Renungan hari ini dari bacaan Yes. 66:10-14C dan Luk. 10: 1-12.17-20. “Meskipun demikian, janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu tedaftar di surga” (Luk 10:20) |
Panggilan melayani Tuhan tidak terjadi dengan sendirinya. Hal itu bukan kehendak manusia. Panggilan terjadi karena Tuhan menghendakinya. Ia yang memilih dan mengutus tiap orang untuk terlibat dalam karya-Nya.
Semua orang beriman berkehormatan menjadi pewarta Injil. Banyak orang beranggapan bahwa tugas memberitakan kabar baik adalah tugas segolongan orang yang “ahli”. Dalam pengertian bahwa orang-orang tersebut sudah diperlengkapi dengan berbagai pengetahuan dan dididik secara khusus. Buktinya para murid Yesus, yang sebagian besar tidak terpelajar diutus Tuhan untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah. Yang terpenting ketika Tuhan mengutus kira merespon panggilan itu dan jalaninya dengan sukacita.
Setiap orang yang menjadi pengikut-Nya dipanggil-Nya untuk menjadi utusan-Nya (Luk. 10:1). Semua warga gereja yang sungguh beriman adalah umat Allah yang adalah warga Kerajaan Allah. “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (ay 3). Tuhan berkata “pergilah”. Itulah tugas perutusan bagi setiap pelayan-Nya. Apa pun yang akan dihadapinya tetap harus pergi. Tuhan tidak menjanjikan keadaan yang baik-baik saja dalam tugas panggilan-Nya. Tetapi, kita tidak perlu takut sebab sejak semula Tuhan mengingatkan kita untuk bergantung kepada-Nya saja, bukan kepada hal-hal yang biasa manusia andalkan.
Untuk memenuhi panggilan pelayanan, sudah seharusnya seseorang tidak dibebani dengan hal-hal materi (ay. 4), tidak memaksakan keinginan, melainkan hanya fokus pada tugas panggilannya. Seorang pelayan harus melayani sesuai kehendak Tuhan dan bertanggung jawab pada tugas perutusannya.
Ketika Tuhan menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka pergi ke setiap kota dan tempat, Dialah yang memberitahukan dengan siapa mereka bekerja, bagaimana menghadapi situasi pelayanan dan karakter manusia yang beragam, serta bagaimana seharusnya bersikap ketika mengalami penerimaan atau penolakan (ay. 4-11). Perutusan para murid bukan tanpa risiko.
Jika melayani hanya menginginkan tempat yang aman dan nyaman, kehidupan yang terjamin, mendapat penghormatan dan penghargaan, maka janganlah memberi diri menjadi pelayan.
Hal penting lainnya dalam perikop ini selain pemberita Injil dan menyembuhkan orang sakit adalah berita yaitu bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Tugas para pewarta Injil adalah mengajak agar orang menerima kasih karunia Allah, beriman kepada Kristus, bertobat, dan diselamatkan pada waktu Tuhan akan menuai di akhir zaman
Tuhan tidak pernah salah memilih dan mengutus orang bekerja dalam kebun anggur-Nya. Diterima atau ditolak adalah hal biasa. Yang penting setia mewartakan kebenaran dan sedia menerima konsekuensinya.
“tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga ” (bdk. Luk. 10:20). Tuhan Yesus Memberkati.
Penulis

