Renungan hari ini dari bacaan 1Tesalonika 2: 1-8; Matius 23 : 23-26 “Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat.23:26). |
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus secara langsung dan tegas menyebut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sebagai orang yang munafik. Kemunafikan adalah sebuah sikap yang menunjukkan kenyataan adanya ketidakjujuran dalam diri seseorang. Boleh dibilang kemunafikan itu bermuka dua, bermulut manis yang penuh kepura-puraan.
Yesus menelanjangi dua macam kemunafikan orang-orang ini. Pertama, mereka melaksanakan aturan ibadah secara rinci, tetapi mengabaikan hakekat ibadah yang sesungguhnya yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari min, adas manis, dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lain(Mat. 23:23).
Kedua, mereka mengkuduskan apa yang lahiriah saja, tetapi hati mereka penuh keserakahan dan kerakusan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggankamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan (Mat. 23:25).
Mereka orang-orang yang hanya bisa berteori dan memakai topeng, orang-orang seperti ini penuh kepalsuan, hanya baik kelihatan mata tetapi busuk dalam hatinya. Bagus casingnya, tetapi tidak bagian dalamnya.
Kecaman Yesus kepada orang Farisi dan ahli Taurat menjadi refleksi bagi kita untuk waspada dan menjadi diri apa adanya bukan ada apanya. Tidak dapat dipungkiri manusia yang hidup di dunia masa kini pun banyak yang bertopeng, sulit menemukan mana yang asli, terutama mereka yang ada dalam dunia politik dan ekonomi global saat ini. Demikian juga dalam gereja, kita juga kerap kali melihat hal-hal yang sama. Bagaimana peran mamon, uang yang berkuasa. Orang yang ber-uang bertopeng pelayanan membangun kekuasaan dan pupolaritas dalam rumah Tuhan. Sering kali tanpa disadari kita pun menjadi orang munafik. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat zaman dahulu, juga masih terjadi pada zaman sekarang ini.
Jadi camkanlah, jangan sampai kita punya mata yang melihat, tetapi buta mata rohani kita. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih (Mat.23:26).
Semoga renungan ini dapat mendorong kita untuk melakukan refleksi diri untuka sungguh waspada, agar kita tidak hanya memiliki mata jasmani yang melihat melainkan juga mata rohani yang baik. Tuhan Yesus memberkati.
Penulis

