mungkin jika kita hidup dalam kasih—mengasihi Allah dan sesama. Kasih adalah dasar dari relasi kita dengan Allah. Seperti ditegaskan dalam 1 Yohanes 4:8, “Allah adalah kasih,” dan di mana kasih sejati hadir, di situlah Allah berdiam.
Yesus juga menjanjikan bahwa Roh Kudus akan diutus sebagai Penolong. Dalam bahasa Yunani, Roh Kudus disebut Parakleetos, yang berarti seseorang yang dipanggil untuk mendampingi, membela, menguatkan, dan menasehati. Roh Kudus adalah pribadi Allah sendiri yang menyertai kita untuk melanjutkan karya keselamatan Kristus. Roh Kudus memberi kita kehidupan baru melalui pembaptisan, membawa kita pada kekudusan, menguatkan dalam kelemahan, serta memperlengkapi kita dengan karunia dan buah-buah Roh.
Selain itu, Yesus menegaskan bahwa Ia akan datang kembali dan membawa kita ke tempat di mana Ia berada. Ini adalah janji pengharapan yang menguatkan kita di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Kita tidak hidup tanpa arah, melainkan dalam pengharapan akan pertemuan kekal dengan Kristus. Bersama dengan itu, Yesus memberikan damai yang berbeda dari dunia. Damai yang berasal dari-Nya adalah damai sejati—yang tidak tergantung pada situasi, tapi memberi kekuatan dan sukacita meski dalam penderitaan.
Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, kita melihat bagaimana Roh Kudus bekerja di tengah konflik umat awal. Ketika muncul perbedaan pendapat tentang sunat sebagai syarat keselamatan, para rasul dan tua-tua berkumpul dan membicarakannya. Mereka akhirnya berkata, “adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…” (Kis 15:28). Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus terus membimbing Gereja untuk membuat keputusan yang tepat demi kebaikan bersama. Keselamatan bukanlah hasil dari upacara lahiriah, tetapi anugerah Allah bagi mereka yang percaya.
Lalu, apakah Roh Kudus masih bekerja di zaman sekarang yang serba modern ini? Jawabannya jelas: Ya! Roh Kudus tidak pernah berhenti berkarya. Bagi siapa saja yang terbuka kepada-Nya, Roh Kudus akan terus memperbarui hidup mereka. Hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus ditandai dengan relasi yang erat dengan Kristus melalui doa, sabda, refleksi hidup, dan perayaan Ekaristi. Namun, orang yang menutup diri terhadap Roh Kudus sebenarnya sedang menjauh dari sumber kehidupan. Sikap seperti egoisme, legalisme, mengejar kepentingan pribadi, dan mengabaikan ajaran Kristus adalah bentuk penolakan terhadap karya Roh Kudus.
Orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus akan menunjukkan perubahan nyata dalam hidupnya. Ia mencintai kebenaran, hidup dalam kekudusan, dan menjauh dari hal-hal yang palsu dan menyesatkan. Ia juga memiliki keberanian untuk menjalankan kehendak Allah, tidak malu menjadi saksi Kristus, dan setia melayani meski dalam kesibukan. Hatinya dipenuhi firman Tuhan dan hikmat, serta semangat untuk membawa damai, kasih, dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga melalui renungan ini, kita semakin membuka diri terhadap bimbingan Roh Kudus dalam hidup kita. Dengan bantuan-Nya, marilah kita memperdalam iman, memperkuat pengharapan, dan mewujudkan kasih yang nyata bagi sesama. Amin.
Penulis

