Ketekunan dan Kesetiaan untuk Berfokus pada Tuhan ( 30 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan 1Yohanes 2:12-17; Lukas 2: 36-40.”Pada saat itu juga ia mendekat dan mengucap syukur kepada Allah. Ia berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan pembebasan untuk Yerusalem (Lukas 2 : 38)

Hana adalah seorang nabi perempuan pada masa kelahiran Yesus yang ditampilkan dalam Injil hari ini, ia sudah sangat lanjut umurnya, dan sudah menjanda sejak usia muda. Mungkin Hana pernah merasa tidak berguna dan melarat, tetapi ia tetap hidup dengan berfokus pada Allah dan setia melayani-Nya. Hana sangat merindukan kedatangan Mesias, dan dalam masa penantiannya ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah. Ia mempersembahkan hidupnya dengan beribadah siang malam,  dengan berpuasa, berdoa, dan mengajarkan kepada orang lain semua yang dipelajarinya dari Allah.

Ketika akhirnya hari yang ditunggu-tunggunya tiba, di usia ke delapan puluh empat, ia melihat sang bayi Mesias di dalam pelukan ibu-Nya yang masih muda. Dia  merasakan sukacita yang luar biasa ketika berjumpa dengan Yesus. Kesabaran Hana dalam menanti akhirnya membuahkan hasil. Hatinya meluap dengan sukacita,  bersyukur dan memperkenalkan Anak itu sebagai  Mesias, yang merupakan anugerah Allah yang membawa pembebasan bagi bangsa Israel. Ia juga memperkenalkan-Nya bukan hanya kepada orang tua Anak itu tetapi juga kepada  semua orang yang menantikan pembebasan itu. Mesias akan memberikan terang bagi kegelapan bangsa Israel. Penantian dan doa dari Hana tidaklah sia-sia. Dalam masa akhir hidupnya, ia  diperkenankan bertemu dengan Mesias yang akan menyelamatkan bangsa Israel. Allah telah memenuhi janji-Nya melampaui harapan semula. Ketekunan dan kesetiaan Hana membuat rahmat Allah tercurah kepadanya dan Allah memberitahunya bahwa Sang Penyelamat telah lahir dalam diri Yesus.

Setiap perjuangan yang diberi rahmat oleh Tuhan tidaklah pernah sia-sia. Pasti keberhasilan akan ada di depan mata, dan kebahagiaanlah yang akan menjadi buahnya. Sesuatu yang diperjuangkan haruslah benar-benar baik, tidak boleh ada niat terselubung untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Motivasi, sarana, tujuan, dan implikasinya harus mengarah kepada kebahagiaan komunal. Semua usaha itu harus selalu menyertakan Tuhan di dalamnya dan semuanya berpusat pada Tuhan. Ketika semuanya terlaksana, kita semua harus mengucapkan syukur pada Tuhan karena karya Tuhan telah bekerja dalam diri kita semua. Rasa syukur itu akan membuahkan suatu kedamaian dalam batin setiap orang dan agar kita makin menyadari bahwa kasih Tuhan tidak pernah meninggalkan kita semua. Dia selalu ada bagi setiap orang yang membuka diri dan mempersilahkan Dia  untuk berkarya dalam diri mereka semua.

Orang yang sungguh-sungguh beriman adalah orang yang tahu tujuan hidupnya dan tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Seorang  beriman adalah seorang yang mempunyai prinsip teguh dalam Tuhan, yang tidak menyerah dan berputus asa , yang selalu bersyukur untuk segala sesuatu yang sudah dianugerahkan Tuhan dalam hidup.

Dalan bacaan pertama (1Yoh. 2:12-17), kita  juga diingatkan untuk jangan mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Sebab, jikalau orang mengasihi dunia, kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Ketika mengasihi dunia, hati kita hanya terpaut pada hal-hal yang ditawarkan dunia dan keinginan duniawi. Kita pun mengikuti  keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup yang semuanya ini tidak berasal dari Bapa melainkan dari dunia. Kasih terhadap dunia inilah yang menghalangi kita untuk mengasihi Bapa dan sesama. Dari sebab itu, jikalau kita tetap ingin menjadi anak-anak Terang, kita harus menjauh dari keinginan duniawi sehingga kita lebih bisa mengasihi Bapa dan sesama dengan sepenuh hati.

Mengasihi sesuai ajaran Tuhan Yesus tidaklah mudah, karena  perlu pengorbanan. Kasih harus dilakukan tanpa pamrih, bukan hanya dengan sekedar menghormati, tetapi juga dengan mengorbankan diri dan menjadi hamba. Selain itu, kasih ini dilakukan bukan hanya kepada teman  atau orang yang kita sayangi melainkan juga kepada musuh dan orang-orang  yang mungkin telah menganiaya serta menyakiti kita. Memang hal ini tidak mudah. Namun, berdoalah kepada Tuhan, mintalah kekuatan dari Tuhan, dan alamilah kasih-Nya, sehingga kita dapat mengasihi sesama kita sebagai anak-anak Terang dengan kasih dari Tuhan. Hidup dalam terang  berarti tidak membiarkan ada rasa benci, namun harus saling mengasihi dan mensyukuri pengampunan dosa.

Dipenghujung tahun 2025 ini, kita diingatkan kembali dan diajak untuk merefleksi hidup kita untuk meneladani ketaatan, ketekunan, dan kesetiaan Hana yang berfokus hanya pada Tuhan dengan selalu setia melayani dan melakukan kehendak- Nya.

“Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1Yohanes 2:17)

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *