| Renungan hari ini dari bacaan Ester 4: 10a.10c–12, 17-19; Matius 7: 7-12. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Mat. 7:7) |
Suatu malam, seorang ibu duduk sendiri di ruang tamu yang gelap. Ponsel di tangannya tak lepas dari pandangannya. Anaknya belum pulang, tanpa kabar. Ia menelepon, membuka chat, memeriksa “last seen”, namun tetap sunyi. Kekhawatiran menumpuk; napasnya terasa berat. Ia ingin mencari, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ia ingin marah, tetapi tak ada siapa pun yang bisa disalahkan. Akhirnya ia mengambil rosario dan berbisik, “Tuhan, tolong… jangan biarkan aku sendirian.” Tak lama kemudian ponselnya berdering. Kabar yang ia tunggu akhirnya datang. Hatinya lega, dan ia mengerti: doa adalah ketukan iman pada pintu Allah, pintu yang selalu terbuka.
Sabda Tuhan hari ini menegaskan: “Mintalah… carilah… ketoklah…”(Mat. 7:7). Di masa kini, kita sering “mencari” dengan cara lain: mencari jawaban di Google, menenangkan diri dengan scroll tanpa henti, atau mengejar rasa aman lewat uang. Namun, sering setelah semua itu, hati tetap gelisah. Yesus seolah berkata: sebelum engkau berlari ke mana-mana, datanglah dulu kepada Bapa. Ketuk pintu-Nya.
Doa bukan tombol darurat ketika semua usaha habis, melainkan napas iman yang setia. Di sana kita belajar percaya, bahkan saat jawabannya belum terlihat. Kadang masalah kita bukan karena tidak berdoa, melainkan karena berdoa sambil menyimpan ragu: “Tuhan dengar tidak?” Kita mengetuk, tetapi sudah menyiapkan kekecewaan. Yesus menegaskan: Allah bukan Bapa yang jauh. Jika orang tua yang terbatas saja tahu memberi yang baik kepada anaknya, terlebih Bapa di surga tahu apa yang sungguh kita perlukan. Yang kita minta mungkin tidak selalu dikabulkan persis seperti bayangan kita, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti memberi yang terbaik.
Kitab Ester memperlihatkan doa dari situasi paling genting: “Ya Tuhan, Allah kami, hanya Engkaulah Raja kami; tolonglah aku yang seorang diri ini, yang tidak mempunyai penolong selain Engkau.” (Est 4:17). Ini doa ketika semua jalur terasa buntu, doa orang yang sendirian menghadapi hidup: relasi yang retak, biaya yang menekan, tubuh yang melemah, hati yang letih. Ester tidak mengandalkan kuasa atau kecerdikan; ia bersujud dan berserah. Ia mengajar kita: di titik paling lemah, kita bisa paling dekat dengan Tuhan, asal kita sungguh berseru.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan: doa yang mengetuk pintu Allah harus berbuah dalam sikap hidup. Doa sejati bukan hanya menenangkan, tetapi mengubah kita menjadi lebih mengasihi. Yesus menutupnya dengan kata-kata berikut: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat. 7:12). Sesudah kita mengetuk pintu Tuhan, kita dipanggil menjadi “pintu” yang terbuka bagi sesama.
St. Teresa dari Kalkuta menyadarkan: “Jika Anda menghakimi orang lain, Anda tidak lagi punya waktu untuk mengasihinya.” Masa Prapaskah sering gagal bukan karena kita tidak mampu berpuasa, tetapi karena hati masih kenyang oleh penghakiman: komentar pedas, label cepat, prasangka, dan gosip. Maka latihan yang konkret: kurangi menghakimi, perbanyak mengetuk pintu Tuhan. Saat tangan gatal menulis kata tajam atau mulut siap menghakimi, berhentilah sejenak dan berdoalah: “Tuhan, lembutkan hatiku.”
Hari ini, mari mengetuk pintu Allah dengan iman yang jujur. Ketuklah saat takut, bingung, dan lelah. Biarkan Tuhan membentuk kita: dari cemas menjadi percaya, dari keras menjadi lembut, dari menghakimi menjadi mengasihi. Karena doa yang sungguh bukan hanya membuka pintu surga, tetapi juga membuka pintu hati kita.
