Ketika Nama Tak Cukup Dikenal ( 24 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Injil Lukas 13:22-30. Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. (Lukas 13:24)

Perjalanan hidup ini seringkali kita bayangkan seperti sebuah jalan lurus, sebuah jalur yang jelas membentang di hadapan kita. Kita berpikir, jika kita sedang melakukan hal-hal yang “benar”, kita taat pada-Nya, rajin beribadah dan bersekutu dengan saudara seiman, aktif dalam pelayanan di gereja dan pelayanan sosial di lingkungan di mana kita tinggal, tidak berbuat jahat, membantu sesama kita yang berkekurangan, maka kita berpikir bahwa pintu keselamatan akan terbuka lebar bagi kita. Kita merasa aman, yakin bahwa kita termasuk dalam kelompok yang akan disambut dengan tangan terbuka. Namun, perikop Lukas 13:22-30 mengajak kita untuk merenung lebih dalam tentang asumsi kita tersebut.

Bayangkan kita sedang antre di sebuah loket yang sangat penting, mungkin loket keberangkatan ke sebuah tempat yang sudah lama kita impikan. Kita melihat orang-orang di depan kita masuk satu per satu. Ada yang kita kenal, ada yang sering kita lihat di gereja atau di lingkungan sosial. Kita bahkan mungkin merasa lebih baik dari beberapa di antara mereka. “Ah, pasti saya juga masuk,” pikir kita, “Saya kan selalu datang ke perkumpulan ini, saya ikut acara itu, saya bahkan pernah mengobrol dengan penyelenggaranya.” Namun, ketika giliran kita tiba, penjaga pintu menatap kita tanpa ekspresi dan berkata, “Aku tidak tahu dari mana kamu berasal.” Kaget? Tentu saja. Kita mungkin protes, “Bukankah kami sudah makan dan minum di hadapan-Mu? Bukankah Engkau mengajar di jalan-jalan kami?” Bukankah kita sudah melakukan “ritual-ritual” yang selama ini kita yakini sebagai tiket masuk?

Inilah inti dari apa yang Yesus coba sampaikan. Keselamatan bukanlah sekadar masalah keanggotaan formal atau ikut berpartisipasi dalam dalam banyak kegiatan keagamaan dan gereja, mungkin juga banyak terlibat dalam berbagai pelayanan sosial. Kita bisa saja setiap minggu duduk di bangku gereja, menyanyikan lagu pujian, bahkan memberikan persembahan. Kita mungkin aktif dalam berbagai pelayanan, hadir di setiap pertemuan kelompok sel pembahasan Kitab Suci, atau ikut setiap kegiatan amal. Namun, jika semua itu kita lakukan tanpa hati yang sungguh-sungguh berubah, tanpa kerinduan untuk mengenal Tuhan secara pribadi dan hidup seturut kehendak-Nya, semua itu bisa menjadi sia-sia di mata-Nya. Kita bisa menjadi seperti seseorang yang berfoto dengan selebriti dan kemudian mengklaim sebagai teman dekatnya, padahal sang selebriti bahkan tidak mengenal dan ingat sama sekali, nama kita tersebut.

Contoh sehari-hari lainnya: Seorang siswa mungkin datang ke sekolah setiap hari, duduk di kelas, dan mencatat semua pelajaran. Dia tidak pernah membolos dan selalu mengerjakan pekerjaan rumahnya yang diberikan dari sekolah. Namun, jika hatinya tidak benar-benar ingin belajar, jika tujuannya hanya untuk lulus tanpa pemahaman yang mendalam, atau bahkan hanya untuk menyenangkan orang tuanya, maka pengetahuannya akan dangkal. Ketika dihadapkan pada ujian yang sebenarnya, dia mungkin gagal. Begitu pula dengan kehidupan rohani. Kita bisa “hadir” secara fisik dalam setiap ibadah, tetapi hati kita jauh dari pada-Nya. Pikiran kita melayang ke pekerjaan, ke masalah pribadi, atau ke rencana liburan. Kita “mendengarkan” firman Tuhan, tetapi tidak membiarkannya meresap dan mengubah hidup kita.

Pintu sempit yang Yesus bicarakan bukanlah tentang kesulitan yang mustahil untuk dilewati. Ini tentang sebuah pilihan sadar untuk hidup yang berbeda, sebuah komitmen total untuk mengikuti Dia, bahkan ketika itu berarti meninggalkan kenyamanan atau popularitas. Ini tentang kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Ini tentang meninggalkan kesombongan dan keinginan untuk selalu terlihat benar di mata orang lain.

Ironisnya, dalam perikop ini, Yesus mengatakan bahwa banyak orang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan, akan datang dan duduk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Allah. Ini adalah mereka yang mungkin selama ini tidak kita duga, mereka yang mungkin tidak terlihat “religius” di mata kita, tetapi hati mereka sungguh-sungguh mencari Tuhan dan hidup dalam kebenaran. Sementara itu, mereka yang merasa menjadi “yang pertama” yang merasa paling pantas, paling saleh, paling berhak, justru bisa menjadi “yang terakhir” atau bahkan tidak masuk sama sekali.

Renungan ini adalah panggilan untuk introspeksi. Bukan untuk menunjuk jari pada orang lain, melainkan untuk memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita benar-benar sedang berjalan di jalan yang sempit itu, ataukah kita hanya berdiri di sampingnya, nyaman dengan ilusi keselamatan yang kita ciptakan sendiri? Pertanyaannya bukanlah “Apakah saya sudah melakukan cukup banyak?” tetapi “Apakah hati saya sepenuhnya milik-Nya?” Sebab pada akhirnya, yang terpenting bukanlah apa yang kita tunjukkan di luar, melainkan siapa kita di hadapan Tuhan yang Mahatahu dan mengenal dengan baik setiap hati dari anak-anak-Nya. Apakah hidup kita selama ini sungguh mencerminkan kerinduan untuk masuk melalui pintu yang sempit itu? Apakah kita hidup dengan integritas, kasih, dan ketulusan dalam hal-hal kecil yang sering terlewat?

Karena akhirnya, seperti yang Yesus katakan, Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (Matius 19:30) Bukan soal posisi, melainkan soal hati. Tuhan melihat jauh melampaui tampilan luar, Ia melihat niat, kesungguhan, dan ketekunan kita hari demi hari.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *