| Renungan hari dari bacaan : 2 Timotius 1:1-8; Lukas 10:1-9.“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang puna tuaian, supaya Ia mengirim pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk. 10:2). |
Motivasi adalah suatu dorongan untuk melakukan sesuatu dalam hidup. Setiap orang perlu memiliki motivasi dalam dirinya agar dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Orang yang bersemangat dan memiliki motivasi yang kuat dalam dirinya, akan mampu melalui segala halangan yang dihadapinya. Pengalaman dalam tugas perutusan juga sangat dipengaruhi oleh motivasi dalam diri.
Dalam Injil Lukas kita melihat dua kisah pengutusan. Pertama, Yesus mengutus kedua belas murid yaitu para rasul (Luk. 9:1-6). Kedua,Yesus mengutus tujuh puluh orang murid lain untuk mengambil bagian dalam pemberitaan Injil (Luk. 10:1-12). Mereka harus pergi berdua-dua karena mereka harus memberi kesaksian, dan menurut hukum Taurat kesaksian baru dapat diterima bila disampaikan oleh dua orang (Ul. 19:15). Mereka diutus untuk mendahului Yesus ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya (ay. 1). Yesus akan datang ke tempat itu, dan para murid harus mempersiapkan kedatangan-Nya.
Latar belakang dari perutusan itu adalah panenan yang berlimpah, banyak orang telah datang kepada Yesus. Tuhan Yesus menggambarkan dunia ini sebagai ladang milik Allah yang penuh dengan gandum yang siap dituai, tetapi pekerja untuk menuai sedikit. Banyaknya gandum yang harus dituai tidak seimbang dengan jumpah para pekerja. Karena itu, Yesus meminta para murid untuk berdoa agar Allah mengirimkan banyak pekerja untuk menuai gandum itu. Banyak orang menantikan kabar keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus dan mereka semua harus mendengarnya. Dari sebab itu, diperlukan semakin banyak orang untuk terlibat dalam pemberitaan Injil.
Sebelum mereka pergi, Yesus mengingatkan bahwa mereka diutus seperti anak domba ke tengah-tengah serigala (ay. 3) Tugas perutusan yang mereka terima tidak mudah. Mereka akan menghadapi berbagai tantangan, kesulitan, penolakan, dan bahkan aniaya. Walaupun demikian Yesus melarang mereka membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan dan kasut (ay. 4). Perjalanan mereka jangan sampai berat karena harus memikul bawaan. Mereka harus membawa apa yang penting-penting saja dan meninggalkan apa pun yang dapat mengganggu pelaksanaannya. Mereka tidak perlu khawatir dalam perjalanan, karena Allah menyertai mereka dan menyediakan apa yang mereka perlukan.
Yesus juga melarang mereka memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kedengarannya kurang ramah, tetapi maksudnya di sini adalah agar mereka harus fokus pada tugasnya dan tidak teralihkan oleh hal-hal lain. Selain itu, mereka harus melaksanakannya dengan segera, tidak menunda-nunda atau berleha-leha. Jika memasuki suatu rumah, mereka harus menyampaikan salam terlebih dahulu, “damai sejahtera bagi rumah ini”. Artinya, mereka datang dan masuk ke dalam rumah dengan membawa damai sejahtera dari Allah. Mereka juga diutus untuk menyembuhkan orang-orang sakit yang ada di kota itu dan memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.
Tugas perutusan itu kini diberikan kepada kita. Sebagai murid Yesus kita pun dipanggil untuk menjadi utusan Tuhan, pewarta kabar baik kepada orang-orang terdekat kita. Mungkin tidak banyak di antara kita yang diutus menjadi pewarta atau pengkhotbah, namun seperti kata Santo Fransiskus Asisi: kita harus berkhotbah, kalau perlu tidak dengan kata-kata. Maksudnya, kita dapat berkhotbah mewartakan Kerajaan Allah tidak harus selalu dengan kata-kata, melainkan terutama dengan hidup kita. Semoga dengan melihat cara hidup kita, mendengar kata-kata dan menyaksikan perbuatan dan tingkah laku kita, orang dibawa kepada pengenalan akan Kerajaan Allah: Allah yang meraja dalam hidup ini.
