| Renungan hari ini dari bacaan Samuel 1:1-4. 11-12.19.23-27; Markus 3:20-21. Ketika kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras.” (Markus 3:21) |
Pernahkah kita melihat ada seseorang yang dianggap orang gila atau tidak waras? Kira-kira mengapa seseorang bisa dianggap tidak waras? Mungkin seseorang bisa dianggap gila atau tidak waras karena melakukan hal yang tidak masuk akal atau melakukan sesuatu yang tidak lazim.
Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang Yesus dan para murid-Nya yang terus sibuk melayani sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka kaum keluarga-Nya mengira Dia tidak waras lagi. Kata Yunani yang sering diterjemahkan sebagai “tidak waras” atau “gila” bisa juga berarti “keluar” (dari rumah/pikiran) atau “pikiran yang terganggu”, atau mengacu ke kondisi bingung atau pikiran yang tidak stabil. Apakah umat beriman dewasa ini juga menganggap-Nya demikian? Injil Markus mengatakan bahwa Allah kita bukan Allah yang diam, pasif, melainkan Allah yang sibuk melayani dunia.
Karena mengira Yesus gila, keluarga-Nya pun datang untuk mengambil Dia. Baik Injil maupun kitab 2 Samuel menunjukkan bahwa kesedihan dan kesusahan adalah bagian dari pengalaman manusia, termasuk orang-orang yang dekat dengan Tuhan. Keluarga-Nya menilai Yesus “tidak waras”, seperti Daud juga mungkin dianggap “tidak rasional” ketika meratapi kematian orang yang memusuhi dia. Penilaian duniawi sering kali salah memahami kebenaran ilahi.
Yesus, Mesias keturunan Daud, melakukan hal-hal yang terlihat “gila” atau tidak biasa di mata manusia (termasuk keluarga-Nya sendiri) karena Dia membawa Kerajaan Allah yang lebih besar, berlawanan dengan cara pandang duniawi. Kesedihan Daud atas Yonatan dalam bacaan kedua adalah kesedihan mendalam atas ikatan kasih persaudaraan yang putus. Seperti Daud menderita karena kehilangan, Demikian juga Yesus. Ia juga menderita karena kehilangan manusia akibat dosa, dan menderita karena kesalahpahaman. Seorang pemimpin spiritual harus selalu siap menderita karena perbuatan baiknya tidak dimengerti.
Daud adalah tipe, gambaran awal dari Kristus, sang Penebus. Kesedihan Daud mencerminkan kesedihan Yesus yang lebih besar atas dosa manusia, yang akan diselesaikan melalui salib, bukan melalui perang atau takhta duniawi.
Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk hidup sesuai Injil, meskipun hal itu berarti berbeda dari kebiasaan masyarakat atau dianggap aneh. Yesus yang melayani secara total tanpa mengenal lelah dianggap gila. Mungkin begitu juga situasi yang dihadapi pelayan-pelayan Tuhan dewasa ini. Ketika mereka menghabiskan banyak waktu bagi karya pelayanan, mereka dituduh gila, tidak menghargai keluarga, dan sebagainya. Mereka dianggap aneh, karena berani melawan arus kejahatan, seperti mengatakan “tidak” kepada korupsi, atau menolak segala bentuk perbuatan manipulatif. Mereka mendapat tekanan bukan hanya dari orang banyak, tetapi bahkan bisa juga dari keluarganya sendiri yang menghakimi dia secara kejam. Yesus tidak mengundurkan diri karena dianggap gila. Ia berani menghadapinya karena tahu bahwa Ia harus memprioritaskan kehendak Bapa-Nya.
Semua pelayan Tuhan ditantang untuk tidak khawatir dengan penilaian sosial, tetapi lebih pada tidak dilaksanakannya nasihat Injil dan pelayanan kasih.
Pesan Injil hari ini mengingatkan kita akan satu kebenaran yang menyakitkan: keputusan untuk mendedikasikan hidup bagi pelayanan seringkali bukan saja sulit dimengerti melainkan juga disalah mengerti. Sebab, bentuk dan tujuan pelayanan seringkali bertentangan dengan apa yang dikejar dan dianggap berharga oleh dunia.
Pandangan-pandangan yang negatif kiranya tidak menciutkan nyali kita untuk terus mencintai tanpa batas, rela berkorban seperti Kristus. Allah terus sibuk melayani kita sampai saat ini. Sebagai pengikut-Nya, kita pun diminta untuk terus bekerja dan melayani sesama tanpa pamrih, bahkan meskipun hal itu akan membuat kita dianggap “tidak waras”.
Hati yang penuh kasih akan menarik lebih banyak jiwa kepada Allah daripada segala aturan yang keras.“- Santo Fransiskus de Sales.

satu Respon
Salve team Loving the truth khususnya terimakasih Ibu Lucia Widjaja atas renungan yang begitu mendalam penuh makna iman yang kuat sekali,saya menggaris bawahi permenungan ini teristimewa*Semua pelayan Tuhan ditantang untuk tidak khawatir dengan penilaian sosial, tetapi lebih pada tidak dilaksanakannya nasihat Injil dan pelayanan kasih*.Hal ini terlihat mungkin mudah tapi kenyataan nya masih harus terus diperjuangkan bagi setiap insan beriman untuk tidak takut dianggap tidak waras atau dinilai buruk saat melakukan pelayanan yang all out.Sekali lagi terimakasih atas peneguhan ini.Berkah dalem..