Renungan hari ini dari bacaan : 1Tesalonika 1:2b-5.8b-10; Matius 23:13-22:1 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik” (Mat. 23:15). |
“Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani. Mengapa kita bersandiwara. Mengapa kita bersandiwara?” Itulah sebagian lirik lagu “Panggung Sandiwara” yang dipopulerkan oleh penyanyi rock senior, Ahmad Albar pada era tahun 85-an. Lagu ini menggambarkan dunia sebagai panggung sandiwara, di mana setiap orang memainkan peran mereka. Hal ini sangat relevan dengan kehidupan saat ini, terutama dengan adanya media sosial, di mana orang cenderung menampilkan versi terbaik diri mereka, yang seringkali berbeda dari kenyataannya. Orang berpura-pura menjadi manusia yang baik, sopan, tahu aturan, dll. namun di balik semua itu ternyata jauh panggang dari api.
Dalam Injil hari ini Yesus mengkritik cara hidup orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menjual ayat-ayat untuk mengelabui dan memeras para janda. Mereka mempelajari Kitab Suci tetapi sekaligus menindas dan memeras rakyat. Yesus menyebut mereka sebagai orang munafik. Kata “munafik” yang berasal dari kata Yunani hypokritēs yang berarti mengambil peran, bersandiwara, atau berpura-pura. Kemunafikan orang Farisi disebabkan oleh kebutaan mereka terhadap kesalahan mereka sendiri. Dengan hidup keagamaan mereka, sebenarnya mereka justru lalai dan buta terhadap pekerjaan Tuhan. Mereka menilai kebiasaan manusia secara berlebihan, tetapi mereka sebenarnya tidak menghiraukan tuntutan Allah.
Menurut Yesus sandiwara tersebut menjadi penghalang untuk datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kemunafikan menimbulkan keragu-raguan untuk rakyat kecil yang mau belajar untuk hidup tulus di hadapan Tuhan.
Beberapa cara untuk menghindari sikap munafik antara lain belajar bersikap rendah hati dengan cara menghargai orang lain (Flp. 2:3b-4), menyadari bahwa kemampuan kita terbatas supaya tidak memegahkan diri (1Kor. 3:18-20), dan hidup menurut Roh (Gal. 5:24-25). Sebagai pengikut Kristus, kita harus berhati-hati untuk tidak terjebak dalam menaruh perhatian berlebihan pada penampilan luar, pada ritualisme kosong, melainkan lebih pada hati, ketulusan dan kejujuran. Kegiatan rohani harus menyeluruh dan utuh, artinya berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan: pikiran, perkataan, dan perbuatan (Kol. 3:23). Dia utuh karena merupakan kesatuan ekspresi kasih kita kepada Tuhan (Mat. 22:36-38).
Hal ini sejalan dengan perkataan Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Tesalonika yang menekankan bahwa iman yang sejati harus disertai dengan tindakan dan perubahan hidup sebagai bentuk pertobatan. Paulus memuji iman jemaat Tesalonika yang menjadi teladan bagi orang lain, sebab mereka bertumbuh dalam kasih serta tetap tekun meski menghadapi penganiayaan. Jemaat di Tesalonika dipuji karena mereka tidak munafik melainkan menunjukkan kasih Kristus melalui pelayanan dan pengorbanan bagi sesama.
Bila seseorang dipercaya menjadi imam, katekis, pewarta Injil, atau guru agama, mereka mungkin mungkin mirip dengan orang Farisi zaman now, karena mengajarkan iman. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah “Sabda Allah” sejauh mereka mengajar dengan benar, tulus, rendah hati, dan tidak munafik. Orang yang demikian akan tetap setia melayani meskipun tidak dihargai. Mereka akan berpihak pada suara kebenaran dan bukan suara mayoritas, serta konsisten dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Dalam pewartaannya mereka bukan mewartakan diri sendiri melainkan Kritus, yang melakukan apa yang Ia katakana dan ajarkan.
Kita yang sudah mengenal firman Tuhan, perlu melakukan introspeksi diri terlebih dahulu sebelum mengkritik kesalahan orang lain agar tidak dicap sebagai orang Farisi. Kiranya kita selalu melayani dengan motivasi yang benar dan bukan mencari pujian serta keuntungan diri sendiri.
“Anggaplah dirimu sebagai seorang hina; bersukacitalah dianggap demikian oleh yang lain; jangan pernah meninggikan dirimu sendiri oleh karena anugerah-anugerah Allah, maka engkau akan rendah hati secara sempurna” (St Bonaventura)
Penulis


2 Responses
AMIN. Puji Tuhan,Luar Biasa,Bu. Sangat memberkati dan menguatkan kita semua yang baca. Tetap semangat dan setia melayani Tuhan,Bu. Berkah Dalem!
Luar biasa penulis ibu Lucia sukses terus Bu sangat menginspirasi 🙏🙏