Tuhan tidak Melihat Keindahan Luar tetapi Pertobatan di Hati ( 25 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Daniel 2:31-45; Lukas 21:5-11. “Adapun apa yang kamu lihat di situ, akan datang waktunya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (Luk. 21:6).

Mungkin sebagian dari kita yang pernah berziarah ke Yerusalem tidak asing lagi dengan tembok ratapan, sisa dari Bait Suci Kedua yang dibangun oleh Raja Herodes. Tembok ini dianggap suci dan menjadi tempat ibadah paling penting bagi umat Yahudi untuk berdoa, meratap, dan menyisipkan doa-doa tertulis di celah-celahnya. Dalam tradisi Islam, tembok ini juga dikenal sebagai Tembok Buraq. Bagi orang Yahudi Tembok Ratapan merupakan tempat yang sangat sakral karena letaknya dekat dengan Ruang Maha Kudus dari Bait Suci yang telah hancur.

Dihancurkannya Bait Suci ini pada tahun 70 Masehi oleh tentara Romawi yang dipimpin Jenderal Titus, yang menyisakan hanya tembok ratapan, dipandang sebagai pemenuhan nubuat Yesus tentang hancurnya Bait Suci yang disebutkan dalam Injil hari ini.

Dengan nubuat itu, Yesus menunjukkan bahwa Tuhan tidak melihat keindahan bangunan yang tampak dari luar, begitu juga dengan keindahan manusia. Tuhan mencari keindahan di dalam diri manusia. Dari hati manusia terpancarlah keindahan yang sesungguhnya, dan itulah yang dicari Tuhan. Bagi Tuhan yang utama bukanlah kecantikan, ketampanan, dan kekayaan. Memang semua itu indah dan berguna. Namun, jika semua itu tidak disertai dengan pertobatan, dan keterbukaan hati kepada rahmat Tuhan, semuanya itu tidak menjamin keselamatan kekal. Tuhan ingin kita fokus pada hal yang abadi karena hal-hal duniawi seperti kemegahan dan kekayaan Bait Allah akan binasa. Yang terpenting adalah membangun kehidupan yang kekal melalui perbuatan baik, saling mengasihi, dan iman yang kokoh.

Nubuat Yesus tentang kehancuran Bait Allah dan kota Yerusalem tersebut memberi pengertian kepada kita bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Meski semegah apa pun suatu bangunan berdiri atau semelimpah apa pun harta yang dimiliki seseorang di dunia ini, semuanya akan hancur. Tidak terkecuali dengan tubuh kita sendiri yang hari ini masih bisa berdiri tegak namun suatu saat akan terbaring kaku dan membusuk di tanah. Hal itu hendak menunjukkan bahwa segala peristiwa yang ada di dunia ini sifatnya sementara. Akan tiba saatnya semuanya akan binasa dan hancur.

Hal ini sejalan dengan bacaan kedua yang diambil dari kitab Daniel.  Dikatakan bahwa melalui mimpi Raja Nebukadnezar, Daniel menjelaskan bahwa kerajaan-kerajaan duniawi akan datang dan pergi. Kerajaan duniawi, seperti yang diwujudkan dalam patung yang dibuat sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat, akan memiliki sifat yang sebagian kuat dan sebagian rapuh.  Demikian, kedua bacaan hari ini menekankan bahwa kemegahan dan kekuasaan duniawi bersifat sementara dan hanya Kerajaan Allah yang akan bertahan selamanya. Oleh karena itu, umat Kristen diajak untuk membangun hidup bukan pada hal-hal yang akan musnah, tetapi pada nilai-nilai Kerajaan Allah yang abadi. 

Kita harus membangun sikap bijaksana terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Jangan terbuai dengan kemewahan harta. Jangan pula menaruh sikap kagum yang berlebihan terhadap materi di dunia ini. Ingatlah semuanya akan binasa. Saat kita mati, semuanya akan kita tinggalkan di dunia ini dan saat waktunya tiba yaitu akhir zaman semuanya akan binasa.  Namun, hidup di kemudian hari itu sifatnya kekal dan abadi.

Ketika melihat banyak gedung gereja yang megah luar biasa, kita perlu juga bertanya, “Apakah kita sudah memperhatikan pembangunan yang lain?” yaitu pembangunan manusia, pembangunan dalam segala segi kehidupan, baik itu intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual. Jangan sampai kita sibuk membangun gedung dan melupakan pembangunan yang lebih penting, yakni pembangunan jiwa-jiwa. Karena gedung gereja yang megah tidak ada artinya ketika diisi oleh manusia-manusia yang jiwanya kerdil dan tidak berkembang. Pembangunan fisik tetap diperlukan, namun pembangunan manusia lebih penting. Pembangunan iman, kedewasaan, dan spiritualitas menjadi keharusan untuk membentuk pribadi-pribadi yang bermutu.

Yang terpenting bagi kita adalah menjadi Bait Allah yang sejati, yaitu persekutuan umat di mana Allah menjadi pusat hidupnya. Pertanyaannya: pembangunan seperti apa yang sudah kita lakukan selama ini? Maukah kita repot mengusahakan pembangunan pribadi-pribadi, terlebih pribadi-pribadi yang KLMTD dan pribadi muda di dalam Gereja Katolik?

Marilah kita menyadari kerapuhan diri kita dan menyikapinya dengan bertobat, berdoa, selalu bersiap dan berjaga-jaga menyongsong kedatangan Anak Manusia. Agar ketika saatnya tiba, Tuhan melihat pertobatan hati kita yang memancarkan keindahan yang dicari Tuhan.

“Jangan takut untuk mengatakan ‘ya’ kepada Yesus, untuk menemukan sukacitamu dalam melakukan kehendak-Nya, memberikan dirimu sepenuhnya untuk mengejar hidupan Kristiani bukanlah apa-apa selain perjuangan abadi melawan diri sendiri; tidak ada perkembangan jiwa menuju keindahan kesempurnaan kecuali dengan harga penderitaan.” – St. Pio dari Pietrelcina.

Penulis

4 Responses

  1. Hệ thống thanh toán của đăng ký 66b được tích hợp các công nghệ bảo mật hiện đại, đảm bảo rằng mọi giao dịch đều được mã hóa bảo vệ an toàn. Điều này giúp người chơi yên tâm thực hiện giao dịch mà không lo lắng về việc thông tin cá nhân hay tài khoản bị xâm nhập. Với hệ thống thanh toán nhanh chóng, an toàn và tiện lợi, nhà cái đã xây dựng lòng tin cùng sự hài lòng tuyệt đối từ cộng đồng người dùng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *