Ditolak dan Kesederhanaan Hidup ( 3 Desember 2025 )

Renungn hari ini dari bacaan 1 Korintus 9:16-19.22-23; Markus 16:15-20 “Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1Kor.9:18).

Malam ini aku ditelepon oleh salah satu teman perempuan di Malang. Dia bekerja probono, menjadi salah satu ketua komisi yang kontroversial di tengah dunia patriarkal (mengutamakan laki-laki). Dia mengunjungi gereja-gereja yang belum merespons upaya penyadaran gender, terutama daerah yang tergolong sulit. Di gereja-gereja itu perempuan memang tampak terlibat dalam kegiatan gerejani, namun posisinya hampir selalu bukanlah pengambil keputusan. Dia mengalami penolakan dari yang merasa dirinya berkuasa untuk menyatakan benar dan salah. Penolakan ini merupakan bagian dari seri penolakan yang dialaminya.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (1Kor. 9:16-19.22-23) menyampaikan pengalamannya mewartakan Kabar Gembira. Pengalaman ditolak sudah merupakan makanan sehari-hari. Bagi Paulus tidak mewartakan Kabar Gembira malah suatu yang buruk (1Kor. 9:16). Paulus menyadari sungguh tugas tanpa bayaran (pro bono) ini merupakan upahnya. Pengalaman ini mengingatkanku pada orang-orang seperti Paulus zaman ini yang hidup dalam kelimpahan harta dan bahkan flexing (memamerkannya) di media sosial sebagai suatu yang wajar. Gaya hidup yang sungguh berlawanan dengan kesederhanaan hidup Yesus, Paulus, dan para Rasul perdana.

Bagian lanjutan surat Paulus ini (1Kor 9:19) mengkritisi gaya pelayanan yang menjadikan diri sebagai Tuan, bukannya hamba bagi semua. Walaupun memang menjadi tuan bukanlah gambaran seluruh pelayan Sabda, namun yang beberapa itu menodai praktisi kesederhanaan pelayan Sabda. 

Bukanlah rahasia lagi banyak pelayan Sabda berpakaian mewah, bergawai termahal, dan makan di restoran khusus dengan perjanjian, yang sekali makan dapat menghidupi sebuah keluarga sederhana selama sebulan. Mendengar kondisi ini dalam percakapan antar teman memang sungguh memerihkan hati. Apalagi di tengah bencana banjir yang berdampak pada hampir 1 juta orang di Sumatera.

Apakah kita bisa memenangkan orang dalam kemewahan hidup atau dalam kesederhanaan hidup? Apakah orang akan tetap menolak dengan contoh hidup sederhana atau malah menerima kemewahan hidup berlimpah? Paulus menuliskan gayanya dalam mendekati (1Kor. 9:22) menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Jurus ini masih aktual dan relevan di zaman sekarang. Gaya hidup seperti ini pernah dicontohkan oleh Paus Fransiskus atau Santa Teresa dari Kalkutta.

Hari ini bacaan Injil (Mrk. 16:15-20) memberikan kita tugas mewartakan Injil kepada segala makhluk. Bukan hanya kepada manusia. Paus Fransiskus almarhum berulang kali mengulang seruannya untuk merawat bumi ini sebagai bagian dari kabar gembira. Banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, serta di beberapa tempat lain di Indonesia akhir-akhir ini merupakan suatu peringatan yang sangat keras. Karena kerakusan para perampok alam, banyak orang kehilangan nyawa, menjadi pengungsi yang tidak mempunyai bahan pangan dan energi, serta selama berhari-hari menderita tanpa dapat dijangkau para penolong.

Peringatan ini menghimbau kita untuk bertindak dengan kemampuan masing-masing. Minimal dengan langkah sederhana masing-masing dari kita menjadikan upaya penyelamatan rumah bersama sebagai tugas yang diemban dengan gembira dan dengan semangat dasar Paulus.

Tanda-tanda sudah jelas, mau tunggu apa lagi?

Tuhan berilah aku nyali mengubah hidupku semakin sederhana dan berani menghadapi penolakan dalam upaya merawat rumah kami bersama.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *