| Renungan hari ini dari bacaan : Bilangan 21:4-9; Yohanes 8:21-30 “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yoh. 8:24). |
Tuhan menjawab doa dan mengabulkan permohonan umat-Nya dengan cara-Nya sendiri, yang kadang tidak mudah dipahami manusia. Bangsa Israel meratapi penindasan di Mesir, dan Tuhan menjawab dengan membebaskan mereka melalui Musa. Namun, perjalanan di padang gurun ternyata penuh kesulitan: kekurangan air dan makanan, ancaman musuh, serta jalan yang berliku. Ketika sampai di Gunung Hor, mereka sudah dekat dengan tanah tujuan, tetapi harus memutar karena ditolak oleh Edom.
Situasi ini memicu kekecewaan. Bangsa Israel mulai bersungut-sungut, melawan Allah dan Musa, bahkan menyesali pembebasan dari Mesir (Bil. 21:4-5). Akibatnya, datanglah hukuman berupa ular-ular tedung yang memagut banyak orang. Dalam penderitaan itu, mereka menyadari dosa mereka dan bertobat. Mereka memohon agar Musa berdoa bagi mereka. Tuhan pun memberi jalan keselamatan: Musa diperintahkan membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Setiap orang yang dipagut ular, jika memandang kepada ular tembaga itu, akan tetap hidup (Bil. 21:9).
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Tuhan memberikan kehidupan kepada mereka yang percaya dan taat pada perintah-Nya. Padang gurun menjadi tempat pembelajaran iman, di mana bangsa Israel dilatih untuk sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Ular tembaga itu sendiri menjadi tanda yang menunjuk pada keselamatan yang lebih besar.
Dalam Injil, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Dia yang diutus oleh Bapa. Ia menegaskan bahwa mereka yang tidak percaya kepada-Nya akan mati dalam dosa (Yoh. 8:24). Ketika ditanya siapakah Dia, Yesus menjawab bahwa kebenaran tentang diri-Nya akan dipahami ketika Anak Manusia “ditinggikan” (Yoh. 8:28), yakni melalui salib. Dengan demikian, seperti ular tembaga yang ditinggikan menjadi sarana keselamatan, demikian pula Yesus yang ditinggikan di salib menjadi sumber hidup bagi semua yang percaya kepada-Nya.
Yesus memberi teladan ketaatan total kepada kehendak Bapa. Ia tidak bertindak dari diri-Nya sendiri, tetapi melakukan apa yang berkenan kepada Bapa (bdk. Yoh. 8:29). Karena itu, para pengikut Kristus pun dipanggil untuk percaya kepada penyelenggaraan Ilahi, bahkan ketika jalan hidup terasa sulit dan tidak dimengerti.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami hal serupa. Ketika banyak proyek gagal, mungkin Tuhan sedang menyelamatkan perusahaan dari beban utang yang lebih besar. Ketika perusahaan gulung tikar, mungkin Tuhan sedang menyelamatkan keutuhan keluarga. Ketika mengalami pengkhianatan atau tuduhan palsu, mungkin Tuhan sedang menunjukkan siapa sahabat sejati dan yang menguatkan hati kita. Ketika banyak jalan dan pintu tertutup, mungkin Tuhan sedang mengajar kita untuk lebih bergantung kepada-Nya.
Iman mengajak kita untuk percaya bahwa sebelum badai datang, Tuhan telah lebih dahulu mempersiapkan kita untuk melewatinya. Memang tidak mudah bertahan dari godaan dunia. Namun kasih kepada Tuhan harus diwujudkan dalam pertobatan yang terus-menerus dan kerelaan untuk dibentuk oleh-Nya, bahkan melalui “padang gurun” kehidupan.
Akhirnya, kita diundang untuk percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia menyertai dan tidak membiarkan kita berjuang sendiri (bdk. Yoh. 8:29). Kristus yang telah ditinggikan tetap menyertai hingga akhir zaman, dan Roh Kudus menuntun kita kepada kebenaran. Inilah janji keselamatan bagi setiap orang yang percaya.
