| Renungan ini dari injil Mrk 2:23–28. “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” (Mrk 2:27) |
Injil Markus 2:23–28 mengisahkan peristiwa yang tampak sederhana, namun menyimpan kedalaman makna iman yang sangat besar. Yesus dan para murid-Nya berjalan melewati ladang gandum pada hari Sabat. Dalam perjalanan itu, murid-murid memetik bulir gandum untuk dimakan karena mereka lapar. Tindakan ini segera menuai kritik dari orang-orang Farisi yang menilai perbuatan tersebut sebagai pelanggaran hukum Sabat. Hari Sabat, bagi orang Yahudi, adalah hari yang dikuduskan secara istimewa sebagai tanda perjanjian antara Allah dan umat-Nya, hari untuk berhenti dari segala pekerjaan. Namun, melalui peristiwa ini, Injil mengajak pembaca untuk masuk lebih dalam pada pertanyaan mendasar: untuk apa hukum itu diberikan, dan bagaimana kehendak Allah seharusnya dipahami dalam kehidupan konkret manusia.
Keberatan orang-orang Farisi mencerminkan cara beragama yang sangat menekankan ketaatan lahiriah terhadap aturan. Bagi mereka, kesucian hari Sabat dijaga dengan daftar larangan yang ketat, sehingga setiap tindakan yang menyerupai pekerjaan dianggap sebagai pelanggaran. Dalam logika ini, memetik bulir gandum dipandang sebagai aktivitas menuai, meskipun dilakukan sekadar untuk mengatasi rasa lapar. Sikap seperti ini memperlihatkan kecenderungan legalisme, yaitu menempatkan hukum di atas manusia dan mengabaikan situasi nyata yang dihadapi seseorang. Agama kemudian berisiko kehilangan roh kasihnya dan berubah menjadi sistem aturan yang kaku, yang lebih mementingkan ketertiban formal daripada keselamatan dan kesejahteraan manusia.
Yesus menanggapi kritik tersebut dengan mengajak para Farisi kembali pada Kitab Suci, khususnya kisah Daud yang memakan roti sajian ketika ia dan para pengikutnya kelaparan. Secara hukum, tindakan Daud jelas melanggar ketentuan Taurat, karena roti sajian hanya diperuntukkan bagi para imam. Namun, Kitab Suci tidak mengecam tindakan itu, sebab dilakukan demi mempertahankan hidup. Dengan contoh ini, Yesus menegaskan bahwa hukum Allah tidak pernah dimaksudkan untuk mematikan kehidupan manusia. Hukum justru diberikan untuk melindungi dan menumbuhkan kehidupan. Ketika hukum diterapkan tanpa kebijaksanaan dan belas kasih, hukum itu kehilangan maknanya yang paling hakiki.
Pernyataan Yesus, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,” menjadi kunci untuk memahami seluruh perikop ini. Sabat bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana yang dianugerahkan Allah agar manusia mengalami perhentian, pemulihan, dan kebebasan. Sabat mengingatkan manusia bahwa hidup tidak semata-mata ditentukan oleh kerja dan produktivitas, melainkan oleh relasi dengan Allah yang memberi hidup. Ketika Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat, Ia menyatakan otoritas ilahi-Nya untuk menafsirkan hukum secara benar. Dalam diri Yesus, hukum menemukan kepenuhannya, bukan sebagai beban, melainkan sebagai jalan kasih yang membebaskan dan menyelamatkan.
Injil ini menantang setiap orang beriman untuk merefleksikan cara menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari. Kita diajak bertanya dengan jujur: apakah praktik keagamaan yang kita jalani sungguh membawa kehidupan dan pengharapan, atau justru menjadi beban yang memberatkan diri sendiri dan orang lain? Apakah kita lebih sibuk menjaga aturan daripada peka terhadap kebutuhan sesama? Melalui sabda-Nya hari ini, Yesus mengingatkan bahwa inti iman bukanlah ketaatan buta pada hukum, melainkan kesetiaan pada kehendak Allah yang berbelas kasih. Dengan meneladan Yesus, kita dipanggil untuk menghidupi iman yang dewasa, yang mampu menempatkan hukum dalam terang kasih, sehingga iman benar-benar menjadi sumber kehidupan, pembebasan, dan keselamatan bagi manusia.

satu Respon
Terima kasih banyak pak atas pencerahan dan wawasan dalam mengulas Kitab Suci. Saya tunggu sesi selanjutnya. Jika ingin membaca setiap hari, saya bisa lihat atau baca di link yang mana ya Pak?