| Renungan hari ini dari bacaan 2Samuel 18:9-10; Markus 5:21-43.“Anak perempuanku hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup” (Mrk. 5:23). |
Apakah kedua bacaan hari ini saling terkait? Perikop pertama berkisah tentang pembunuhan Absalom anak Raja Daud yang memberontak. Yang kedua tentang Yesus yang membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan. Di manakah hubungannya?
Bacaan pertama (2Sam. 18:9-10), bila dibaca lengkap, akan ditemukan kisah yang dibaca oleh tetua Israel di pembuangan tentang kedukaan Raja Daud setelah mengetahui anaknya dibunuh ketika tersangkut di dahan. Tentara yang berperang bersama raja Daud tidak berani merayakannya (2Sam. 19:3). Pembunuhan lawan tidak dirayakan. Tidak ada kegembiraan ataupun pesta pora seperti biasanya. Tidak terjadi pula pembunuhan kejam terhadap para pemberontak. Di Indonesia pun kita dapat menelusuri kisah yang sejenis dan terjadi pembunuhan kejam terhadap pemberontak. Misalnya, kisah 1965 atau mereka yang dikorbankan untuk menutupi kejahatan yang lebih besar. Raja Daud berkabung atas gugurnya Absalom anaknya yang memberontak. Itu kisah zaman Perjanjian Lama. Apakah tradisi Perjanjian Lama itu berubah dalam ajaran Yesus?
Bacaan kedua ditulis oleh Markus. Tulisan Markus relatif mudah dan sederhana untuk dipahami pada zamannya dan zaman ini. Tidak perlu penafsiran panjang untuk memetik pesannya. Pesan-pesannya tentang Yesus yang radikal. Bahasa Markus lugas dan langsung.
Siapakah Markus? Yohanes Markus yang dikenal sebagai penulis Injil Markus adalah seorang Yahudi yang mempunyai nama Romawi, Markus. Dia asisten misionaris, teman seperjalanan Rasul Paulus dan Barnabas. Dia menulis injil berdasarkan ingatan Petrus yang sudah tua di Roma untuk pengikut Kristus non-Yahudi.
Bayangkanlah dirimu duduk di sampig Yohanes Markus untuk mendengarkan cerita Petrus. Petrus tua mengenang saat Yesus dihampiri oleh Yairus, kepala rumah ibadat, setelah menyeberang dengan perahu (Mrk. 5:21-22). Putrinya sekarat. Dalam perjalanan yang diiringi orang banyak, seorang perempuan hampir putus asa karena mengalami pendarahan selama 12 tahun dan menghabiskan harta bendanya untuk berobat.
Bayangkanlah menjadi perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun. Resapilah rasa putus asa, rasa sakit, dan rasa lemah. Perjumpaan dengan Yesus merupakan perjumpaan penuh harapan. Nama besar Yesus penyembuh sudah dia dengar. Sentuhan ke jubah Yesus membuat pendarahannya mengering, (Mrk. 5:29). Dia merasakan kesembuhannya. Ada rasa takut mencekam dan gemetar (Mrk. 5:33) menyadari perubahan tubuhnya.
Bayangkanlah dirimu menjadi putri Yairus, yang terbaring, sekarat, dan diratapi banyak orang. Yesus menyentuh tanganmu dan engkau mendengar Yesus menyapa dan memintamu bangun. Bagaimana rasanya ketika berada dalam situasi near death experience (ambang kematian)? Bicarakanlah kedua pengalaman mukjizat ini dengan Allah, Yesus atau tokoh iman lainnya.
Perikop yang ditulis Markus ini membawa kita pada kisah Yesus berjumpa dengan dua perempuan tanpa nama. Yang satu ditolong karena iman pribadi dan yang lainnya karena iman ayahnya.
Bagi kita zaman ini, pesan Petrus yang mengalami Yesus secara langsung masih relevan, apalagi bagi yang sudah lama menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau bila anggota keluarganya sekarat.
Zaman ini Yesus hadir dalam diri kita masing-masing. Iman pribadi masing-masing atau iman kerabat yang mempertemukan kita dengan Yesus Sang Penyembuh. Kita dipanggil untuk mendoakan kerabat, kenalan, dan orang-orang yang memerlukan bantuan khusus kepda Yesus. Juga kita berdoa penuh iman untuk disembuhkan dari penyakit kita masing-masing.
Mari mohon iman kepada-Nya yang menyembuhkan dan menghidupkan.
