| Renungan hari ini dari bacaan 1 Raja-raja 8:22–23.27–30; Markus 7:1–13 “Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang” (Mrk. 7:8) |
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal kita lakukan secara otomatis. Kebiasaan memang memudahkan hidup, tetapi tanpa disadari, pola yang sama juga bisa merasuki kehidupan beriman. Doa diucapkan karena hafal, ibadat dijalani karena kewajiban, dan tradisi dipertahankan karena sudah turun-temurun. Iman yang semula hidup dan menggerakkan hati perlahan dapat berubah menjadi rutinitas yang kering dan kehilangan daya rohaninya.
Injil hari ini menampilkan teguran Yesus yang keras terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka sangat setia pada aturan dan tradisi, tetapi kehilangan inti iman. Dengan mengutip Kitab Suci, Yesus berkata: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku.” Masalah utama mereka bukanlah kurangnya praktik keagamaan, melainkan jurang antara ibadat lahiriah dan sikap batin. Inilah yang disebut Yesus sebagai kemunafikan.
Kemunafikan bukan sekadar berpura-pura, melainkan ketidaksesuaian antara apa yang dirayakan dan apa yang dihidupi. Menarik bahwa kata munafik berasal dari kata Arab nāfaqa (نَافَقَ) yang berarti berpura-pura dan bisa dikaitkan dengan kata nafaq (lubang di bawah tanah) yang merujuk pada dua lubang persembunyian yang dibuat oleh hewan gurun. Hewan itu bisa masuk dari satu lubang dan keluar dari lubang lainnya. Hal ini menggambarkan seseorang yang memiliki dua “wajah”. Dalam bahasa Yunani, hypokrites berarti aktor panggung, seseorang yang memainkan peran, tetapi bukan dirinya yang sejati. Yesus tidak menolak tradisi, tetapi menolak tradisi yang berhenti pada bentuk luar dan tidak lagi mengantar manusia pada kasih, ketaatan, dan kerendahan hati.
Kemunafikan rohani mudah kita jumpai: orang berdoa panjang tetapi tidak mau mengampuni; memohon berkat sambil tetap tidak jujur; rajin mendaraskan doa, tetapi hatinya dipenuhi iri dan amarah. Orang yang munafik sering menuntut orang lain melakukan apa yang ia sendiri enggan jalani. Ia aktif melayani, tetapi diam-diam mencari pujian dan pengakuan.
Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Tradisi Gereja bukanlah kebiasaan mati, melainkan pewarisan iman yang hidup: “Tradisi yang berasal dari para rasul berkembang dalam Gereja dengan bantuan Roh Kudus” (Dei Verbum, art. 8). Tradisi sejati selalu menghidupkan iman dan membentuk hati umat.
Hal ini tercermin dengan indah dalam doa Raja Salomo pada peresmian Bait Allah (1Raj. 8). Di tengah kemegahan ibadat, Salomo justru mengakui keterbatasan manusia: “Langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau.” Ibadat yang berkenan kepada Allah bukan terletak pada kemegahan ritual, melainkan pada hati yang rendah dan percaya penuh pada belas kasih-Nya.
Sebagai pewarta Injil, tantangan ini terasa semakin berat. Ada ekspektasi moral yang tinggi agar pewarta tidak terjebak dalam kemunafikan: mencari pujian, ingin terlihat rohani, atau merasa paling benar. Karena itu, pewarta Injil dipanggil untuk terlebih dahulu mewartakan dengan hidup sebelum dengan kata. Pemeriksaan batin harian, kesetiaan pada sakramen tobat, dan kerendahan hati untuk mengakui kelemahan adalah jalan konkret menghindari kemunafikan. Pewarta Injil bukan corong kata-kata, melainkan saksi hidup yang pewartaannya berpusat pada Kristus, bukan pada diri sendiri.
Kemunafikan berakhir ketika iman tidak lagi dipamerkan, tetapi dihidupi. Menjadi autentik jauh lebih penting daripada tampak sempurna. Kejujuran tentang kerapuhan diri justru sering lebih menguatkan iman umat daripada citra tanpa cela. Seperti dikatakan Paus Paulus VI: “Orang zaman sekarang lebih percaya pada saksi daripada guru.”
Marilah kita bertekat agar doa, ibadat, dan tradisi yang kita jalani sungguh mengubah cara hidup: lebih mengasihi, lebih mengampuni, dan lebih setia. Semoga iman yang kita rayakan tidak hanya indah dalam kata-kata, tetapi nyata dalam perbuatan sehari-hari. Amin.
