Mengampuni Karena Telah Diampuni ( 14 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yosua 3:7-10a; 11: 13-17 dan Matius 18: 21 – 19: 1. “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat. 18: 35).

Suatu hari, seorang anak kalas V SD di Yogyakarta terkejut dan cemas ketika tidak menemukan sepedanya di tempat parkir sekolahnya. Sepeda ini adalah sepeda kesayangannya, sepeda yang selalu ia naiki pulang pergi ke sekolah. Perasaannya tercampur aduk, antara sedih, resah, dan takut akan dimarahi oleh orang tuanya.  Di dalam kepanikan ia terus berusaha menemukan sepedanya. Teman-temannya pun gempar dan banyak dari mereka ikut prihatin dan membantu mencarinya. Setelah berjam-jam usaha pencarian, sungguh tidak terduga, sepeda itu ternyata tergeletak di atas lemari yang tinggi di ruang yang biasa juga dipakai untuk memarkir sepeda. Ia sangat senang tetapi sekaligus jengkel dengan kejadian itu dan menceritakannya kepada orang tuanya.

Keesokan harinya orang tua anak itu menghadap kepala sekolah untuk membicarakan kasus sepeda itu. Ia ingin tahu mengapa sepeda anaknya bisa berada di atas lemari yang tinggi dan meminta agar kasus ini ditindaklanjuti oleh suster kepala sekolah. Setelah mengadakan penyelidikan, akhirnya diketahui bahwa sepeda itu sengaja dipindahkan ke atas lemari itu oleh tiga orang temannya hanya karena iseng.  Atas anjuran suster ketiga temannya  itu pun meminta maaf karena keisengannya telah menyusahkan banyak orang. Anak itu menerima permintaan maaf mereka, sekaligus juga meminta maaf kepada kawan-kawannya karena sempat marah pada mereka. Terjadilah hal yang sangat indah: saling mengaku salah dan saling memaafkan.

Pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang berapa kali ia harus mengampuni mendapat jawaban yang sangat mengejutkan dari Yesus (Mat. 18:21-22). Petrus mengira mengampuni sebanyak tujuh kali sudah hebat, ternyata menurut Yesus masih belum cukup. Ia harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali, yang berarti tak terbatas. Yesus lalu menguatkan nasihatnya itu dengan sebuah perumpamaan tentang raja dan hambanya yang berutang kepadanya.  Raja mengampuni seorang yang berutang kepadanya sebanyak sepuluh ribu talenta, karena orang itu tidak mampu membayarnya. Namun, ketika hamba yang mendapat pengampunan ini keluar dari istana, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang kepadanya seratus dinar. Apa yang dilakukannya terhadap hamba itu sungguh sangat menyakitkan. Ia yang mendapat pengampunan sebanyak sepuluh ribu talenta, yang setara dengan enam puluh juta dinar, bukannya mengampuni hamba itu, melainkan menangkap, mencekiknya, serta memaksanya untuk membayar utang, bahkan akhirnya menjebloskan dia ke dalam penjara karena tak mampu membayar utang.

Mendengar perbuatan hambat itu, tentu saja raja sangat marah. Hamba yang telah menerima belaskasih dan pengampunan yang tidak terbatas dari Allah ternyata tidak mampu mengungkapkan belas kasih dan kemurahan hati kepada sesamanya.  Seharusnya, pengalaman menerima belas kasih Allah harus menjadi motivasi dan kekuatan kepada umat-Nya untuk menunjukkan belas kasih kepada orang lain.

Betapa sering dalam hidup ini kita yang sudah mendapat pengampunan tak terhingga dari Tuhan, tidak tergerak untuk memberi pengampunan serupa kepada sesama kita. Sikap yang demikian ini, bukan saja menyedihkan melainkan juga berakibat fatal. Perhatikan kata-kata raja kepada hamba yang telah diampuni utannya itu: “Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepada-Ku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utanya (Mat. 18:32-34).  Jangan sampai kata-kata serupa disampaikan Allah kepada kita karena kita tidak mau mengampuni dengan segenap hati.  Pada penghakiman terakhir Tuhan tidak akan mengampuni mereka yang hanya mau menerima pengampunan tetapi tidak rela mengampuni sesama yang bersalah terhadapnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *