| Renungan hari ini dari bacaan 1 Samuel 17:32-33.37.40-51; Markus 3 :1-6.“Kemudian kata-Nya kepada mereka,”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya ?” (Mrk. 3:4) |
Agama Yahudi memiliki tradisi yang berlaku di mana hari Sabat adalah hari umat berada di rumah ibadat untuk beribadah kepada Allah. Sebagai orang Yahudi Yesus pun beribadah pada hari Sabat (Mrk. 3:1). Bersama umat Ia mengekspresikan rasa syukur kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta ini. Namun, tidak semua orang berpikiran sama. Sebagian orang memiliki maksud berbeda dengan kedatangannya ke rumah ibadat: bukan untuk beribadah kepada Allah. Mereka adalah orang-orang Farisi, pemimpin agama Yahudi, yang sedang mencari-cari kesalahan Yesus (Mrk. 3:2).
Ketika itu di rumah ibadat ada seorang yang tangannya mati sebelah. Keberadaan orang ini menjadi objek mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu. Dengan demikian mereka mempunyai alasan untuk menyalahkan Yesus dan menghukum-Nya karena melanggar hukum Sabat. Sebab, pada hari Sabat orang tidak boleh menyembuhkan orang sakit, kecuali dalam keadaan sekarat.
Yesus mengetahui apa yang ada di pikiran mereka, maka Ia berkata kepada orang yang tangannya mati sebelah, “ Mari, berdirilah di tengah!” supaya semua orang dapat melihat dia (Mrk. 3:3). Yesus tahu orang ini bukan sedang sakit sekarat, namun Ia tetap akan menyebuhkannya. Kemudian katanya kepada mereka, ”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya ?”(Mrk. 3:4). Tidak ada yang berani menjawab, mereka semua diam.
Yesus jengkel akan kedegilan hati mereka. Dengan marah Ia memandang sekeliling, lalu berkata kepada orang yang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Ia mengulurkan tangannya dan sembuh seketika (Mrk.3:5). Peristiwa itu tidak menyadarkan orang-orang Farisi akan hukum kasih yang seharus sudah mereka pahami. Hati mereka telah mengeras dan spiritualitas mereka telah membeku sehingga mereka rela merencanakan kejahatan bersama orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus (Mrk. 3:6).
Dari perikop ini apa yang dapat kita pelajari? Sering kali perbuatan kasih terhambat karena tradisi atau hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Padahal kasih adalah hukum yang paling utama yang diajarkan Yesus kepada kita.
Bagaimana dengan kehidupan spiritualitas yang kita jalani? Apakah masih ada kasih yang paling utama, atau kita juga terjebak dalam aturan-aturan yang mebuat hati kita beku dan mengeras? Mari kita mohon pertolongan Tuhan, agar Roh Kudus-Nya dicurahkan untuk menjaga hati kita agar tetap mengutamakan perbuatan kasih di atas segala aturan-aturan dan hukum-hukum yang ada.
Tuhan Yesus Memberkati.
