Pertanyaan Abadi: Siapakah Allah Bagiku ( 31 Desember 2025 )

renungan hari ini dari bacaan 1Yohanes 2:18-21; Yohanes 1:1-18. “Anak-anak, inilah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar bahwa antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus” (1Yoh.2:18).

Perikop 1Yoh. 2:18-21 menggambarkan konteks mirip zaman ini, mengenai datangnya Antikristus. Datangnya berhala-hala baru yang dengan mudah mendistraksi relasi kita dengan Allah, sesama, dan alam. Berhala itu tiada lain dari keserakahan yang telah merusak alam melalui pertambangan yang tidak kenal batas, perkebunan monokultur, yang dampaknya sedang dirasakan oleh sebagian warga Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Siapakah Allah bagi mereka yang rakus itu? Siapakah Allah bagi kita?

Perikop ini juga memberikan kesadaran bahwa dusta tidak berasal dari kebenaran (1Yoh. 2:21).  Kita sangat akrab dengan berbagai bentuk dusta. Dusta-dusta yang beredar di masyarakat semakin dianggap wajar dan lazim, bahkan oleh mereka yang kita kenal sebagai penjaga kebenaran. Hal ini sungguh menggugat dan menggugah kesadaran tentang siapakah Allah bagi mereka dan bagi kita zaman ini.

Pada bagian kedua ini bayangkanlah situasi di Efesus, tempat Injil Yohanes ditulis, yang berudara sejuk, sekitar 12 derajat Celcius, di bawah patokan AC yang terendah. Pada tahun 100an Msehi, Efesus merupakan salah satu kota terbesar, terpenting, dan paling makmur di kekaisaran Romawi bagian Timur. Kota ini merupakan metropolitan dengan keragaman budaya.  Waktu itu penduduknnnya berkisar antara 200.000 hingga 250.000 jiwa, atau sekitar seperempat jumlah penduduk kota Malang sekarang ini.

Kakek Yohanes berkumpul dengan jemaatnya zaman itu, menceritakan kisah hidupnya, pada malam Tahun Baru. Dalam Sejarah kitab suci, kita tahu Rasul Yohanes adalah satu-satunya murid Yesus yang tidak menikah sampai akhir hidupnya. Mudahlah dibayangkan dalam malam-malam dingin, dengan penghangat ruangan, dia dikelilingi jemaat intinya untuk mendengarkan sharing imannya (Yoh. 1:1-18).

Bila Simeon dan Hana membagikan pengalaman imannya berupa penglihatan yang dilihatnya mengenai Yesus dan masa depannya, Yohanes membagikan ringkasan pengalaman imannya, yang merupakan cikal bakal pengakuan (syahadat) iman kita.

Silakan membaca ulang perikop (Yoh. 1:1-18) dan bayangkanlah kalimat-kalimat itu keluar dari mulut seorang kakek Yohanes. Hadirlah di antara jemaat inti yang mendengarkan dengan takzim. Ada yang sambil berkontemplasi, dan ada yang sambil mencatat – yang catatannya kita baca hari ini.

Rumusan siapa Allah bagi Yohanes ini mewarnai seluruh perjalanan iman para pengikut-Nya sampai hari ini. Masih relevan menjawab pertanyaan siapakah Allah bagiku zaman ini? Apakah bukti dari keyakinan intiku ini dalam hidupku? Bagaimanakah aku bersikap terhadap Allah? Bagaimanakah aku bersikap terhadap sesama? Bagaimanakah aku bersikap terhadap alam?

Apakah ketika saya merampok alam, aku menunjukkan Allah yang kuyakini? Apakah kita saya tidak menghormati martabat manusia sesamaku saya sudah menunjukkan Allah yang kuyakini?

Ada banyak aksi-aksi kemanusiaan saat ini sedang berlangsung. Apakah seluruh aksi-aksi kemanusiaan itu sungguh menunjukkan Allah yang menciptakan manusia yang baik adanya? Atau malah aksi-aksi kemanusiaan itu malah menodai kemanusiaan manusia atas nama aksi kemanusiaan? Apakah seluruh aksi kemanusiaan yang dilaksanakan itu sungguh menunjukkan mutu dan akuntabilitas terhadap keyakinan dasarnya, siapakah Allah?

Apakah aksi-aksi kemanusiaan itu sungguh menjadi terang? Atau malah kegelapan yang menyirnakan seluruh terang yang bahkan masih ada di kalangan warga terdampak?  (bdk. Yoh. 1:5).

Mengikuti dorongan berbuat baik memang bagus dan patut dipuji. Namun, ketahuilah bahwa dalam situasi seperti itu tetap ada predator kemanusiaan? Orang-orang yang tega melencengkan dan menistai kemanusiaan manusia yang berada dalam situasi rentan?

Zaman ini, ada Sphere, Standar Minimum dalam respons kemanusiaan yang dipakai di seluruh dunia menjadi rujukan mutu dan akuntabilitas kemanusiaan. Ini buah refleksi mendalam para praktisi kemanusiaan sedunia. Di Sphere ini kita dapat menemukan siapakah Allah bagi para praktisi kemanusiaan, yang sungguh menghormati martabat manusia semua orang, terutama mereka yang sedang terdampak bencana dan konflik, menghargai hak atas bantuan, dan hak atas perlindungan semua warga terdampak bencana dan konflik siapa pun dia, entah apa ras, suku, agama, warga negara, atau keyakinan politiknya.

Kesaksian kita mengenai Allah yang kita yakini dan kita percayai mengenal standar minimum. Tindakan-tindakan utama itu menjadi terang, kesaksian, dan terukur. Tindakan itu bukan lagi suatu gagasan yang bagus saja tetapi tidak terukur.

Kasih karunia yang kita terima sudah saatnya kita salurkan kepada saudara kita yang terdampak bencana, bukan lagi sebagai wacana, melainkan beragam aksi (bdk. Yoh. 1:16). Kasih itu bukan hanya memberikan air, pangan, hunian, layanan kesehatan, melainkan bisa juga dengan berjejaring dengan semua orang berkehendak baik untuk memulihkan kondisi yang rusak, melalui kebijakan, program, dan praktik-praktik baik yang menghormati martabat manusia, memastikan setiap orang mendapatkan bantuan dan perlindungan.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *