HIDUP DALAM PERJANJIAN ( 26 Maret 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kej 17:3-9 dan injil Yoh 8:51-59. “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun” (Kej 17:9)

Bayangkan kita memiliki sebuah sertifikat tanah yang sangat tua yang ditandatangani oleh kakek buyut kita puluhan tahun lalu. Meskipun kakek buyut kita sudah tiada sertifikat itu tetap berlaku dan sah secara hukum karena itu adalah sebuah dokumen perjanjian yang mengikat yang menjamin hak milik bagi kita, asalkan sertifikat itu tidak hilang dan kita mengikuti ketentuan hukumnya.

Dalam Kejadian 17, Allah membuat perjanjian dengan Abram. Allah memberikan “sertifikat perjanjian” kepada Abram yang isinya bukan sekedar tanah fisik tapi janji akan penyertaan Allah pada keturunan Abram turun temurun yang bersifat kekal. Perjanjian ini bukan pertama-tama keinginan Abram, namun atas inisiatif Allah sendiri karena kasihNya yang besar ingin menyelamatkan umat manusia melalui Abram. Oleh karena perjanjian itu Abram diberi identitas baru oleh Allah: namanya bukan lagi Abram melainkan Abraham. Dan Abraham beserta keturunannya harus memegang perjanjian itu, setia pada ketetapan-ketetapan Allah.

Meskipun keturunan Abraham, yaitu Bangsa Israel, kemudian menjadi tidak setia kepada Allah, namun Allah itu setia. Selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya (Mzm 105:8a). Untuk menyelamatkan umat manusia, Allah berinisiatif turun sendiri ke dunia dalam rupa Yesus Kristus.

Dalam percakapan Yesus dengan orang-orang Yahudi pada Injil yang kita baca hari ini, Yesus secara eksplisit mengungkapkan jadi diri-Nya sebagai Allah yang kekal itu. Dalam Yoh 8:58 Yesus menyatakan keilahianNya bahwa sebelum Abraham jadi, Aku telah ada (Ego Eimi / ἐγὼ εἰμί yang merujuk pada pernyataan diri Allah kepada Musa di gunung Horeb, dan oleh karenanya Yesus hendak dirajam karena menyamakan diriNya dengan Allah). Yesus mau menyatakan bahwa diriNya adalah penggenapan janji Allah kepada Abraham. Yesus adalah alasan mengapa perjanjian dengan Abraham itu ada dan Dia adalah Allah yang setia dari dulu hingga selamanya. Namun, Yesus membawa dimensi baru dalam perjanjian Allah dengan umatNya, bukan lagi bersifat turun temurun secara fisik namun memberikan jaminan kehidupan kekal, asalkan kita percaya dan menuruti firmanNya. Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya (Yoh 8:51).

Sama seperti Abram yang diberi identitas baru (yaitu Abraham) oleh karena perjanjian dengan Allah, kita yang percaya kepada Yesus dan dibaptis juga telah diberi identitas baru sebagai anak-anak Allah dan terikat perjanjian denganNya. Dengan rahmat pembaptisan, Allah memberikan jaminan kehidupan kekal melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitanNya. Sedangkan dari pihak kita, kita harus menuruti firmanNya.

Lalu dengan demikian apakah Allah itu pamrih, Allah yang menuntut balas budi kita dengan perjanjianNya? Tentu tidak. Pertama-tama Allah selalu memberikan anugerah terlebih dahulu. Melalui pembaptisan, kita mendapatkan anugerah jaminan keselamatan kekal. Ketetapan-ketetapanNya, firmanNya adalah cara untuk menjaga anugerah itu supaya tidak rusak atau bahkan hilang. Allah tidak bisa mengingkari diriNya bahwa Ia adalah kudus. Dosa membuat kita terpisah dari Allah dan kehilangan keselamatan kekal bukan karena Allah dendam tetapi karena kodrat dari dosa itu sendiri yang tidak bisa bersatu dengan Allah yang kudus. Oleh karena itu, Allah memberikan ketetapanNya untuk menjaga supaya anugerah itu tidak hilang dan kita tidak terpisah dariNya.

Allah telah memberikan “sertifikat perjanjian” akan anugerah keselamatan kekal kepada kita melalui pembaptisan. Dari pihak Allah, janji itu tidak pernah berubah. Yang bisa merusak atau menghilangkan “sertifikat” dan membatalkan janji keselamatan kekal itu adalah pihak kita dengan hidup di luar kehendak dan firmanNya (hidup di dalam dosa). Hari ini kita diingatkan akan kesetiaan Allah pada perjanjianNya dan kita diundang menanggapiNya untuk terus berjuang hidup dalam kehendak dan firmanNya supaya anugerah keselamatan itu kelak masih tetap kita terima.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *