Kata-kata Saleh di balik Tiadanya Iman ( 20 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 7:10-14; Lukas 1:26-38. “Aku tidak mau memintanya, aku tidak mau mencobai TUHAN” (Yes. 7:12).

Raja Ahas, raja Yehuda, berencana meminta bantuan kepada Tiglat Pileser III, Raja Asyur, untuk melawan Rezin, raja Aram yang berkoalisi dengan Pekah, raja Israel. Kedua kerajaan itu bermaksud menggulingkan Ahas dari takhta kerajaan dan menggantinya dengan Tabe’el, mungkin orang Aram. Hal itu mereka lakukan karena Raja Ahas tidak mau berkoalisi dengan mereka untuk melawan kerajaan Asyur yang ingin mengepakkan sayap kekuasaannya di seluruh wilayah Mesopotamia hingga ke Mesir. Penggantian Ahas dengan Tabe’el diharapkan akan memperlancar rencana mereka untuk membangun koalisi tiga kerajaan dalam menghadapi Asyur. Ketika menyaksikan kedua kerajaan itu, kerajaan Aram dan kerajaan Israel, bersiap menyerang kerajaannya, Ahas gemetar ketakutan. Sebab, dalam kalkulasi politiknya ia melihat kekuatan kerajaan Yehuda tidak mungkin mampu mengalahkan kedua kerajaan itu. Itulah sebabnya, ia bermaksud meminta bantuan kepada Asyur.

Nabi Yesaya, di bawah tuntunan ilahi, mencegah Ahas melaksanakan rencananya itu karena akan berakibat fatal. Jika hal itu dilakukan, Yehuda akan berada di bawah kuasa Asyur, dan bukan saja harus membayar upeti melainkan juga membuka peluang masuknya dewa-dewi Asyur ke Yehuda. Yesaya menasihati Ahas untuk percaya kepada Tuhan yang akan memberi dia kemenangan. Kedua kerajaan yang hendak menyerangnya itu hanyalah “dua puntung kayu api berasap” (Yes. 7:4) yang dengan mudah akan bisa ia kalahkan. Namun, Ahas tidak mau mendengarkan nasihat Yesaya. Ia lebih percaya pada kalkulasi politiknya daripada mengandalkan iman yang tidak kasat mata.

Untuk meyakinkan Ahas, bahwa pesan Tuhan itu bisa dipercaya, Yesaya menawarkan Ahas untuk meminta tanda. Namun, Ahas tetap menolak: “Aku tidak mau memintanya, aku tidak mau mencobai TUHAN” (Yes. 7:12). Sepintas jawaban Ahas tampak saleh sekali, seakan ia tidak mau melanggar perintah Tuhan: “Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu” (Ul. 6:16). Namun, di balik kata-kata yang saleh itu, ia sebenarnya menyembunyikan ketidakpercayaannya. Ia tidak berani mengandalkan Tuhan, karena firman-Nya seperti tidak masuk akal. Ia lebih mempercayai dan mengandalkan strategi politiknya daripada iman kepada Tuhan yang tidak bisa dikalkulasi. Ahas lalu memakai kesalehan verbal, mulut yang manis untuk menutupi ketidakpercayaannya. Ia sok saleh tidak mau mencobai Tuhan, padahal Tuhan sendiri yang memerintahkan dia untuk meminta tanda.

Demikian kata-kata yang saleh sering kita pakai sebagai tembok tebal untuk menutupi iman kita yang rapuh. Ketika menghadapi masalah besar, kita berkata, “Semuanya kuserahkan pada rencana dan kehendak Tuhan”. Namun, pada kenyataannya kita sudah menetapkan rencana kita sendiri dan kita tidak ingin rencana Tuhan yang terjadi, karena kita takut gagal. Kita takut Tuhan ikut campur sementara kehendak-Nya bukan saja berbeda dengan kehendak kita, tetapi juga sepertinya tidak masuk akal.

Ahas menolak meminta tanda yang meyakinkan kebenaran firman Tuhan, namun Tuhan tetap memberikan ia tanda. Namun, kesombongan dan keangkuhan hatinya membuat ia tetap tidak pernah bisa melihat dan memahami tanda itu. Tidak pernah disebutkan dalam Perjanjian Lama Ahas mengenali tanda itu, dan tidak ada orang yang bernama Imanuel. Maria dalam Perjanjian Baru, akhirnya memberi kita teladan dalam memahami tanda dari Tuhan. Dalam kesulitan memahami dan menerima kehendak Tuhan, ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Ada saatnya kita dengan rendah hati mengakui bahwa rancangan Tuhan melampaui akal budi dan perhitungan kita. Hal terpenting yang patut kita buat dalam situasi seperti itu: berserah pada Dia, dan mengakui kehinaan kita sebagai hamba-Nya, dan membiarkan Dia bertindak sebagi Tuan kita.

Penulis

10 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *