| Renungan hari ini dari bacaan Kebijaksanaan Keb 1:1-7); Lukas (17:1-6)“. Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja” (Luk. 17:6). |
Pernahkah kamu merasa sudah berdoa dan berusaha, tapi hasilnya tetap tidak seperti yang kamu harapkan? Kadang dalam hidup, kita merasa Tuhan diam. Tapi, benarkah Ia tidak bekerja?
Memang hidup sering kali tidak berjalan sesuai rencana. Ada waktu di mana kita menghadapi kegagalan, penolakan, atau kehilangan. Semua itu membuat kita bertanya Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Namun, justru di situlah iman diuji bukan di saat semuanya mudah tetapi di saat semuanya sulit. Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (Keb. 1:1–7) mengingatkan kita bahwa Tuhan hadir dalam diri orang yang berhati tulus dan penuh kasih. Ia tidak tinggal di hati yang penuh kejahatan atau kebohongan. Artinya, Tuhan selalu dekat dengan orang yang mencari Dia dengan jujur meski dalam tangis dan kebingungan. Kebijaksanaan sejati adalah kemampuan untuk melihat kehadiran Tuhan di balik hal-hal yang tampak tidak adil. Orang bijak tidak selalu tahu jawaban dari semua pertanyaan hidup tapi ia tahu kepada siapa ia harus percaya.
Dalam hidup ini kita sering ingin cepat keluar dari masalah. Kita ingin doa langsung dijawab, jalan langsung dibuka, dan penderitaan segera berakhir. Namun, Tuhan tidak bekerja dengan cara terburu-buru. Ia bekerja dalam waktu yang sempurna, bahkan lewat hal-hal kecil yang kadang tidak kita sadari. Ketika kita belajar memperlambat langkah dan memperhatikan setiap peristiwa, kita akan menemukan bahwa Tuhan selalu menuntun bahkan di jalan yang kita kira buntu. Ia tidak pernah meninggalkan kita, hanya sering menuntun lewat cara yang kita belum pahami.
Dalam Injil Lukas 17:1–6, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang iman. Ia berkata, “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja.” Kata-kata ini sederhana, tapi dalam. Yesus tidak bicara soal ukuran besarnya melainkan soal kualitas iman yang sejati dan tulus. Biji sesawi adalah biji yang sangat kecil namun ketika ditanam dan dirawat bisa tumbuh menjadi pohon besar. Demikian juga iman kita. Sekecil apa pun jika dipelihara ia akan dapat tumbuh menjadi kekuatan besar yang mengubah hidup. Kadang kita merasa iman kita kecil, doa kita lemah, atau harapan kita mulai hilang. Tapi, Tuhan tidak menilai dari seberapa besar imanmu, melainkan seberapa sungguh kamu mau percaya meski di tengah gelap. Iman tidak berarti kita mengerti segalanya. Iman berarti kita tetap berpegang pada Tuhan bahkan saat kita tidak mengerti apa-apa. Ketika segala sesuatu tampak kacau, iman menuntun kita untuk berkata, “Tuhan, aku tetap percaya Engkau tahu yang terbaik.”
Dalam masa sulit, hati kita mudah goyah. Kita bisa tergoda untuk menyalahkan Tuhan atau orang lain. Tapi, kebijaksanaan mengajar kita untuk tenang, merenung, dan belajar dari setiap peristiwa karena tidak ada yang sia-sia di tangan Tuhan. Tuhan memakai kesulitan untuk memurnikan hati kita. Ia seperti tukang emas yang membakar perak sampai menjadi murni. Kadang panasnya penderitaan membuat kita ingin menyerah, tapi di balik semua itu, Tuhan sedang membentuk hati yang lebih kuat. Bagi remaja, ujian iman bisa muncul dalam bentuk yang sederhana: gagal di sekolah, tidak dipercaya orang tua, atau adanya beban lainya. Tapi, di balik semua itu, Tuhan berkata, “Percayalah, Aku ada bersamamu”.
Banyak orang muda berpikir bahwa iman itu harus mampu melakukan hal besar. Padahal iman yang kecil, tapi nyata, bisa membuat hidup berubah. Seperti biji sesawi, kecil tapi hidup, tumbuh perlahan tapi pasti. Kadang iman tidak mengubah keadaan, tapi iman mengubah cara kita melihat keadaan. Masalah tetap ada, tapi hati menjadi lebih kuat. Luka tetap terasa, tapi kita tahu Tuhan sedang menuntun langkah kita. Iman sekecil biji sesawi pun bisa memindahkan gunung bukan gunung batu, tapi gunung kekhawatiran, ketakutan, dan keputusasaan yang ada di hati kita. Tuhan ingin kita percaya bahwa bersama-Nya, tidak ada yang mustahil. Dalam masa sulit, jangan lari dari Tuhan, tapi larilah kepada-Nya. Dalam doa, kita tidak selalu mendapat jawaban cepat, tapi kita selalu mendapat kekuatan untuk melangkah lagi.
Bacaan Kebijaksanaan menegaskan bahwa roh Tuhan memenuhi semesta. Artinya, tidak ada tempat di mana Tuhan tidak hadir. Bahkan di titik paling gelap hidupmu, Tuhan tetap bekerja. Ia hadir dalam diam, dalam sabar, dan dalam cinta yang setia. Kadang iman berarti tetap berjalan walau tidak melihat jalan. Seperti orang buta yang percaya kepada suara pemandunya, kita belajar mempercayai suara Tuhan di hati yang membisikkan. Tenanglah Aku bersamamu. Orang yang bijaksana tidak menyerah hanya karena keadaan sulit. Ia tahu bahwa badai tidak berlangsung selamanya. Setelah hujan turun, pelangi akan muncul. Setelah air mata, sukacita akan datang.
Dalam perjalanan hidup iman tidak selalu membuat kita terhindar dari masalah. Tapi, iman membuat kita mampu melewati masalah dengan hati yang teguh, dengan kepala tegak dan dengan harapan yang tidak padam. Maka saudara-saudari jika hari ini kamu merasa kehilangan semangat, jangan menyerah. Ingatlah bahwa Tuhan tidak tidur. Ia bekerja dalam diam, dan Ia sedang menumbuhkan imanmu perlahan-lahan, seperti biji sesawi yang bertumbuh dalam tanah. Saat sulit bukanlah tanda Tuhan meninggalkanmu, melainkan saat di mana Tuhan mengundangmu untuk lebih dekat dengan-Nya. Di sanalah imanmu tumbuh, di sanalah kasihmu dimurnikan, dan di sanalah kamu belajar menyerahkan segalanya.

satu Respon
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you. https://www.binance.com/es-MX/register?ref=GJY4VW8W