Renungan hari ini dari bacaan Kej. 27: 1-5, 15-29 dan Mat. 9: 14-17. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang kedalam kantong kulit yang lama, karena jika demikian, kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Namun anggur yang baru dituang kedalam kantong yang baru, akan terpeliharalah kedua-duanya. ( 9:17) |
Dalam Mat. 9:14-17 dikisahkan tiga perumpamaan: perumpaan tentang sahabat-sahabat mempelai dan mempelai, perumpamaan tentang menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua dan perumpamaan anggur yang baru tidak dituang kedalam kantong kulit yang lama. Ketiga
perumpamaan tersebut merupakan jawaban Yesus tentang murid-murid yang tidak berpuasa.
Berpuasa merupakan ritual umum yang dilakukan orang Israel pada jaman Perjanjian Lama, Hukum Taurat menentukan bahwa orang Israel wajib melakukan puasa di Hari Raya Perdamaian. (Im. 16:29). Orang Yahudi di jaman Perjanjian Baru melakukan puasa secara rutin dan teratur. Puasa merupakan hal umum yang dilakukan masyarakat Yahudi pada masa Perjanjian Baru. Ada banyak peraturan yang harus ditaati dalam berpuasa. Karenanya ketika murid-murid Yohanes dan orang Farisi melihat
murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti yang mereka lakukan, maka menurut mereka itu adalah hal aneh dana pantas dipertanyakan.
Perumpamaan anggur yang baru tidak dituang kedalam kantong kulit yang lama. (Mat. 9:17). Kantong kulit yang lama di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terbuat dari kantong kulit binatang. Kantong kulit yang lama menunjukkan bahwa kantong tersebut sudah kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku. Alasan dari perumpamaan anggur yang baru tidak dituang kedalam kantong kulit yang lama itu adalah karena anggur yang baru itu akan memberikan tekanan yang besar dan dapat
mengoyak kantong kulit yang lama. Kulit yang lama nanti bisa hancur dan anggur tumpah semua.
Yesus datang sebagai mempelai, membawa kegembiraan dan keselamatan. Anggur baru dan kantong baru merupakan gambaran tentang hukum baru.
Yesus datang membawa hukum baru yaitu cintakasih. Hukum cintakasih mengatasi hukum lama yang banyak membelenggu manusia, termasuk tentang aturan berpuasa.
Keselamatan tidak tergantung dari puasa atau matiraga. Keselamatan adalah anugerah kasih Allah. Dia menghendaki kebahagiaan dan keselamatan manusia. Puasa dan matiraga adalah sarana agar kita, manusia, mendekatkan diri kepada Allah yang telah mengasihi dan menyelamatkan kita. Tidak berarti bahwa kalau tidak puasa tidak masuk surga, tidak perlu juga menilai orang yang tidak puasa adalah orang berdosa, apalagi sampai memaksa orang untuk menutup warung, mengintimidasi, merusak dan mengancam penjual makanan.
Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa yang utama itu bukan puasanya, tetapi, apakah dengan puasa orang bisa lebih mengasihi sesamanya khususnya mereka yang kecil, lemah dan terpinggirkan?
Kalau dihati ada kasih yang diutamakan adalah damai dan keselamatan manusia, bukan keselamatan diri sendiri.
Penulis

