Kasih yang Memulihkan: Menopang yang Rapuh dalam Kristus ( 19 Juli 2025 )

Renungan hari ini dari injil Matius 12: 14-21. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Matius 12:20-21)

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, mari kita merenungkan Injil Matius 12:14-21 hari ini. Bagian ini menyajikan kontras yang mencolok antara permusuhan yang mendalam dari orang-orang Farisi dan respons Yesus yang penuh kasih dan kerendahan hati. Setelah Yesus melakukan mukjizat penyembuhan pada hari Sabat, yang seharusnya menjadi hari sukacita dan pemulihan, reaksi orang-orang Farisi justru dipenuhi dengan kebencian dan rencana jahat. Mereka tidak melihat belas kasihan Allah yang dinyatakan melalui Yesus, melainkan hanya pelanggaran aturan mereka. Hati mereka mengeras hingga bersekongkol untuk membunuh Dia. Namun, Yesus, Sang Anak Domba Allah, mengetahui niat jahat mereka dan memilih untuk menyingkir. Ini bukan karena takut, melainkan karena waktu-Nya belum tiba dan karena Dia tidak datang untuk berkonfrontasi secara fisik, melainkan untuk menggenapi rencana keselamatan Allah melalui jalan kasih dan pengorbanan.

Respons Yesus terhadap ancaman pembunuhan ini sangatlah luar biasa. Dia tidak membalas dengan kemarahan atau kekuatan, melainkan dengan kasih dan pelayanan. Dia menyingkir dari hadapan orang-orang Farisi yang memusuhi-Nya, tetapi Dia tidak menyingkir dari orang banyak yang membutuhkan-Nya. Justru sebaliknya, banyak orang mengikuti Dia, dan Dia menyembuhkan mereka semua. Ini menunjukkan prioritas Yesus: bukan mencari pujian atau menghindari bahaya demi diri-Nya sendiri, melainkan melayani dan memulihkan mereka yang sakit dan menderita. Perintah-Nya agar mereka tidak memberitahukan siapa Dia juga sangat penting. Ini adalah bagian dari “rahasia Mesias” – Yesus tidak ingin identitas-Nya sebagai Mesias disalahpahami sebagai seorang pemimpin politik atau revolusioner yang akan menggulingkan kekuasaan Romawi. Dia ingin orang memahami bahwa Dia adalah Mesias yang menderita, yang datang untuk melayani dan menyelamatkan melalui kerendahan hati dan pengorbanan, bukan melalui kekuasaan duniawi atau sensasi.

Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan mengapa Yesus bertindak demikian, yaitu untuk menggenapi nubuat Nabi Yesaya. Nubuat ini menggambarkan Hamba Tuhan yang dipilih, yang dikasihi, dan yang kepada-Nya jiwa Allah berkenan. Hamba ini akan ditempatkan Roh Allah di atas-Nya dan akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Gambaran tentang Hamba ini sangat kontras dengan gambaran seorang pemimpin yang berkuasa dan berteriak-teriak. “Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.” Ini menekankan sifat-Nya yang lembut, tenang, dan tidak mencari perhatian atau kekuasaan. Lebih jauh lagi, dikatakan bahwa “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Ini adalah gambaran yang sangat indah tentang belas kasihan dan kesabaran Yesus terhadap mereka yang lemah, rapuh, dan hampir putus asa. Dia tidak akan menghancurkan mereka yang sudah hancur, melainkan akan memulihkan dan menguatkan mereka. Dia tidak akan memadamkan harapan yang hampir mati, melainkan akan menyalakannya kembali, sampai keadilan Allah ditegakkan sepenuhnya.

Dari renungan ini, kita diajak untuk meneladani Yesus dalam hidup kita sehari-hari. Di tengah dunia yang seringkali bising, penuh konflik, dan haus kekuasaan, kita dipanggil untuk menunjukkan jalan kasih, kerendahan hati, dan belas kasihan. Bagaimana kita merespons ketika dihadapkan pada permusuhan atau ketidakadilan? Apakah kita membalas dengan kemarahan, ataukah kita memilih jalan kasih dan pelayanan seperti Yesus? Lebih dari itu, kita juga diingatkan untuk melihat dan melayani mereka yang “buluh yang patah terkulai” dan “sumbu yang pudar nyalanya” di sekitar kita – mereka yang lemah, yang putus asa, yang terluka, dan yang kehilangan harapan. Yesus tidak membuang mereka, melainkan memulihkan mereka. Marilah kita menjadi alat di tangan-Nya untuk membawa pemulihan dan harapan bagi sesama, dengan kelembutan dan kesabaran, tanpa mencari pujian atau pengakuan diri.

Pada akhirnya, nubuat Yesaya ditutup dengan janji yang penuh pengharapan: “Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” Ini adalah inti dari Injil. Di tengah segala kesulitan, ancaman, dan kelemahan manusia, harapan kita terletak pada Yesus Kristus. Dialah Hamba yang setia, yang dengan penuh kasih dan kerendahan hati membawa keadilan dan keselamatan bagi semua bangsa. Dia adalah sumber kekuatan bagi yang lemah, cahaya bagi yang dalam kegelapan, dan pemulihan bagi yang hancur. Mari kita menaruh seluruh pengharapan kita kepada-Nya, percaya pada jalan-Nya yang penuh kasih, dan hidup seturut teladan-Nya, membawa terang dan pemulihan bagi dunia di sekitar kita. Biarlah hidup kita menjadi cerminan dari belas kasihan dan kelembutan Hamba Tuhan yang mulia ini.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *