Renungan hari ini dari bacaan Imamat 23:1.4-11.15-16.27.34b-37 dan Matius 13: 54-58. “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di kampung halamannya dan di rumahnya” (Mat. 13:57) |
Sejak meninggalkan tempat asal-Nya, Yesus berkeliling mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat. Ketika kembali ke Nazaret Ia masuk ke rumah ibadat dan mengajar. Ada kebiasaan pada waktu itu, di mana pemimpin rumah ibadat meminta seorang tamu, apalagi seorang yang terkenal untuk menyampaikan pesan-pesan atau nasihat kepada jemaat. Kebiasaan itu diceritakan dalam Kis. 13: 14-16. Peristiwa seperti inilah yang terjadi di rumah ibadat tempat kelahiran Yesus.
Ketika Yesus berbicara, reaksi para pendengar seketika berubah, dari yang awalnya takjub akan pengajaran Yesus (ay. 54), berubah menjadi sikap menolak dan mempertanyakan asal-usul Yesus. Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas? Bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita ? (ay. 55-56). Begitulah reaksi yang umum terjadi. Karena orang mengenal dan mengetahui latar belakang dan asal usul Yesus, muncul ketidak percayaan dan penolakan kepada-Nya.
Menyampaikan kebenaran memang tidak mudah, apalagi kepada mereka yang telah memegang kebenarannya sendiri dan menutup diri. Yesus yang adalah Sang Kebenaran, Mesias yang diutus Allah ditolak oleh dunia hingga masa sekarang.
Semula kisah Yesus ditolak di tempat asal-Nya ini disampaikan oleh penulis Matius untuk menekankan betapa keras hati orang-orang Yahudi. Seandainya mereka mau bersikap jujur, mereka akan mengakui bahwa pesan -pesan yang Yesus sampaikan adalah baik dan menakjubkan. Namun, hati dan budi mereka yang keras dan tertutup, tidak berhasil dibuka dan disentuh oleh Yesus. Lalu, untuk menipu suara hatinya, mereka mencari alasan yang berkaitan dengan asal usul Yesus.
Menanggapi penolakan itu Yesus berkata, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di kampung halamannya dan di rumahnya” (Mat. 13:57). Seorang Nabi adalah orang yang diutus untuk menyampaikan pesan Allah. Yesus datang ke dunia membawa warta keselamatan. Namun, karena ketidakpercayaan, dan hati yang tertutup orang-orang di situ, Yesus tidak mengerjakan mukjizat seperti yang dilakukan di tempat-tempat lain. Mukjizat adalah tindakan Allah yang memberikan berkat-Nya kepada manusia dalam aneka bentuk yang dibutuhkan oleh manusia. Tindakan Allah itu dapat terjadi jika ada keterbukaan hati dan kerinduan dari pihak manusia.
Lewat bacaan Injil ini, kita dapat belajar mengenai cara kita mendengarkan pesan suatu pewartaan. Sikap berpraduga terhadap pembawa pesan dan pesan yang akan disampaikan, dapat menjadi penghalang yang sangat merugikan pertumbuhan iman. Sebaliknya, kalau orang mau membuka hati pada Sabda Allah, pesan yang sederhana sekalipun dapat meneguhkan iman. Dalam sikap mendengarkan itulah Tuhan hadir menyapa kita.
Selanjutnya bagaimana sikap kita kepada Tuhan? Apa yang bisa menghalangi kita untuk melakukan tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Seperti Yesus yang tidak berhenti mewartakan Kerajaan Allah meskipun ada penolakan, kita pun diajak untuk memiliki sikap yang sama. Jangan berhenti mewartakan Kerajaan Allah hanya karena sikap orang-orang yang menolak kita.
Penulis

