Yesus Kristus, Sang Juruselamat ( 2 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 11:1-10; Lukas 10:21-24. “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Sebab Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja dahulu ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Luk. 10:23-24).

Sudah sejak lama orang Israel merindukan tampilnya sosok pembebas, juruselamat dari keturunan Daud. Juruselamat ini tokoh yang takut akan Tuhan, yang akan menjalankan pemerintahan dengan adil-bijaksana, menciptakan kemakmuran, keamanan dan kedamaian, serta sanggup melindungi rakyatnya dari para perampok dan dari serbuan kerajaan asing yang berniat merampas tanah kediaman mereka.  Mereka menanti-nanti kemunculan Juruselamat yang telah dinubuatkan oleh para nabi, terutama Nabi Yesaya (lih. Yes. 11:1-2).

Sosok pembebas ini disebut ‘mesias’, artinya ‘yang diurapi’. Dalam tradisi Yahudi, pengurapan dilakukan terhadap raja, nabi, atau imam, sebagai tanda pengudusan Tuhan, atas orang pilihan-Nya. Dalam perkembangannya, muncul beberapa pengharapan sosok mesias. Kaum Zelot mengharapkan ‘raja mesias’ yang akan membebaskan Israel secara politik. Akibatnya, setiap kali ada gerakan perlawanan bersenjata terhadap penguasa Romawi, pemimpinnya diyakini sebagai mesias. Kaum Esseni  mengharapkan dua sosok mesias, yaitu mesias imam dari keturunan Zadok dan mesias prajurit dari keturunan Daud.  

Istilah Yunani untuk ‘mesias’ adalah ‘Christos’, artinya: ‘yang dilantik’. Mesias atau Kristus adalah salah satu gelar yang diberikan kepada Yesus.  Yesus adalah Mesias yang telah dipilih dan dikuduskan oleh Allah untuk mengemban tugas sebagai Juru Selamat bagi umat manusia. Di dalam diri dan melalui Yesus, Allah menyatakan diri dan melaksanakan karya keselamatan-Nya. Yesus adalah ‘Raja Mesias’, di dalam Kerajaan Allah yang bersifat rohani dan menembus segala batas keduniawian. Dalam nama-Nya, orang-orang yang percaya dibebaskan dari segala kekhawatiran, dari belenggu dosa dan ikatan roh-roh jahat.

Dalam Roh Kudus, Yesus Kristus bersukacita menyambut kembalinya tujuh puluh murid yang diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kata-Nya, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Sebab Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja dahulu ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Luk. 10:23-24).

Yesus Kristus adalah pemenuhan janji Allah melalui para nabi, tentang Sang Juruselamat. Yesus adalah mesias nabi, imam, dan raja. Dalam tradisi kuno, bangsawan dan raja sering menggunakan warna ungu, yang pada waktu itu amat sulit dan mahal untuk dihasilkan. Menarik untuk diamati bahwa semasa Adven, Gereja Katolik juga menggunakan unsur warna ungu.  Adven adalah masa persiapan menyambut hari kelahiran Yesus, yang ditetapkan untuk dirayakan setiap tanggal 25 Desember. Dalam masa penantian ini, umat diajak untuk melakukan pertobatan tetapi dalam suasana pengharapan.

Melalui kedua perikop ini, saya diajak untuk merenungkan kembali apa yang saya harapkan sebagai pengikut Kristus. Memang saya masih memiliki pengharapan yang bersifat duniawi, misalkan terbebas dari berbagai konflik, masalah ekonomi, pekerjaan, sakit penyakit, dan sebagainya. Namun, saya juga diingatkan kembali bahwa Kerajaan Allah bersifat rohani. Dengan spiritualitas Kerajaan Allah, saya mengundang Allah ke dalam diri saya, menghayati ajaran-Nya dan bersama-Nya menghadapi segala persoalan. Dengan percaya pada rancangan-Nya, saya dibebaskan dari segala kehawatiran. Semoga saya diberi kekuatan untuk setia dan sukacita di dalam Jalan Keselamatan, Yesus Kristus. Amin.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *