Mengikuti Yesus di Jalan yang Sulit ( 30 Juni 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan kitab Kejadian 18:16–33 dan injil Matius 8:18–22:
“Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusiia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20).

Dalam Kejadian 18:16–33,  Abraham membangun hubungan pribadi yang mendalam dengan Allah melalui doa yang tampak seperti tawar menawar. Abraham dengan rendah hati namun berani berbicara kepada Tuhan, memohon agar Sodom tidak dihancurkan demi keberadaan beberapa orang benar. Meskipun bentuknya seperti negosiasi, sesungguhnya itu adalah bentuk doa yang tulus, penuh kasih dan kepedulian terhadap sesama.  Doa bukan hanya soal permohonan, tetapi dialog dengan Allah yang membuka hati untuk lebih memahami dan menerima kehendak-Nya.

Sementara dalam Matius 8:18–22, Yesus menantang mereka yang ingin mengikuti-Nya untuk benar-benar memahami harga dari panggilan itu. Mengikuti Yesus bukanlah hal yang ringan atau hanya soal niat baik, melainkan sebuah komitmen total. Yesus mengingatkan bahwa bahkan Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Sebagai murid, kita diajak untuk berserah penuh, melepaskan kenyamanan pribadi, bahkan kepentingan duniawi, demi hidup yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Tuhan.

Doa yang sejati bukan hanya tentang memohon agar kehendak kita terjadi, tetapi justru membawa kita semakin dekat kepada kehendak Tuhan. Sama seperti Abraham yang perlahan-lahan memahami rencana Tuhan, kita pun melalui doa belajar untuk menjadi lebih peka, lebih terbuka, dan lebih rela menerima jalan Tuhan.

Mengikuti Yesus berarti siap untuk berjalan di jalan yang sempit, dengan komitmen yang penuh dan hati yang berserah. Sehubungan dengan ini doa adalah sarana yang Tuhan berikan agar kita tidak berjalan sendiri. Doa bukan hanya untuk mengungkapkan isi hati, tetapi juga membiarkan Tuhan membentuk hati sesuai kehendak-Nya.

Menjadi murid Kristus berarti terus membangun relasi yang hidup dan dinamis dengan-Nya. Melalui doa, dengan memikul salib, dan melalui kesetiaan dalam mengikuti-Nya setiap hari, kita diundang untuk melaksanakan kehendak Tuhan, bukan dengan takut, tetapi dengan percaya dan berserah penuh.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *