Keberanian yang Berasal dari Kerendahan Hati ( 12 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Kitab Ulangan 31:1-8 dan Injil Matius 18:1-14. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8)

Pada akhir hidupnya, Musa menyampaikan kata-kata terakhir yang penuh hikmat dan semangat kepada bangsa Israel. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi bisa memimpin mereka menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki Tanah Perjanjian. Namun, Musa tidak membiarkan bangsa Israel kehilangan harapan. Dengan tegas, ia meyakinkan mereka bahwa Tuhan, Allah mereka, akan berjalan di depan dan menyertai mereka. Janji ini adalah fondasi dari pesan Musa: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar…” (Ulangan 31:6). Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada bangsa Israel secara keseluruhan, tetapi juga secara pribadi kepada Yosua, pemimpin yang baru (Ulangan 31:7-8).

Pesan Musa ini mengajarkan kita tentang pentingnya keyakinan dan keberanian dalam menghadapi perubahan dan tantangan hidup. Ketika kita merasa tidak berdaya, tua, atau tidak mampu lagi, kita diingatkan bahwa Tuhanlah yang memimpin di depan. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Keberanian kita tidak bersumber dari kekuatan pribadi atau kemampuan kita semata, melainkan dari kehadiran-Nya yang menyertai kita. Dengan meletakkan kepercayaan penuh pada Tuhan, kita bisa menghadapi setiap “Sungai Yordan” dalam hidup kita, entah itu tantangan baru, masa transisi, atau ketakutan yang mengancam.

Di sisi lain, Matius 18:1-14 memberikan sudut pandang yang berbeda namun saling melengkapi. Para murid Yesus berdebat tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga, menunjukkan kecenderungan manusia untuk mencari kedudukan dan pengakuan. Yesus menanggapi hal ini dengan memanggil seorang anak kecil dan berkata bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga, seseorang harus bertobat dan menjadi seperti anak kecil. Artinya, kita harus merendahkan diri, memiliki hati yang polos dan sepenuhnya bergantung pada Allah, bukan pada kekuatan atau prestasi kita sendiri. Kerendahan hati seperti anak kecil inilah yang menjadikan seseorang besar di mata Tuhan.

Dengan menggabungkan kedua bacaan ini, kita menemukan perpaduan yang indah antara keberanian dan kerendahan hati. Musa mendorong bangsa Israel untuk menjadi kuat dan berani karena Tuhan menyertai mereka, sementara Yesus mengajar kita bahwa kekuatan sejati di mata Tuhan berasal dari kerendahan hati. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang berani melangkah maju dalam iman (seperti Yosua) tetapi dengan sikap hati yang rendah dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan (seperti anak kecil). Ini adalah kunci untuk tidak hanya memasuki Kerajaan Sorga, tetapi juga untuk menjalani kehidupan yang bermakna di hadapan Tuhan, di mana Dia senantiasa menjaga dan mencari kita yang tersesat, karena tidak seorang pun dari anak-anak-Nya yang Dia inginkan hilang.

Penulis

satu Respon

  1. Luar biasa ɓetapa dahsyat kasih Allah kepada umatnya. Selalu berjalan didepan untuk mengatasi Ancaman, Gangguan,, Hambatan dan Tantangan umatnya dalam menjalani kehidupan di dunia. Menjadikan kita tegar berani. Namun tetap rendah hati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *