Renungan hari ini dari bacaan Kitab Ulangan 10:12-22 dan Injil Matius 17:22-27. “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk” (Ulangan 10:16). |
Di tengah keriuhan hidup kita sehari-hari, di antara daftar tugas yang tak ada habisnya dan tuntutan yang terus bertambah, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: “Sebenarnya, apa sih yang Tuhan inginkan dari hidupku?” Pertanyaan ini bukanlah hal baru. Ribuan tahun lalu, di padang gurun yang luas, Musa berdiri di hadapan bangsa Israel, sebuah generasi baru Israel dan mengajukan pertanyaan yang sama persis: ”Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu” (Ulangan 10:12-13).
Bayangkan seorang anak yang tulus mencintai orang tuanya. Ia tidak taat karena takut hukuman, tetapi karena ia menghormati, mengasihi, dan ingin menyenangkan hati mereka. Itulah inti dari takut akan Tuhan yang Musa maksudkan, bukan ketakutan yang membuat kita gemetar, melainkan kekaguman dan penghormatan mendalam yang melahirkan ketaatan yang tulus. Perintah-perintah Tuhan bukanlah beban, melainkan peta jalan menuju kehidupan yang penuh kebaikan dan kebahagiaan, yang dijamin akan membuat “baik keadaanmu.” Dan yang paling utama, kita harus mengasihi Dia dengan segenap hati dan segenap jiwa. Ini bukan sekadar ritual mingguan di tempat ibadah. Ini tentang bagaimana kita menjalani setiap momen. Ketika kita memilih untuk jujur dalam pekerjaan, memilih untuk memaafkan, atau memilih untuk bersyukur di tengah kesulitan, saat itulah kita sedang mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita. Ini seperti seorang seniman yang mencintai karyanya dengan seluruh jiwanya, setiap goresan kuas adalah ekspresi cintanya, pada lukisan tersebut.
Mengapa kita harus melakukan semua ini? Musa mengingatkan kita di Ulangan 10:14-15: “Sesungguhnya, Tuhan, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati Tuhan terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini.” Bayangkan kita dipilih untuk menerima beasiswa penuh dari sebuah universitas terbaik di dunia, bukan karena kita terpintar atau terkaya, tetapi murni karena kebaikan hati si pemberi beasiswa. Itulah yang Tuhan lakukan untuk kita. Dia, Pemilik alam semesta yang maha agung, memilih kita bukan karena kita layak, melainkan karena kasih-Nya. Ini seharusnya memicu kerendahan hati dan rasa syukur mendalam dalam diri kita. Kita tidak bisa menyombongkan diri, karena semua yang kita miliki adalah anugerah.
Lalu Musa memberikan seruan yang sangat tajam dalam Ulangan 10:16, “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.” Sunat secara fisik adalah tanda perjanjian bagi Israel. Namun, di sini Musa bicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam: sunat Rohani, yaitu, membuang segala kekerasan hati, kesombongan, keegoisan, dan pemberontakan yang ada di dalam diri kita. Ibarat sebuah taman yang subur, kita harus membersihkan gulma-gulma (tumbuhan penggangu) yang menghalangi tanaman indah untuk bertumbuh. Seringkali kita “tegar tengkuk” atau keras kepala. Kita tahu harus memaafkan, tetapi ego kita berkata, “Tidak semudah itu!” “Menyunat hati” berarti dengan sengaja menyerahkan bagian-bagian diri kita yang keras dan memberontak itu, kepada Tuhan, membiarkan kasih-Nya melunakkan dan mengubah kita dari dalam.
Dari sanalah, Musa membawa kita pada tuntutan yang sangat praktis dan relevan hingga hari ini, dalam Ulangan 10:18-19: “yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian. Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” Ini adalah cerminan dari karakter Allah. Dia, yang adalah Allah yang maha adil dan berkuasa, justru peduli pada yang paling lemah dan rentan: anak yatim, janda, dan orang asing. Jika kita ingin sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita harus meniru Dia. Bagaimana? Dengan mengasihi mereka yang terpinggirkan, yang berbeda dari kita, yang mungkin tidak punya suara. Ketika ada tetangga yang kesulitan ekonomi, kita tergerak untuk berbagi. Ketika kita memperlakukan pekerja migran dengan hormat dan kasih sayang; ketika kita membela keadilan bagi mereka yang tertindas. Musa mengingatkan Israel, “karena kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” Pengalaman pahit itu seharusnya menjadi motivasi untuk tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Akhirnya, Musa mengajak kita untuk kembali pada komitmen total kepada Allah: “Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu, kepada-Nya haruslah engkau beribadah dan berpaut, dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu, yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri. Dengan tujuh puluh orang nenek moyangmu pergi ke Mesir, tetapi sekarang ini Tuhan, Allahmu, telah membuat engkau banyak seperti bintang-bintang di langit.” (Ulangan 10:20-22). Ini adalah panggilan untuk komitmen yang tak tergoyahkan. Berpaut kepada Tuhan berarti setia dan bergantung penuh pada-Nya, di saat senang maupun susah. Ia adalah kemuliaan kita, sumber kebanggaan dan identitas kita yang sejati. Lihatlah kembali hidup kita. Bukankah Tuhan telah melakukan perbuatan-perbuatan besar dan dahsyat bagi kita, mengubah keadaan kita dari titik nol menjadi “sebanyak bintang-bintang di langit” dengan berbagai berkat, kesempatan, dan cinta kasih yang kita peroleh dari-Nya?
Ia ingin kita mengasihi Dia dengan segenap hati dan jiwa, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui setiap pilihan dan tindakan kita. Ia ingin kasih itu meluap keluar, menjadikan kita agen kasih dan keadilan-Nya bagi dunia ini, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan. Kasih kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia harus tampak dalam cara kita hidup, bekerja, mencinta, dan berbagi dengan sesama kita. Tuhan tidak menuntut hal yang sulit, Dia hanya meminta kita untuk takut akan Dia, berjalan dalam jalan-Nya, mengasihi dan melayani-Nya dengan sepenuh hati.
Penulis

