Bertobat Bukan Supaya Tetapi Karena Selamat ( 12 Januari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1Samuel 1:1-8; Markus 1:14-20. “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (1:15).

Yohanes Pembaptis mengakhiri pelayanannya karena terjadi kekerasan terhadap dirinya: Ia ditangkap. Tepat pada saat ia mengakhirinya, Yesus justru memulainya. Namun, kelak Yesus pun mengakhirinya karena terjadi kekerasan atas diri-Nya. Begitulah nasib ironis pelayan Tuhan: mereka menyampaikan kabar gembira, Injil Allah, tetapi yang didapat justru kekerasan. Sebab, kabar gembira itu sebuah anugerah yang ditawarkan kepada manusia. Dia akan menjadi sesuatu yang benar-benar menggembirakan hanya ketika jawaban manusia terhadapnya positif.

Bagaimanakah jawaban yang positif itu? Hal ini cukup jelas dari kata-kata Yesus sendiri: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk. 1:15). Kerajaan Allah, saat Allah meraja sudah dekat. Manusia dituntut untuk menanggapinya dengan sikap yang tepat, yakni bertobat dan percaya kepada Injil.

Bertobat dalam Perjanjian Lama merupakan terjemahan dari kata Ibrani shub, yang berarti kembali, membalikkan arah, atau bergerak mundur. Ketika seseorang melangkah ke depan, pada titik tertentu ia menyadari bahwa ia melangkah di jalan yang salah. Maka ia berhenti, membuat refleksi, memikirkan kembali apa yang telah dibuatnya, menyadari kesalahannya, lalu memutuskan untuk mengubah arah hidupnya: Kembali ke jalan Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan bertobat: suatu keputusan untuk mengubah sikap dan jalan hidup, seperti mengambil jalur U-turn. Namun, Yesus dalam pewartaan-Nya memberi makna baru kepada pertobatan.

Dari isi pokok pewartaan Yesus jelas bahwa tobat bukan lagi langkah mundur melainkan maju, membuat lompatan ke depan untuk memasuki Kerajaan Allah dan meraih keselamatan. Keselamatan sudah diberikan atau lebih tepatnya ditawarkan secara cuma-cuma kepada manusia dan manusia diberi kebebasan untuk menerima atau menolaknya. Dalam Yesus, tidak berlaku lagi prinsip: “bertobatlah supaya selamat”, seakan-akan keselamatan itu merupakan buah atau upah pertobatan, melainkan “bertobatlah karena selamat”. Engkau telah meraih keselamatan yang diberikan secara gratis. Sebagai jawaban atas pemberian itu bertobatlah. Posisi tobat dan keselamatan berubah: tobat bukan lagi di depan, sebagai syarat untuk keselamatan, melainkan sesudahnya. Yesus dengan jelas dan tegas mengatakan: “Kerajaan Allah sudah dekat”, setelah itu baru Ia menunjukkan cara menerimanya.

Tobat bukan lagi sikap menolak apa yang pernah dilakukan, berjuang keras melakukan pembalikan hidup, atau bersedih dan melakukan gerakan mundur, melainkan bergembira dan berlangkah maju untuk meraih kebebasan yang sudah diberikan. Konsep bahwa “saya mengubah diri saya dan melakukan perbuatan-perbuatan baik supaya selamat”, kini diubah oleh Yesus menjadi “saya sudah selamat, karena itu saya berbuat baik”. Yang pertama-tama disampaikan adalah anugerah Tuhan berupa kabar gembira tentang Kerajaan Allah sudah dekat, kemudian barulah kewajiban kita: bertobat yang tiada lain adalah percaya atau beriman.

Bertobat dan percaya merupakan pintu masuk ke dalam Kerajaan Allah dan ke dalam keselamatan. Kata “dan” dalam bertobat dan percaya mungkin suatu hendiyads, dua kata untuk menunjukkan hal yang sama. Bertobat adalah beriman. Jika iman begitu penting, iman macam apa yang dimaksud di sini, iman yang sama dengan bertobat?

Iman berarti berani melakukan tindakan penuh keberanian untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah. Iman seperti ini telah ditunjukkan oleh seorang ayah yang menyaksikan ketiga anaknya sakit parah. Istrinya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seperti binatang terluka, ia hanya termangu dan menatap kosong. Namun, si ayah berani bertindak lain: ia melompat jauh dari sikap putus asa. Dengan penuh kepasrahan dan harapan ia membawa anaknya ke hadapan Maria dan berkata, “Lihatlah Bunda, aku menyerahkan mereka kepadamu. Aku melarikan diri supaya engkau tidak memintaku mengurusnya lagi. Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Uruslah mereka. Sekarang kaulah yang harus memikirkannya”.

Itulah tindakan yang penuh keberanian. Seperti si ayah itu, kita pun memiliki “anak-anak yang sakit”, yakni dosa-dosa kita. Mampukan kita melakukan tindakan berani ini: menyerahkan dosa itu kepada Kristus. Berani berkata kepada-Nya, “Ini dosaku, ambillah. Sekarang dosaku menjadi urusan-Mu. Ambillah dosa-dosaku, dan hancurkan. Aku tidak mau melangkah mundur. Kaulah yang harus memikirkan”. Dengan demikian, kita bisa melangkah maju dengan penuh sukacita, karena yakin bisa memulai hidup baru.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *