| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 8:23b-9:3; Matius 4:12-23.“Bangsa yang tinggal dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar” (Mat. 4:16). |
Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang Yesus yang memulai karya-Nya di daerah Zebulon dan Naftali, dua kota yang disebut Nabi Yesaya sebagai wilayah bangsa-bangsa lain. Sebutan itu menunjukkan bahwa daerah itu adalah wilayah orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan sering disamakan dengan wilayah kegelapan.
Pada awal karya-Nya Yesus menjumpai dan menyapa orang-orang yang berada di wilayah kegelapan itu. Matius melihat kedatangan Yesus wilayah kegelapan itu, terutama Zebulon dan Naftali, merupakan pemenuhan nubuat Nabi Yesaya. Kegelapan menggambarkan keadaan manusia yang tidak mengenal Allah karena dibutakan oleh dosa. Kegelapan adalah keadaan manusia yang penuh kebodohan dan kekerasan, serta terpisah dari persekutuan dengan Allah. Kegelapan dapat pula berarti kematian dan kehancuran. Kata Ibrani tsalmāvet (kegelapan yang pekat) biasanya digunakan untuk melambangkan bayang-bayang kematian dan kehancuran yang melingkupi hati manusia. Kegelapan dalam Yesaya bukan hanya kehampaan, tetapi juga gambaran situasi buruk yang akan diatasi oleh Allah melalui kedatangan Kristus, Sang Terang sejati.
Apabila seseorang mengalami kegelapan spiritual, ia hidup tanpa Tuhan, hidup dalam dosa, ketakutan, dan ketidak-mengertian. Ia terikat pada kuasa jahat dan penghakiman. Dalam pengertian umum hidup dalam kegelapan bisa berarti sedang berada dalam keadaan terpuruk, menemui jalan buntu, sumpek, bingung, lesu, dan loyo. Yesus datang untuk menjadi cahaya bagi orang-orang yang demikian, orang-orang yang terjebak dalam “kegelapan” dosa, ketidaktahuan, dan ketidakpedulian. Kedatangan dan kehadiran-Nya sebagai terang menunjukkan bahwa Allah peduli kepada umat-Nya dan ingin mereka hidup dalam damai dan kasih.
Untuk membawa manusia kepada terang, Yesus pertama-tama mengajak mereka untuk bertobat sebagai cara menyambut Kerajaan Allah. Bertobat mengandaikan suatu perubahan hidup, perubahan dari berpusat pada diri sendiri, dari hanya memikirkan diri sendiri, kepada memikirkan orang lain, bahkan menganggap orang lain lebih utama. Perubahan itulah salah satu isi panggilan para murid. Kepada Simon Petrus dan Andreas, yang berprofesi sebagai penjala ikan, Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat. 4:19). Panggilan untuk menjadi “penjala manusia”, menuntut mereka meninggalkan cara hidup lama, pekerjaan lama yang memberi kenyamanan kepada cara hidup yang baru. Mereka diajak berubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Ketika menjala ikan mereka menjadikan ikan sebagai objek yang ditangkap untuk dimakan atau dijual untuk kepentingan pribadi mereka. Namun, tidak demikian halnya ketika mereka menjala manusia. Mereka tidak bisa menjadikan sesamanya sebagai objek yang ditangkap untuk dimanfaatkan. Sebaliknya, setelah menangkapnya, mereka justru harus terus melayani dan menuntunnya. Mereka bukannya meraih keuntungan, memanfaatkan orang-orang yang ditangkapnya, melainkan justru berkorban untuk mereka seperti apa yang dilakukan Yesus, guru mereka.
Tugas panggilan ini tentu tidak mudah. Namun, sungguh mengejutkan bahwa baik Petrus dan Andreas maupun Yakobus dan Yohanes, dikatakan segera meninggalkan pekerjaan mereka yang lama, jala dan perahu mereka, dan langsung mengikuti Yesus. Mereka bersedia menjadi terang dan membawa orang lain kepada terang. Di balik tugas panggilan yang berat itu ada sukacita yang sulit dijelaskan, yang membuat mereka siap meninggalkan segala-galanya. Apakah kita pernah melihat, mengalami, dan merasakan sukacita itu? Jika belum, saatnya kita membuka telinga dan hati kita, untuk lebih peka mendengar panggilan-Nya.
Lebih baik menerangi orang daripada hanya sekedar bersinar, membawa orang kepada renungan akan kebenaran daripada merenung.” St. Thomas Aquinas.
