| Renungan hari ini dari bacaan Ulangan 4:1. 5-9; Matius 5: 17-19 “Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi hikmatmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.” (Ul. 4:6). |
Pada masa sekarang ini, dunia sering diwarnai oleh berbagai konflik dan kekerasan. Serangan rudal, bom, roket, dan drone di berbagai wilayah membuat banyak orang merasa sedih dan prihatin. Kita melihat betapa rapuhnya kehidupan manusia ketika kebencian dan kekuasaan lebih diutamakan daripada kebenaran dan kebijaksanaan. Dalam situasi seperti ini, firman Tuhan mengajak kita kembali merenungkan bagaimana seharusnya umat Allah hidup di tengah dunia.
Dalam Ulangan 4:6, Musa berkata kepada bangsa Israel: “Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi hikmatmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.” Perintah ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada hukum Tuhan bukan sekadar kewajiban religius, melainkan jalan menuju hidup yang bijaksana. Ketika umat Tuhan hidup menurut firman-Nya, kehidupan mereka menjadi kesaksian bagi orang lain. Bangsa-bangsa lain akan melihat bahwa umat Allah adalah umat yang memiliki hikmat dan akal budi.
Perintah ini menjadi semakin jelas ketika kita membaca sabda Yesus dalam Matius 5:17: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi; Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Yesus tidak menolak hukum Taurat. Sebaliknya, Ia menggenapinya secara sempurna melalui hidup dan pengajaran-Nya. Ia menunjukkan bahwa hukum Tuhan bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan jalan hidup yang memimpin manusia kepada kasih, kebenaran, dan keselamatan.
Karena itu, Yesus juga mengajar para murid-Nya untuk melakukan dan mengajarkan perintah-perintah Tuhan. Ia bahkan berkata bahwa siapa yang melakukan dan mengajarkannya akan disebut besar di dalam Kerajaan Surga (Mat. 5:19). Dengan kata lain, iman kepada Kristus tidak memisahkan kita dari kehendak Allah, tetapi justru menuntun kita untuk hidup lebih setia kepada-Nya.
Dalam terang iman Kristiani, kita memahami bahwa umat Allah tidak lagi dibatasi oleh bangsa atau wilayah tertentu. Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita semua dipanggil menjadi umat Allah, sering disebut sebagai “Israel rohani”. Artinya, kita adalah orang-orang yang dipilih Allah dan yang mengalami pergumulan iman bersama-Nya. Seperti Yakub yang bergumul dengan Tuhan dan keluar sebagai pemenang, demikian pula kita dipanggil untuk bergumul dalam iman sampai kita semakin serupa dengan kehendak Allah.
Pergumulan iman ini nyata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang anak muda yang sedang menantikan pasangan hidup dipanggil untuk tidak hanya mengikuti keinginan pribadi, tetapi juga mencari kehendak Tuhan. Ia belajar berdoa, meminta nasihat yang bijaksana, dan mendengarkan firman Tuhan agar dapat menemukan pasangan yang sesuai dengan rencana-Nya.
Demikian juga dalam kehidupan keluarga. Bagi seorang istri, terkadang tidak mudah untuk hidup dalam sikap saling menghormati dan tunduk kepada suami sebagaimana diajarkan dalam firman Tuhan. Namun, melalui doa dan kesetiaan kepada Tuhan, Ia memberikan kekuatan untuk menjalani peran itu dengan kasih dan kebijaksanaan.
Dalam hubungan dengan sesama pun demikian. Betapa indahnya kehidupan ketika seseorang berusaha hidup damai dengan semua orang. Tidak selalu mudah, tetapi ketika kita memilih jalan damai, kita sedang menunjukkan hikmat yang berasal dari Tuhan.
Firman Tuhan dalam Ulangan 4:1 juga mengingatkan bahwa ketaatan membawa umat Allah memasuki dan menikmati negeri yang diberikan Tuhan. Dalam arti rohani, “negeri” itu dapat kita pahami sebagai tempat di mana Tuhan menempatkan kita sekarang: keluarga kita, pekerjaan kita, komunitas kita, dan lingkungan tempat kita hidup. Di sanalah kita dipanggil untuk menjadi berkat.
Sebagai orang percaya kepada Yesus Kristus, kita adalah umat yang memiliki hubungan yang dekat dengan Allah. Ketika kita berseru kepada-Nya, Ia mendengar dan menjawab doa-doa kita. Sering kali jawaban-Nya bahkan melampaui apa yang kita bayangkan. Karena itu, Tuhan menghendaki agar kita hidup sebagai umat yang setia, bijaksana, dan berakal budi.
Semoga kehidupan iman kita dapat menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitar kita, bagi anak-anak kita, menantu, cucu, dan semua orang yang kita jumpai. Kiranya mereka dapat melihat bahwa hidup yang setia kepada Tuhan adalah hidup yang penuh hikmat dan damai.
Semoga melalui pergumulan iman bersama Allah dalam Yesus Kristus, kita semakin bertumbuh menjadi umat yang menang dalam iman dan menjadi berkat bagi dunia. Amin.
