Renungan hari ini dari bacaan Injil Matius 12:1-8. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” (Matius 12:7) |
Coba kita bayangkan bersama!
Pada suatu pagi hari Minggu yang cerah, kita sedang berjalan menuju gedung gereja, tempat kita beribadah setiap minggu. Di tengah perjalanan, kita melihat seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih sangat kecil, kira-kira berusia kurang dari satu tahun. Ibu tersebut tampak sangat lelah dan kelaparan. Ia meminta-minta dan memohon belas kasihan dari kita. Namun karena terburu-buru, kita berkata, “Maaf ya Bu, saya sedang tergesa-gesa, saya harus sampai di gereja tepat waktu supaya tidak terlambat ikut ibadah,” sambil berlalu meninggalkan ibu dan anak itu tanpa memberikan bantuan apa pun. Sekilas, tindakan kita terlihat benar dan rohani. Tetapi, apakah tindakan itu sungguh-sungguh mencerminkan hati Allah?
Dalam Matius 12:1–8, Yesus dan murid-murid-Nya sedang berjalan melewati ladang gandum pada hari Sabat. Karena lapar, para murid memetik bulir gandum dan memakannya. Tindakan ini segera dikritik oleh orang-orang Farisi karena dianggap melanggar hukum Sabat. Namun Yesus merespons dengan pernyataan yang dalam dan mengejutkan. Ia mengingatkan bagaimana Daud pun pernah makan roti sajian saat ia lapar, dan bahwa para imam pun tetap melayani di Bait Allah pada hari Sabat. Lalu Yesus menyatakan: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Perkataan Yesus ini seperti cahaya yang menyoroti kerumunan orang yang sibuk membela aturan, tetapi melupakan kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun tidak lepas dari kecenderungan yang sama. Kita mungkin menganggap diri kita sangat rohani karena rajin ke gereja, aktif melayani, atau rutin membaca Alkitab. Tetapi ketika melihat orang lain datang dengan pakaian yang sangat sederhana, atau mengikuti gaya ibadah yang berbeda dengan gereja kita, atau memiliki masa lalu yang kelam, kita dengan mudah menutup hati dan berkata dalam hati bahwa orang itu “tidak layak.”
Atau mungkin dalam keluarga, kita menuntut anggota keluarga untuk taat dan hormat, tetapi kita sendiri kaku, mudah marah, dan tidak sabar. Di tempat kerja, kita menuntut kejujuran dari bawahan, tetapi kita sendiri tak segan menyembunyikan kebenaran demi keuntungan pribadi. Inilah bentuk kemunafikan: ketika tampak luar kita terlihat saleh, tetapi hati kita jauh dari belas kasihan dan kebenaran yang sejati.
Yesus tidak menolak aturan. Ia pun tidak menentang ibadah atau disiplin rohani. Namun, Yesus mengkritik keras setiap bentuk kesalehan yang hanya bersifat lahiriah, yang tidak disertai kasih. Kesalehan seperti ini tidak menyelamatkan siapa pun justru menjauhkan orang dari kasih Allah yang seharusnya menjadi inti dari setiap hukum. Yesus mengingatkan bahwa seketat apa pun aturan keagamaan, tidak boleh menghapus esensi kasih dan belas kasihan. Dalam hidup ini, kadang kita terlalu sibuk menjadi “orang benar” sampai lupa menjadi “orang baik.” Kita menilai orang lain berdasarkan penampilan, latar belakang, atau masa lalunya, padahal kita sendiri juga masih dalam proses bertumbuh dan belum sempurna.
Contohnya, seorang rekan kerja datang terlambat karena harus mengurus anaknya yang sakit. Kita mungkin tergoda untuk langsung menghakimi dan menganggapnya tidak profesional. Namun jika kita berhenti sejenak dan mau mendengarkan ceritanya, mungkin kita akan lebih mengerti, dan memilih menunjukkan pengertian daripada sekadar menegakkan aturan.
Renungan ini mengajak kita untuk tidak hanya menjadi orang yang tahu banyak aturan, tetapi menjadi pribadi yang mengenal hati Allah dan kehendak-Nya. Belas kasihan, empati, dan kasih adalah inti dari kehidupan rohani yang sejati. Ketika kita mengutamakan ritual keagamaan dan aktivitas gerejawi, tetapi gagal mengasihi, maka sesungguhnya kita sedang melewatkan pesan utama dari Yesus.
Yesus menutup bagian ini dengan pernyataan yang mengguncang pola pikir religius saat itu: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Artinya, Dialah yang berhak menafsirkan hukum, bukan kita. Dan karena Dia adalah kasih itu sendiri, maka semua aturan harus tunduk kepada kasih, bukan sebaliknya.
Mari kita memeriksa hati kita. Kita mungkin tahu banyak isi Alkitab, aktif dalam pelayanan, bahkan menjadi pengajar firman. Namun, jika kita tidak belajar mengasihi, sesungguhnya kita sedang melayani diri sendiri bukan Tuhan. Yesus datang untuk menunjukkan bahwa hukum Allah itu baik, tetapi tujuannya adalah untuk membawa hidup, kasih, dan kebaikan bukan beban atau penghakiman. Marilah kita belajar memiliki hati yang mengasihi; hati yang tidak hanya taat pada huruf hukum, tetapi juga memahami dan menjalankan roh hukum: kasih kepada Allah dan sesama.
Mari kita belajar seperti Yesus: tegas dalam kebenaran, namun penuh belas kasihan. Dan dalam setiap kesempatan, marilah kita menanggalkan kemunafikan yang halus, lalu menggantikannya dengan iman yang hidup berakar pada kasih dan diwujudkan dalam perbuatan nyata:
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18)
Penulis

