Gembala Yang Memberi bukan Diberi Makan ( 14 Februari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1Raja-raja 12:26-32; 13:33-34; Markus 8:1-10
“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka bersama Aku dan mereka tidak mempunyai makanan” (Mrk. 8:2)

Yerobeam, raja Kerajaan Israel (Utara), khawatir bahwa hati rakyatnya akan berbalik lagi kepada Rehabeam, raja Kerajaan Yehuda, karena mempersembahkan kurban ke Yerusalem (12:27). Ia lalu mendirikan anak lembu emas di Betel dan Dan untuk menyaingi ibadah di Bait Allah di Yerusalem. Tindakan religius yang strategis itu dilakukannya bukan karena iman, melainkan karena ketakutan politik: takut kehilangan legitimasi, takut ditinggalkan rakyatnya.

Agama dijadikan alat stabilitas politik. Kultus dipakai untuk mengamankan takhta. Secara lahiriah tampak religius, tetapi hakikatnya adalah manipulasi spiritual demi kekuasaan. Akibatnya ditegaskan dalam 1Raj 13:33–34: tindakan itu menjadi dosa yang menyeret bangsa kepada kehancuran. Ketika pemimpin kehilangan kepercayaan pada Allah, ia akan mencari kontrol melalui simbol-simbol religius. Iman pun direduksi menjadi instrumen kekuasaan.

            Cara-cara yang dipakai Yerobeam tampaknya tetap menjadi godaan besar para pemimpin dewasa ini. Tidak sedikit yang suka menggunakan simbol agama, retorika rohani, atau kegiatan liturgis untuk membangun citra, untuk mendapatkan dukungan politik dan mempertahankan pengaruh.

Berbeda dengan Yerobeam yang bertindak dari ketakutan akan kehilangan kuasa, Yesus digerakkan oleh belas kasihan. Ketika melihat orang banyak yang telah tiga hari mengikuti-Nya dan tidak mempunyai makanan, Ia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini” (Mrk. 8:2).

Yesus tidak memanfaatkan kerumunan untuk memperkuat posisi atau popularitas-Nya. Ia tidak menjadikan kebutuhan mereka sebagai alat kontrol. Ia melihat kenyataan yang sederhana dan mendesak: mereka lapar. Maka Ia memberi mereka makan, lalu membiarkan mereka pergi dalam kebebasan.

Mukjizat penggandaan roti bukan pertama-tama pertunjukan kuasa, melainkan pernyataan hati seorang gembala. Jika Yerobeam membangun altar demi mempertahankan takhta, Yesus memecah-mecahkan roti demi memulihkan kehidupan. Di sinilah letak perbedaan mendasar: yang satu memakai agama untuk menguasai, yang lain memakai kasih untuk melayani.

Pemimpin sejati adalah gembala yang memberi makan, bukan yang memeras domba-dombanya demi kenyang sendiri. Ironisnya, model seperti Yesus jarang tampak dalam pejabat yang hidup berkelimpahan atau dalam pemimpin agama yang lantang berbicara tentang persembahan. Namun, ia nyata dalam sosok-sosok sederhana: kepala desa yang hadir di tengah warganya saat bencana, kepala sekolah di daerah terpencil yang memastikan anak-anak mendapat sarapan dan pendidikan yang layak, dengan mengusakahan donatur untuk beasiswa.

Belakangan ini ramai dibicarakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara lahiriah, negara tampak seperti gembala yang memberi makan. Tetapi, pertanyaannya lebih dalam: apakah tindakan itu lahir dari belas kasihan yang membebaskan, atau dari strategi untuk mempertahankan kuasa? Yesus memberi makan bukan supaya orang banyak tergantung pada-Nya atau menjadikan Dia raja. Setelah kenyang, mereka dilepaskan. Ia tidak membangun ketergantungan, melainkan memulihkan martabat.

Kepemimpinan yang sejati selalu membebaskan. Ia menolong orang berdiri di atas kakinya sendiri, menumbuhkan kreativitas, tanggung jawab, dan kerja keras. Sebaliknya, kepemimpinan yang manipulatif membuat orang tergantung, mudah diarahkan, dan akhirnya mudah dikuasai.

Apakah kita membangun “anak lembu emas” modern – citra, jabatan, dan sistem yang menguntungkan diri kita – atau kita memecah-mecahkan roti bagi sesama?

Pertobatan dimulai ketika kita berhenti menjadikan orang lain sebagai sarana, dan mulai melihat mereka sebagai saudara yang harus dihidupkan. Kepemimpinan menurut hati Yesus adalah memberi makan agar orang lain sungguh hidup, dan bukannya agar mereka terus hidup dalam kebergantungan, sehingga mudah dikuasai dan kita bisa mempertahankan kuasa dan selalu dipertuan.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *