| Renungan hari ini dari bacaan 2 Samuel 7:18–29; Markus 4:21–25. “Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan” (Mrk. 4:22). |
Pagi itu, seorang pegawai memilih diam ketika melihat kecurangan kecil di kantornya. Ia tahu itu salah, tetapi takut dianggap tidak solid dan khawatir posisinya terancam. Di rumah, ia menasihati anaknya agar selalu jujur dan berani berkata benar. Namun, hidupnya sendiri penuh kompromi. Ia rajin beribadah dan setia mendengar firman, tetapi firman itu berhenti di telinga, tidak pernah sungguh turun ke dalam keputusan hidup. Perlahan hatinya gelisah, sebab terang yang ia miliki justru disembunyikan. Di situlah Sabda Tuhan menyapanya: pelita tidak dinyalakan untuk ditutupi, melainkan untuk dinyatakan.
Dalam perumpamaan tentang pelita, Yesus menegaskan bahwa terang tidak dimaksudkan untuk disimpan sebagai pengetahuan rohani atau simbol kesalehan. Pelita dinyalakan agar menerangi ruang. Demikian pula firman Tuhan: diberikan untuk menerangi hidup konkret, cara kita bekerja, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama. Namun sering kali, terang itu justru kita tutupi. “Gantang” yang menutup pelita kerap berupa rasa takut: takut tidak diterima, takut kehilangan posisi, takut dianggap berlebihan dalam iman. Karena takut, kita memilih aman dan membiarkan kompromi kecil tumbuh diam-diam.
Yesus berkata dengan tegas: “Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan” (Mrk. 4:22).Ini bukan sekadar ancaman, melainkan hukum kehidupan. Apa yang disembunyikan akan muncul pada waktunya. Kebohongan kecil, ketidakjujuran, dan sikap tidak bersih mungkin luput dari mata manusia, tetapi perlahan menggerogoti hati dan merusak relasi. Hidup dalam terang bukan berarti hidup tanpa cacat, melainkan berani jujur di hadapan Tuhan dan bersedia dibentuk.
Karena itu Yesus mengingatkan cara kita mendengar: firman bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dihidupi. Ukuran yang kita pakai, apakah itu belas kasih, kejujuran, atau sebaliknya penghakiman, akan kembali kepada kita. Bila kita menutup diri, terang akan meredup. Namun, bila kita membuka hati dan membiarkan firman bekerja, hidup perlahan dipulihkan.
Sikap hati seperti ini tampak dalam doa Daud. Setelah menerima janji Tuhan, Daud tidak meninggikan diri. Ia duduk di hadapan Tuhan dan berkata, “Siapakah aku ini?” (2Sam. 7:18). Ia mengakui bahwa semuanya adalah anugerah. Daud memohon agar Tuhan meneguhkan firman-Nya dan menggenapi janji-Nya. Terang bukan hanya soal keberanian moral, tetapi juga kerendahan hati rohani, mengakui bahwa hidup kita berdiri di atas rahmat Allah, bukan kehebatan diri.
Pelita apa yang masih kita sembunyikan? Kebenaran apa yang terus kita tunda karena takut? Marilah melangkah kecil namun nyata: satu kejujuran yang harus diucapkan, satu kebiasaan kotor yang harus dihentikan, satu relasi yang perlu dipulihkan, satu keputusan benar yang selama ini ditunda.
Santa Theresia dari Lisieuxmengingatkan, “Kekudusan bukan terletak pada hal-hal besar, melainkan pada kesetiaan dalam perkara-perkara kecil.” Terang Allah sering dinyatakan bukan lewat tindakan heroik, tetapi melalui kejujuran kecil yang setia setiap hari. Datanglah seperti Daud, rendah hati, memohon Tuhan meneguhkan firman-Nya dalam hidup kita. Sebab, ketika terang dinyatakan, Allah setia menepati janji-Nya: Ia membimbing keputusan kita, memulihkan relasi yang retak, dan meneguhkan langkah hidup kita hari demi hari.

6 Responses
Salve, team lovingthetruth khususnya penulis Ibu Rosalia Enny, terimakasih atas peneguhan yang diberikan, saya ijin menggarisbawahi yg menjadi peneguhan istimewa bagi saya dari tulisan renungan hari ini :Demikian pula firman Tuhan: diberikan untuk menerangi hidup konkret, cara kita bekerja, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama, khususnya dlm memperlakukan sesama ,tak jarang orang beriman baik dan benar hanya untuk keselamatan pribadi namun lupa bahwa menjadi baik dan empati untuk sesamanya di saat ada yg memerlukan justru cari aman pura pura tidak kenal dan lain sebagainya..semoga pelita kasih dari Tuhan pun dapat dipancarkan kepada yang memerlukan.Amin.
Kmentar dari Perspektif Gereja Katolik atas Renungan “Terang yang Dinyatakan, Janji yang Diteguhkan”
Sebagai seorang pewarta, saya memberikan apresiasi dan tinjauan mendalam atas renungan ini melalui lensa iman, tradisi, dan ajaran Gereja Katolik.
1. Penilaian Positif dan Keselarasan dengan Ajaran Katolik
Renungan ini, pada hakikatnya, sangat selaras dengan spiritualitas dan doktrin Katolik. Beberapa poin utamanya sejalan dengan Magisterium Gereja:
· Iman yang Diwujudkan dalam Perbuatan: Penekanan bahwa firman harus “menerangi hidup konkret” (cara bekerja, mengambil keputusan) bergema dengan ajaran Santo Yakobus (Yak 2:17) dan Katekismus Gereja Katolik (KGK) tentang penyatuan iman dan perbuatan (lihat KGK 1814-1816).
· Kerendahan Hati dan Rahmat: Refleksi tentang doa Raja Daud (“Siapakah aku ini?”) dengan tepat menempatkan anugerah (rahmat) Allah sebagai dasar hidup kita, bukan usaha diri. Ini adalah inti dari teologi rahmat dalam Katolik (KGK 1996-2005).
· Kekudusan dalam Hal Kecil: Kutipan dari Santa Theresia dari Lisieux, seorang Pujangga Gereja dan Doktor Gereja, merupakan penerapan yang tepat dan autentik dari “Jalan Kecil”-nya, yang sangat dihargai dalam spiritualitas Katolik.
· Panggilan untuk Hidup dalam Terang: Tema terang yang tidak boleh disembunyikan mengingatkan pada Sakramen Pembaptisan, di mana kita menerima lilin yang menyala dengan pesan: “Terimalah cahaya Kristus” dan “Hendaknya cahaya itu tetap bercahaya” (Ritus Pembaptisan).
2. Pertimbangan dan Saran Pendalaman Katolik
Meski isinya baik dan membangun, dari perspektif katekese Katolik, beberapa aspek berikut dapat diperdalam:
· Peran Gereja sebagai Penuntun: Renungan berfokus pada relasi personal dengan Firman. Dalam tradisi Katolik, pengertian akan Sabda Allah dibimbing oleh Tradisi Suci dan Magisterium Gereja (KGK 85, 95). Penambahan perspektif ini akan mencegah interpretasi yang terlalu subjektif.
· Sakramen sebagai Sarana Rahmat: Pertobatan dan kekuatan untuk hidup dalam terang tidak hanya datang dari tekad pribadi, tetapi juga melalui Sakramen, terutama Rekonsiliasi (Pengakuan Dosa) dan Ekaristi. Sakramen-sakramen inilah sarana utama rahmat Allah menguatkan kita (KGK 1131, 1422-1423). Penyebutannya akan memperkaya renungan.
· Komunitas sebagai Tempat Bertumbuh: Perjuangan untuk berani jujur sering kali membutuhkan dukungan komunitas beriman (paroki, kelompok kategorial). Gereja Katolik menekankan bahwa keselamatan dan pertumbuhan rohani kita terhubung dengan Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja (KGK 946-948).
3. Rekomendasi untuk Pewarta
Sebagai bahan renungan pribadi, teks ini sangat baik. Namun, jika akan digunakan dalam lingkungan pastoral resmi (misa, katekese paroki), saya merekomendasikan:
· Melengkapi dengan referensi resmi seperti Katekismus Gereja Katolik (KGK) atau kutipan dari Dokumen Konsili Vatikan II (seperti Dei Verbum tentang Sabda Allah) untuk memberikan dasar pengajaran yang kokoh.
· Mengaitkan ajakan untuk “melangkah kecil” dengan pengajaran Sosial Gereja Katolik, misalnya kejujuran di tempat kerja sebagai bagian dari menghargai martabat buruh.
· Menyeimbangkan penekanan pada keberanian pribadi dengan panggilan untuk bersaksi dalam persekutuan dan kasih, sebagai ciri khas evangelisasi Katolik.
Kesimpulan
Renungan “Terang yang Dinyatakan, Janji yang Diteguhkan” adalah sebuah refleksi biblikis yang solid dan mengena, yang dengan baik menerapkan firman Tuhan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dari perspektif Katolik, isinya tidak bertentangan dengan iman dan bahkan meneguhkan banyak aspeknya.
Nilai tambah terbesarnya adalah kemampuan untuk menyentuh hati dan mendorong pertobatan praktis. Untuk memperdalam nilainya secara katolik, dapat dilengkapi dengan penekanan pada peran Gereja, sarana rahmat melalui sakramen, dan kekuatan komunitas beriman.
Renungan semacam ini dapat menjadi bahan pendamping yang sangat baik untuk doa pribadi maupun sharing kelompok, selama tetap diiringi dengan pengajaran Gereja yang utuh. Teruslah berkarya mewartakan terang Kristus yang sesungguhnya. Salve! Terang Roh Kudus memberkati 🙏
Berkah dalem 🙏
Terima kasih utk renungannya. Seringkali saya pribadi tidak bisa bersikap dg jujur, cth ketika lihat teman telat datang 5 menit ke tempat kerja, saya hanya diam, saya pikir sudah ada petugas yg mengurus & hanya telat 5 menit aja, saya memilih diam agar tidak menyinggung satu & yg lain dan tidak jadi masalah besar. Hal hal kecil semacam ini beberapa kali saya alami dg case yg berbeda beda. Dengan memahami renungan ini sy diingatkan utk kembali setia dalam hal hal kecil. Mempercayakan kepada firman Tuhan yang bekerja dalam hidup & memulihkan relasi yang rusak.
Renungannya sangat memberkati, semoga bisa lebih banyak orang yang terberkati melalui renungan2 ini. Amin.
Bạn cần truy cập đúng trang chủ 888SLOT , sau đó điền đủ các thông tin cần thiết. Hãy đảm bảo thông tin này được nhập chính xác đầy đủ, vì đây sẽ là những thông tin quan trọng để bạn có thể đăng nhập và thực hiện giao dịch sau này. TONY01-29O
Terima kasih Bu Enny utk renungannya hari ini 🙏
Setiap orang mempunyai karakter yg unik dan berbeda satu sama lain, lewat pengalaman dan proses hidup yg dijalani oleh masing2 pribadi. Kadangkala kita lupa bahwa apa yg kita lakukan hebdaknya sll utk menyenangkan hati Tuhan bukan utk spy kita diterima oleh sesama kita, spy kita populer dg terus menerus menggunakan topeng2 yg berbeda di setiap situasi hidup kita.
Lewat pemerenungan Injil hari ini semakin meneguhkan saya utk terus belajar utk berani menjadi pribadi yg apa adanya karena ada tertulis “…sebab Allah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.” 1Yoh 3:20. Mari kita sbg anak2 Allah yg sll mau menyenangkan hati BapaNya 🙏
Terimakasih untuk renungannya Bu Enny 🙏
Lewat renungan yang disampaikan, saya diingatkan agar supaya Firman bukan hanya untuk di dengar sampai ditelinga, melainkan untuk kita hidupi supaya menjadi terang.
Kiranya saya dapat berproses menjadi pribadi yang dapat membawa sikap dan cara hidup ku yang lebih baik lagi supaya beroleh keselamatan dan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Tuhan Yesus memberkati 😇🙏