Penghalang Ketidakpercayaan ( 1 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Imamat 23:1.4-11.15-16.27.34b-37 dan Matius 13: 54-58.
“Seorang nabi dihormati  di mana-mana, kecuali di kampung halamannya dan di rumahnya” (Mat. 13:57) 

Sejak meninggalkan tempat asal-Nya, Yesus berkeliling mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat.  Ketika kembali ke Nazaret Ia masuk ke rumah ibadat dan mengajar.  Ada kebiasaan pada waktu itu, di mana pemimpin rumah ibadat meminta seorang tamu, apalagi seorang yang terkenal  untuk menyampaikan  pesan-pesan atau  nasihat kepada  jemaat. Kebiasaan itu diceritakan dalam Kis. 13: 14-16.  Peristiwa seperti inilah yang terjadi di rumah ibadat  tempat kelahiran Yesus.

Ketika Yesus  berbicara, reaksi  para pendengar seketika  berubah,  dari yang awalnya takjub  akan pengajaran Yesus (ay. 54),  berubah menjadi sikap menolak dan mempertanyakan asal-usul Yesus.   Bukankah Ia ini  anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas?  Bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita ? (ay. 55-56). Begitulah reaksi yang umum  terjadi. Karena orang  mengenal dan mengetahui  latar belakang dan asal usul Yesus,  muncul ketidak percayaan  dan penolakan kepada-Nya.    

Menyampaikan kebenaran memang tidak mudah, apalagi kepada mereka yang telah memegang kebenarannya  sendiri dan menutup diri. Yesus yang adalah Sang Kebenaran, Mesias yang diutus Allah  ditolak oleh dunia hingga masa sekarang.

Semula kisah Yesus  ditolak di tempat asal-Nya ini  disampaikan oleh penulis Matius untuk menekankan betapa keras  hati  orang-orang Yahudi.  Seandainya  mereka mau bersikap  jujur, mereka akan mengakui  bahwa pesan -pesan yang Yesus sampaikan adalah baik dan menakjubkan.  Namun, hati dan  budi mereka yang keras dan tertutup,  tidak berhasil dibuka dan disentuh oleh Yesus.  Lalu, untuk menipu suara hatinya, mereka mencari alasan yang berkaitan  dengan  asal usul Yesus.

Menanggapi penolakan itu Yesus berkata, “Seorang nabi dihormati  di mana-mana, kecuali di kampung halamannya dan di rumahnya” (Mat. 13:57).  Seorang Nabi adalah orang yang diutus  untuk menyampaikan pesan Allah. Yesus  datang ke dunia  membawa warta keselamatan.  Namun, karena ketidakpercayaan, dan hati yang tertutup orang-orang di situ, Yesus tidak mengerjakan mukjizat seperti yang dilakukan di tempat-tempat lain.   Mukjizat adalah tindakan Allah yang memberikan berkat-Nya  kepada manusia   dalam aneka bentuk yang dibutuhkan oleh manusia. Tindakan Allah itu dapat terjadi jika  ada keterbukaan hati dan kerinduan dari pihak manusia.

Lewat bacaan Injil ini, kita dapat belajar mengenai cara  kita mendengarkan pesan suatu pewartaan. Sikap berpraduga terhadap pembawa pesan dan pesan yang akan disampaikan, dapat menjadi penghalang yang sangat merugikan pertumbuhan iman.  Sebaliknya, kalau  orang mau membuka hati pada Sabda Allah, pesan yang  sederhana sekalipun dapat meneguhkan iman.  Dalam sikap mendengarkan itulah Tuhan hadir menyapa kita.

Selanjutnya bagaimana sikap kita kepada Tuhan? Apa yang bisa menghalangi kita untuk melakukan tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan  kepada kita.  Seperti Yesus yang tidak berhenti mewartakan Kerajaan Allah meskipun ada penolakan, kita pun diajak untuk memiliki sikap yang sama. Jangan berhenti mewartakan Kerajaan Allah hanya karena sikap orang-orang yang menolak kita.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *