Hidup Berkesadaran ( 22 Februari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kejadian 2:7-9; 3:1-7Matius 4:1-11.
 “Kemudian TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah, dan mengembuskan napas hidup ke dalam hidungnya” (Kej. 2:7).

Kedua perikop bacaan hari ini Kej. 2:7-9; 3:1-7 dan Mat. 4:1-11 mengajak kita hidup berkesadaran (mindful living). Hidup yang dihiasi oleh godaan. Kisah pertama tentang bagaimana godaan yang menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Kisah kedua mengenai keberhasilan Yesus melampaui seluruh godaan-godaan yang dialami. Bacaan pertama menggambarkan hasil refleksi rekaan nenek moyang Yesus di daerah pembuangan. Bacaan kedua, narasi Yesus menghadapi godaan menurut Matius.

Setelah membaca perikop (Kej. 2:7-9; 3:1-7) masuklah ke suatu malam di kota yang terletak 85 km selatan dari Bahgdad, Irak. Temperatur saat itu sekitar 14 derajat sampai 23 derajat Celcius. Dalam kerumunan api unggun, seorang tua Yahudi berjenggot lebat bercerita tentang penciptaan manusia pertama, keindahan masa-masa awal hidup manusia dan kejatuhan manusia ke dalam dosa menurut versi nenek moyang. Kisah yang diceritakan bukanlah suatu laporan pandangan mata real time, melainkan hasil refleksi bersama. Kok bisa-bisanya manusia jatuh ke dalam dosa? Kisah di Kitab Kejadian adalah kombinasi hasil refleksi yang diramu dalam metafor yang melekat di hati orang-orang Israel zaman itu. Ini bagian kisah yang menarik untuk dibaca sendiri dan siapa tahu mau menuliskan sendiri kisah penciptaan? Di perikop ini nenek moyang Yesus menggambarkan Allah yang membentuk manusia dari debu tanah, mengembuskan napas (Kej. 2:7), menempatkannya di taman yang indah, menumbuhkan berbagai macam pohon (Kej. 2:8-9), lalu ada dialog ular dan perempuan (Kej. 3:1-5), ada narasi tentang kebenaran dan kematian (Kej. 3: 3-5), pengertian (Kej 3:6) dan ketelanjangan (Kej. 3:7). Mengkontemplasikan kisah ini akan mengantar pada hal-hal dasar dalam kehidupan manusia yang sadar (mindful).

Pada perikop berikutnya (Mat. 4:1-11), Matius yang dikenal sebagai murid Yesus menuliskan Injil ini untuk komunitas Yahudi yang berbahasa Yunani, yang menggambarkan Yesus sebagai penggenapan nubuat Yahudi. Matius menggambarkan Yesus yang dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat. 4:1), berpuasa 40 hari dan malam (Mat. 4:2), lalu ada dialog Yesus dan si pencoba, yakni iblis (Mat. 4:3-11).

Bila kita menyimak cobaan terhadap Yesus ada 3: pertama terkait perut (Mat. 4:3-4), kedua terkait keamanan (Mat. 4:5-7), dan ketiga terkait popularitas (Mat. 4:8-11). Ambillah waktu untuk memasuki perikop ini. Hadirlah sebagai orang yang menemani Yesus, perhatikanlah perasaan apakah yang muncul? Perhatikanlah dalam hidup sehari-hari, apakah ada godaan yang serupa (namun tidak sama)?

Bila membandingkan godaan dan cobaan pada dua perikop ini, yang pertama godaan yang masih aktual zaman ini – ingin memahami, pakai istilah zaman hari ini kepo. Keinginan tahu, ingin memahami, dan bagi para pakar ini berarti masuk ke dalam misteri, bukan lagi rahasia hidup, melainkan misteri hidup yang memang perlu dihidupi secara sadar. Ada panggilan terdalam dalam setiap manusia untuk mengetahui baik dan buruk, tergerak untuk melakukan yang baik, dan tergugah ketika melakukan yang buruk, ada rasa tidak nyaman.

Cobaan yang dialami Yesus, zaman ini pun masih aktual bagi kita semua. Kisah Esau yang menukar hak sulungnya dengan makanan masih menjadi kisah kita, apalagi bila meninjau program pemerintah yang heboh saat ini. Makanan gratis, siapa yang tidak mau? Pun bila beracun? Atau rasa aman? Siapakah yang tidak tergoda menukar rasa aman? Siapakah yang tidak ingin popularitas? Seorang Guru Besar saja masih ingin populer. Ini bagian percakapanku dengan seorang teman dosen tentang guru besar yang kami kenal.

Yesus pada usianya yang setengah dari usiaku saat ini sudah berani, bernyali, tegas menolak semua godaan itu. Tidak seperti perempuan dalam Kitab Kejadian, atau Esau, atau aku. Aku menyadari ada banyak malaikat yang melindungiku sepanjang jalan, namun pada masa pra-paskah ini, kedua bacaan ini menguatkanku untuk tegas menolak seluruh godaan dan cobaan, dan memilih yang semakin memuliakan Tuhan.

Tuhan, kuatkanlah aku untuk mengatasi godaan dan cobaan, karena semuanya sudah Kau-berikan kepadaku bahkan sebelum aku minta. Amin.42

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *