Allah yang Menyapa Orang Asing ( 4 Januari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 60:1-6; Matius 2:1-12. Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem (Mat. 2:1).

Ketika kita membaca kisah kelahiran Yesus, sering kali perhatian kita tertuju pada Maria, Yusuf, dan para gembala. Namun, Matius sengaja menghadirkan tokoh yang tidak biasa, yaitu “orang-orang majus dari Timur”.

Menurut sejarawan Yunani kuno, Herodotus (abad ke-5 SM), para Majus adalah salah satu dari enam suku bangsa Medes (Media) di wilayah Persia kuno (sekarang Iran). Suku Majus awalnya bertugas sebagai imam bagi bangsa Media, dalam agama Zoroaster. Mungkin mereka ibarat suku Lewi yang bertugas sebagai imam bagi bangsa Israel, atau seperti kasta pendeta dalam agama Hindu. Dalam perkembangannya kemudian, Majus menjadi sebutan bagi para elit kasta intelektual, yaitu orang-orang bijaksana penasihat raja, dan para ahli ilmuwan yang mampu memahami ilmu perbintangan (astrologi) dan memahami tanda-tanda alam dalam dunia kuno.

Mereka bukan orang Yahudi. Mereka bukan bagian dari umat perjanjian. Bahkan secara religius, mereka datang dari tradisi yang berbeda. Namun, justru merekalah yang dengan tulus datang dan mencari Raja Orang Yahudi.  Mereka menempuh perjalanan jauh dari Timur, ribuan kilometer, dengan medan yang berat dan transportasi yang terbatas di zaman itu. Mereka menempuh perjalanan yang sulit di padang pasir, dan dengan resiko bahaya dari para perampok, dan binatang buas

Orang-orang Majus tidak mengenal nubuat para nabi, tetapi menelaah tanda di langit. Mereka tidak membaca Taurat, tapi membaca pergerakan bintang-bintang dan planet-planet. Namun, Allah tidak menolak mereka karena mereka tidak memahami Taurat. Sebaliknya, Allah menyapa mereka menurut bahasa dan tradisi yang mereka pahami. Ini menunjukkan bahwa Allah sanggup menjangkau manusia dari titik awal mereka masing-masing. Kasih Allah tidak menunggu seseorang “cukup benar” atau “cukup rohani” atau bahkan “harus memahami ajaran” menurut standar tertentu.

Ini bukan kebetulan. Sejak awal dalam nubuat para nabi di PL, Allah sudah memperlihatkan bahwa kasih dan rencana keselamatan-Nya tidak eksklusif, tidak dibatasi oleh suku, bangsa, agama atau latar belakang rohani.

Menariknya, ketika orang-orang Majus tiba di Yerusalem, justru para ahli Taurat dan imam-imam kepala, orang-orang yang paling mengerti Kitab Suci, tidak pergi mencari Yesus. Mereka tahu lokasi Mesias, dari nubuat para nabi, tetapi tidak bergerak sama sekali. Sementara orang-orang asing itu, dengan segala keterbatasan pemahaman mereka, bersukacita besar ketika akhirnya bertemu dengan Sang Raja (Mat. 2:10).

Di hadapan bayi Yesus, orang-orang majus datang dan bersujud dengan hormat. Mereka membawa emas, kemenyan, dan mur. Tiga jenis hadiah ini memiliki nilai yang sama berharganya di zaman itu, dan merupakan hadiah yang melambangkan ungkapan hormat yang sewajarnya kepada seorang raja di zaman itu. Alkitab tidak menceritakan bahwa mereka mengubah keyakinan mereka menjadi penganut Kristen (agama yang baru ada puluhan bahkan seratus tahun kemudian), mereka juga tidak memahami sepenuhnya siapa Yesus itu. Mereka datang dari dunia dan budaya, dan latar belakang iman yang sama sekali berbeda.

Orang-orang majus tidak memiliki pengetahuan Kitab Suci seperti para ahli Taurat. Mereka hanya menanggapi terang yang mereka lihat, lalu mereka berjalan setia mengikuti terang itu. Namun, Allah tidak menolak langkah mereka. Justru sebaliknya, Allah menuntun mereka dengan bahasa yang mereka pahami, yaitu melalui bintang di langit. Ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak hanya berbicara dengan satu bahasa iman saja. Allah mendatangi manusia dari arah yang beragam, dari pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Lebih dari sekadar simbol, kehadiran para majus memiliki peran yang sangat nyata. Hadiah yang mereka bawa menjadi bekal penting bagi Maria dan Yusuf. Tidak lama setelah kunjungan itu, keluarga kudus ini harus melarikan diri ke Mesir untuk menyelamatkan nyawa sang Anak. Tanpa kita sadari, Allah memakai orang-orang asing, yang berbeda iman dan budaya, untuk memelihara dan melindungi para kekasih-Nya pada saat yang genting.

Kasih Allah tidak hanya bekerja melalui mukjizat besar, melalui para nabi dan rasul; tetapi juga melalui tindakan yang tulus dari orang-orang yang tidak diperhitungkan. Para Majus tidak menyadari seluruh dampaknya perbuatannya akan menjadi bagian dari rantai perlindungan Allah semesta alam atas kehidupan sang Mesias. Bahkan dampaknya bagi seluruh umat manusia.

Kisah ini mengajak kita merenung bahwa Allah sering kali memakai orang-orang yang tidak kita duga untuk menghadirkan kasih-Nya, perlindungan-Nya, pemeliharaan-Nya. Kebaikan, perlindungan, dan keselamatan bisa datang melalui tangan siapa saja, bahkan melalui mereka yang berbeda keyakinan, latar belakang, atau cara berpikir dari kita.

Yesus lahir dalam dunia yang rapuh, dan sejak awal hidup-Nya dijaga bukan hanya oleh iman orang-orang terdekat, tetapi juga oleh solidaritas orang-orang asing. Ini menunjukkan bahwa karya Allah dalam kehidupan manusia bersifat universal bukan eksklusif, dan melibatkan banyak pihak.

Kisah ini mengundang kita untuk bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita masih berani percaya bahwa Allah dapat bekerja juga di luar batas-batas yang kita kenal?
Apakah kita bersedia menghormati perjalanan iman orang lain, sebagaimana Allah sanggup berbicara melalui tradisi dan pemahaman para Majus?
Ataukah kita masih angkuh dan menganggap diri sendiri yang paling benar dan menyalahkan orang yang berbeda dengan kita.

Apakah kita seperti para Majus yang dengan tulus dan gigih mencari Sang Raja, meski harus melampaui zona nyaman?
Ataukah kita justru seperti mereka yang merasa “paling tahu,” tetapi “tidak bergerak” menuju hadirat Tuhan?

Kasih Allah tidak mengenal batas etnis, status, atau latar belakang. Kasih Allah yang sejati bukan hanya menerima kita apa adanya, tetapi juga mengutus kita untuk menyambut orang lain sebagaimana Kristus telah menyambut kita.

Semoga kita belajar menjadi pribadi yang lembut, rendah hati, dan terbuka, yang percaya bahwa kasih Allah selalu lebih luas daripada yang dapat dijangkau oleh pikiran kita. Dan seperti perjalanan para Majus yang penuh dengan ketulusan dan perjuangan; semoga hidup kita pun terus bergerak, bertumbuh dan semakin memancarkan kasih Allah ke dalam dunia.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

3 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *