| Renungan hari ini dari bacaan 2Makabe 6:18–31; Lukas 19:1–10. “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk. 19:8). |
Kedua kisah, yakni Eleazar dalam 2Makabe 6:18–31 dan Zakheus dalam Lukas 19:1–10, menyingkapkan satu kebenaran yang sama bahwa kasih karunia Tuhan selalu tersedia bagi semua orang, baik bagi pendosa yang sedang mencari jalan pulang seperti Zakheus, maupun bagi orang benar yang tetap setia seperti Eleazar. Kasih karunia itu bukan hanya memanggil orang yang jatuh untuk bangkit, tetapi juga menguatkan orang yang bertahan dalam kesetiaan.
Dalam Zakheus kita melihat kasih yang memulihkan. Dalam Eleazar kita melihat kasih yang meneguhkan. Keduanya memberikan teladan bahwa hidup manusia, apa pun latar belakangnya, dapat menjadi cermin bagi orang lain untuk melihat Tuhan. Zakheus, yang selama ini hidup dalam ketamakan dan ketidakadilan, berubah total ketika Yesus memandangnya dengan kasih. Pertobatannya bukan sekadar perasaan, tetapi diwujudkan dalam kemurahan hati yaitu membagi harta dan mengembalikan apa yang telah ia salah gunakan. Hidup barunya menjadi kesaksian bahwa belas kasih Tuhan mampu mengubah hati yang paling keras sekalipun.
Sebaliknya, Eleazar menjadi contoh tentang kesetiaan dan kekudusan. Pada usia yang lanjut, ia menolak kompromi yang tampak sepele tetapi dapat merusak kesaksiannya di hadapan generasi muda. Ia lebih memilih kehilangan nyawa daripada kehilangan integritasnya di hadapan Tuhan. Eleazar menunjukkan bahwa ketika seseorang setia pada perjanjian dengan Tuhan, hidupnya sendiri menjadi pewartaan yang kuat, bahkan tanpa kata-kata panjang. Kesaksiannya bukan hanya tentang ketaatan, tetapi tentang kasih yang matang dan teguh kepada Allah.
Dari dua kisah ini, saya diingatkan bahwa setiap orang dipanggil menjadi saksi Tuhan, bukan karena kehebatan diri, melainkan karena kasih karunia-Nya. Zakheus bersaksi melalui pertobatan dan kemurahan hatinya. Eleazar bersaksi melalui keteguhan dalam kekudusan. Kita pun dipanggil untuk membuka hati terhadap karya Roh Kudus, sehingga hidup kita, lemah ataupun kuat, penuh perjuangan atau penuh kesetiaan, dapat memantulkan wajah Tuhan kepada sesama.
Menjadi saksi Tuhan bukan terutama soal melakukan hal-hal besar, tetapi membiarkan kasih karunia-Nya bekerja dalam diri kita. Ketika kita jatuh, kasih itu mengangkat. Ketika kita lelah mempertahankan kebaikan, kasih itu menguatkan. Pada akhirnya, Tuhan ingin memakai setiap bagian hidup kita, pertobatan kita, kesetiaan kita, perjuangan kita, untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia.
Tuhan ajarilah aku supaya seperti Zakheus dan Eleazar, bersedia dibentuk dan dipakai oleh-Nya.

satu Respon
益群网:终身分红,逆向推荐,不拉下线,也有钱赚!尖端资源,价值百万,一网打尽,瞬间拥有!多重收益,五五倍增,八级提成,后劲无穷!网址:1199.pw