Renungan hari ini dari bacaan Kel. 34:29-35; Mat. 13:44-46 “Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”(Mat. 13:44). |
Dalam Matius 13:44–46, Yesus menggambarkan Kerajaan Surga sebagai harta terpendam dan mutiara yang sangat berharga. Orang yang menemukan harta itu rela menjual seluruh miliknya demi memperoleh harta tersebut. Hal ini bukan sekadar gambaran tentang kekayaan rohani, melainkan ajakan untuk mencari kebenaran yang memerdekakan dan mengubah hidup kita. Mencari Kerajaan Allah berarti mencari kehendak-Nya, kebenaran-Nya, dan hidup yang selaras dengan kasih-Nya. Inilah jalan menuju kesempurnaan, menjadi sempurna seperti Bapa di surga.
Perubahan ini tidak terjadi seketika. Dalam Keluaran 34:29–35, kita melihat bagaimana Musa berubah setelah berjumpa dengan Tuhan. Wajahnya bercahaya karena ia berbicara langsung dengan Allah dan menerima dua loh batu berisi Sepuluh Perintah Allah. Musa tidak hanya membawa hukum, ia membawa perubahan nyata dalam dirinya. Ini menjadi gambaran bahwa semakin kita mengenal Allah melalui firman-Nya, semakin kita diubah: cara berpikir, cara bertindak, dan cara mengasihi menjadi serupa dengan Kristus.
Dalam kehidupan kita, semakin kita mencintai firman Tuhan dan meluangkan waktu untuk merenungkannya, kita pun semakin dipanggil untuk berubah. Allah menjadi semakin penting dalam hidup kita bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam relasi dengan sesama. Kita mulai menyadari bahwa tanda kita mencintai Allah adalah bagaimana kita bersikap kepada orang lain: apakah kita jujur, sabar, murah hati, dan adil?
Mencari Kerajaan Allah bukan sekadar urusan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga soal bagaimana kita hadir sebagai terang dan garam di tengah masyarakat. Seperti Musa yang wajahnya bercahaya, kita menjadikan hidup kita pun memancarkan kasih Allah melalui perkataan, tindakan, dan sikap hati. Seperti pedagang dalam Injil, kita rela “menjual” ego, keinginan duniawi, dan segala yang menghalangi, agar kita bisa sungguh memiliki harta terbesar: Kerajaan Allah sendiri.
Tuhan, ubahlah aku melalui Sabda-Mu. Semakin aku mengenal-Mu, semakin aku mencintai sesama. Jadikan hidupku pantulan kasih dan cahaya-Mu. Amin.
Penulis

