| Renungan hari ini dari bacaan : 1Samuel 16:1.6–7.10–13;Yohanes 9:1–41. “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia” (Yoh. 9:5). |
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa mampu melihat dengan jelas. Kita menilai orang dari apa yang tampak di depan mata: penampilan, kemampuan, jabatan, atau keberhasilannya. Tanpa kita sadari, cara pandang seperti ini juga memengaruhi cara kita memandang diri sendiri, sesama, bahkan cara kita memahami karya Tuhan dalam hidup.
Namun, Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa ada kebutaan yang jauh lebih berbahaya daripada kebutaan fisik, yaitu kebutaan mata hati terhadap kebenaran Tuhan. Seseorang dapat melihat dengan matanya, tetapi belum tentu mampu melihat dengan hati yang terbuka terhadap kehendak Allah.
Bacaan pertama dari Kitab Samuel memberikan contoh yang sangat jelas. Ketika Nabi Samuel datang untuk mengurapi raja yang baru bagi Israel, ia terkesan oleh penampilan luar anak-anak Isai. Ia mengira bahwa yang paling gagah dan kuat pasti adalah pilihan Tuhan. Namun Tuhan menegurnya: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1Sam. 16:7). Pada akhirnya, justru Daud yang paling muda dan tidak diperhitungkanlah yang dipilih Tuhan.
Pesan ini sejalan dengan kisah Injil Yohanes tentang penyembuhan seorang yang buta sejak lahir. Mukjizat yang dilakukan Yesus sebenarnya sangat jelas: seorang yang tidak pernah melihat sejak lahir kini dapat melihat. Namun reaksi orang-orang di sekitarnya justru memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam. Mereka yang mengaku paling memahami hukum Tuhan, yaitu orang-orang Farisi, tidak dapat menerima karya Allah yang terjadi di depan mata mereka.
Mereka lebih sibuk mencari kesalahan daripada melihat karya Tuhan. Mereka mempertanyakan siapa yang berdosa, mempertanyakan cara Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, bahkan menolak kesaksian orang yang telah disembuhkan. Di sinilah ironi besar Injil ini: orang yang secara fisik buta akhirnya dapat melihat, sedangkan mereka yang merasa paling tahu justru tetap tinggal dalam kebutaan hati.
Kisah ini mengajak kita untuk bercermin pada kehidupan kita sendiri. Kebutaan hati tidak hanya terjadi pada tokoh-tokoh dalam Kitab Suci; kebutaan itu juga dapat terjadi dalam hidup kita. Kita dapat menjadi buta ketika hati kita dipenuhi kesombongan, ketika kita merasa sudah mengetahui banyak hal, atau ketika kita merasa diri selalu benar. Dalam keadaan seperti itu kita mudah menilai, menghakimi, bahkan melukai sesama, tanpa menyadari bahwa mata hati kita sendiri sebenarnya sedang tertutup.
Kebutaan hati juga dapat muncul dari luka dan kekecewaan dalam hidup. Ketika masalah datang bertubi-tubi, kita dapat merasa bahwa Tuhan tidak hadir atau tidak peduli terhadap hidup kita. Kita hanya melihat kesulitan, penderitaan, atau ketidakadilan, dan perlahan-lahan kita kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa Tuhan tetap bekerja di dalam kehidupan kita.
Pada saat-saat seperti itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah Tuhan benar-benar tidak bekerja dalam hidup kita, ataukah sebenarnya mata hati kita yang tertutup oleh pikiran, prasangka, dan perasaan kita sendiri?
Injil hari ini menegaskan bahwa Yesus datang sebagai terang dunia. Ia tidak hanya menyembuhkan kebutaan fisik, tetapi juga membuka mata hati manusia. Terang Kristus menolong kita melihat hidup dengan cara yang baru: dengan iman, dengan kerendahan hati, dan dengan hati yang terbuka terhadap karya Tuhan.
Sering kali bukan terang Tuhan yang tidak hadir dalam hidup kita, melainkan mata hati kita yang belum terbuka untuk melihat bahwa Tuhan tetap bekerja dalam kedaulatan-Nya. Ketika hati kita diterangi oleh terang Kristus, kita mulai menyadari bahwa bahkan dalam kesulitan sekalipun Tuhan tetap menuntun hidup kita menuju kebenaran dan keselamatan.
Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia membuka mata hati kita. Dengan hati yang diterangi oleh terang Kristus, kita dapat belajar melihat sesama dengan kasih, melihat hidup dengan iman, dan melihat karya Tuhan yang terus berlangsung dalam setiap perjalanan hidup kita.
Doa
Tuhan Yesus, terang dunia,sering kali mata hati kami tertutup oleh kesombongan, prasangka, dan keputusasaan. Bukalah mata hati kami agar kami mampu melihat kebenaran-Mu dan menyadari kasih-Mu yang bekerja dalam hidup kami. Tuntunlah kami untuk hidup dalam terang-Mu, agar setiap langkah hidup kami semakin mencerminkan kasih dan kehendak-Mu. Kepada-Mu kami berserah dan berharap. Amin.
