Otoritas Kasih dan Kekuatan Doa dalam Persatuan ( 13 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Injil matius 18:15-20. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. (Matius 18:20)

Saudara-saudari yang terkasih, bacaan Injil hari ini dari Matius 18:15-20 memberikan kita petunjuk praktis tentang bagaimana menyelesaikan konflik dan memulihkan hubungan di dalam komunitas iman. Ayat 15-17 mengajarkan sebuah proses yang bertingkat, yang dimulai dari teguran secara pribadi, “di bawah empat mata”. Langkah pertama ini sangat penting karena tujuannya bukanlah untuk menghakimi atau mempermalukan, melainkan untuk mengasihi dan memenangkan kembali saudara kita yang tersesat. Ketika kita mengambil inisiatif untuk berbicara secara pribadi, kita menunjukkan bahwa kita menghargai hubungan tersebut dan ingin melindunginya dari gosip atau perpecahan yang lebih besar. Tujuan utamanya adalah pemulihan, bukan penghukuman. Jika langkah pertama tidak berhasil, barulah kita melibatkan satu atau dua orang saksi sebagai upaya untuk memperkuat nasihat dan memastikan kebenaran. Proses ini mencerminkan kesabaran ilahi dan keinginan untuk memberikan setiap kesempatan bagi pertobatan.

Proses pemulihan ini memiliki konsekuensi spiritual yang mendalam, seperti yang diungkapkan dalam ayat 18: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Frasa “mengikat dan melepaskan” ini sering kali disalahpahami, tetapi dalam konteks ini, hal ini merujuk pada otoritas yang diberikan Kristus kepada gereja. Ketika gereja, dengan penuh kasih dan kesabaran, mengikuti langkah-langkah yang diajarkan-Nya untuk mendisiplin dan memulihkan anggotanya, keputusan yang diambil memiliki bobot spiritual yang sah di hadapan Allah. Tindakan “mengikat” bisa diartikan sebagai menahan dosa atau menghukum mereka yang menolak pertobatan, sementara “melepaskan” adalah tindakan pengampunan dan penerimaan kembali. Otoritas ini bukanlah untuk digunakan dengan sewenang-wenang, melainkan sebagai alat untuk menjaga kekudusan gereja dan menuntun umat kepada pertobatan dan keselamatan yang sejati.

Lebih jauh, bacaan ini mengingatkan kita akan kekuatan kesatuan dan doa bersama. Ayat 19-20 menekankan janji Yesus tentang kehadiran-Nya di tengah-tengah dua atau tiga orang yang berkumpul dalam nama-Nya. Janji ini sering digunakan dalam konteks doa bersama, tetapi dalam konteks Injil ini, ia juga berkaitan erat dengan proses pemulihan di dalam komunitas. Ketika kita berkumpul, entah itu untuk menegur, memulihkan, atau berdoa bersama untuk seorang saudara yang tersesat, Yesus berjanji bahwa Dia ada di tengah-tengah kita, memberkati upaya kita dan membuat doa kita efektif. Kuasa ilahi ini adalah jaminan bahwa kita tidak sendirian dalam melakukan tugas yang sulit ini, dan bahwa setiap upaya untuk menjaga persatuan gereja dan memulihkan hubungan akan disokong oleh kehadiran Kristus sendiri.

Dengan demikian, perikop ini adalah lebih dari sekadar panduan disiplin gereja; ini adalah panggilan untuk membangun komunitas yang hidup berdasarkan kasih, pengampunan, dan kesatuan yang erat. Kita diajak untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kekudusan dan keutuhan tubuh Kristus, dimulai dari hubungan personal yang penuh kasih. Proses yang diajarkan Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati selalu mengutamakan pemulihan dan bukan penghukuman. Marilah kita jadikan renungan ini sebagai pengingat untuk selalu mengedepankan komunikasi yang jujur dan pribadi, untuk percaya pada otoritas ilahi yang diberikan kepada kita, dan untuk selalu mengandalkan kehadiran Kristus yang menguatkan setiap langkah kita dalam mewujudkan kasih-Nya di tengah dunia.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *