| Renungan hari ini dari bacaan Injil Mat 5:1-12. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:3) |
Ketika Yesus melihat orang banyak, Ia naik ke atas bukit dan mengajar mereka. Tindakan ini bukan sekadar pilihan tempat, melainkan memiliki makna teologis yang mendalam. Bukit melambangkan tempat perjumpaan antara Allah dan manusia, sebagaimana Musa menerima hukum Taurat di Gunung Sinai. Namun, Yesus tidak sekadar mengulangi hukum lama, melainkan menyatakan kepenuhan kehendak Allah melalui Sabda-Nya sendiri. Dengan duduk dan mengajar, Yesus tampil sebagai Guru Ilahi yang berwibawa. Ajaran yang disampaikan-Nya, yang dikenal sebagai Ucapan Bahagia, membuka perspektif baru tentang kebahagiaan sejati. Kebahagiaan menurut Yesus tidak berakar pada keberhasilan lahiriah, melainkan pada sikap batin yang terbuka sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, Ucapan Bahagia pertama, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah”, menjadi dasar bagi seluruh pengajaran berikutnya. Kemiskinan rohani ini menunjuk pada kerendahan hati, kesadaran akan keterbatasan diri, serta sikap berserah yang total kepada Allah sebagai satu-satunya sumber hidup dan keselamatan.
Dari sikap dasar tersebut, Yesus melangkah lebih jauh dengan menyebut mereka yang berdukacita, lemah lembut, serta lapar dan haus akan kebenaran sebagai orang-orang yang berbahagia. Sekilas, pernyataan ini tampak bertentangan dengan logika manusia. Dukacita, kelemahlembutan, dan rasa lapar sering dipandang sebagai tanda kekurangan dan kelemahan. Namun, dalam terang Injil, dukacita yang dimaksud bukanlah kesedihan tanpa harapan, melainkan kepekaan hati terhadap dosa, penderitaan, dan ketidakadilan yang melukai kehendak Allah. Dukacita seperti ini membuka ruang bagi penghiburan ilahi. Demikian pula, kelemahlembutan bukan sikap pasif atau menyerah, melainkan kekuatan batin yang mampu mengendalikan diri, menolak kekerasan, dan memilih jalan kasih. Sementara itu, lapar dan haus akan kebenaran menggambarkan kerinduan yang mendalam untuk hidup sesuai kehendak Allah, memperjuangkan keadilan, dan setia pada nilai-nilai Injil. Yesus menegaskan bahwa kerinduan tersebut tidak akan dibiarkan kosong, sebab Allah sendiri akan memuaskan hati yang sungguh mencari kebenaran-Nya.
Yesus menampilkan ciri-ciri hidup yang semakin konkret melalui sikap murah hati, kemurnian hati, dan usaha membawa damai. Ketiga sikap ini menunjukkan bagaimana relasi dengan Allah diwujudkan dalam relasi dengan sesama. Orang yang murah hati adalah mereka yang mampu mengampuni, berbelas kasih, dan tidak menutup diri terhadap kebutuhan orang lain. Dalam kemurahan hati, manusia tidak hanya meniru Allah, tetapi juga mengalami kemurahan-Nya secara nyata. Kemurnian hati menunjuk pada integritas batin, ketulusan niat, serta kesatuan antara iman dan perbuatan. Hati yang murni memungkinkan seseorang melihat karya Allah dalam peristiwa sehari-hari dan membedakan mana yang sungguh berasal dari kehendak-Nya. Dari hati yang murni itu pula lahirlah para pembawa damai, yakni mereka yang berani menjadi penyalur rekonsiliasi di tengah konflik, kebencian, dan perpecahan. Mereka inilah yang disebut anak-anak Allah, sebab melalui hidupnya, kasih Allah yang mendamaikan menjadi nyata di dunia.
Yesus menutup Ucapan Bahagia dengan kenyataan yang paling menantang, yaitu penderitaan dan penganiayaan karena kebenaran dan karena diri-Nya. Yesus tidak menjanjikan jalan yang mudah bagi para pengikut-Nya. Kesetiaan kepada Injil sering kali menuntut keberanian untuk berbeda, bahkan kesiapan untuk ditolak dan disalahpahami. Namun, di sinilah puncak makna kebahagiaan kristiani dinyatakan. Yesus mengajak para murid untuk bersukacita, bukan karena penderitaan itu sendiri, melainkan karena kesetiaan mereka memiliki nilai kekal di hadapan Allah. Penganiayaan yang dialami demi kebenaran menyatukan orang beriman dengan para nabi dan dengan Kristus sendiri. Dengan demikian, Ucapan Bahagia bukan sekadar nasihat moral, melainkan peta jalan hidup murid Kristus: sebuah undangan untuk berjalan dalam iman, kasih, dan pengharapan, hingga akhirnya memperoleh kepenuhan hidup dalam Kerajaan Sorga.
