| renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 37:21–28; Yohanes 11:45–56 “Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, satu raja memerintah mereka seluruhnya” (Yeh. 37:22) |
Allah adalah Bapa yang penuh kasih, yang tidak pernah rela melihat anak-anak-Nya hidup tercerai-berai. Sejak zaman para nabi, seperti yang diwartakan dalam kitab Yehezkiel, Tuhan telah menyatakan kerinduan-Nya untuk mengumpulkan umat-Nya yang tercerai-berai dan menjadikan mereka satu bangsa yang dipersatukan dalam damai dan kesetiaan.
Janji itu tidak berhenti sebagai nubuat, melainkan mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus. Dalam Injil Yohanes kita melihat bahwa bahkan di tengah penolakan dan rencana jahat manusia, Allah tetap berkarya. Tanpa disadari oleh mereka, keputusan untuk membunuh Yesus justru menjadi jalan keselamatan: pengorbanan Kristus di kayu salib tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga mempersatukan kembali manusia, baik dengan Allah maupun dengan sesamanya.
Namun, ketika kita melihat kehidupan kita hari ini, kita tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa perpecahan masih sering terjadi. Perpecahan itu bisa muncul dalam keluarga, dalam komunitas, bahkan di dalam hati kita sendiri. Ego, luka batin, kesibukan, dan kepentingan pribadi sering kali membuat kasih menjadi dingin dan relasi menjadi renggang.
Di sinilah kasih Kristus hadir dan bekerja. Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memulihkan yang terluka, menyatukan yang tercerai, dan menghidupkan kembali kasih yang sejati. Salib-Nya menjadi tanda nyata bahwa kasih Allah lebih kuat daripada perpecahan apa pun.
Sebagai anak-anak Allah, kita tidak dipanggil untuk hidup sendiri-sendiri atau terpecah, melainkan untuk hidup dalam kesatuan kasih.
Maka, marilah kita dengan jujur bertanya dalam hati: Apakah saya masih menyimpan luka, perpecahan, atau jarak dengan sesama? Apakah saya sungguh mau membuka hati untuk dipulihkan oleh kasih Kristus?
Masa Pra-Paskah adalah masa Rahmat, kesempatan yang berharga untuk kembali menata hidup kita. Pada masa ini, kita diajak untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang terbuka, memperbaiki relasi yang rusak, belajar mengampuni dan menerima dengan tulus, serta menjadi pembawa damai di tengah lingkungan kita. Sebab, Tuhan tidak hanya mengumpulkan kita, tetapi juga mengutus kita menjadi alat-Nya untuk menghadirkan persatuan bagi sesama.
Kasih Allah tidak pernah berhenti memanggil dan mengumpulkan kita. Dalam Yesus Kristus, kita dipersatukan kembali menjadi satu umat yang hidup dalam kasih dan damai.
Menjelang Paskah, kita diingatkan kembali akan satu kebenaran yang mendalam: salib Kristus adalah tanda kasih yang mempersatukan. Oleh karena itu, kita tidak hanya dipanggil untuk mengalami kasih itu, tetapi juga untuk menjadi saksi yang menghadirkan persatuan di tengah dunia yang sering terpecah.
Doa
Tuhan Allah Bapa yang penuh kasih,
Engkau tidak pernah membiarkan kami tercerai-berai dan jauh dari-Mu.
Engkau terus memanggil, mengumpulkan, dan mempersatukan kami sebagai umat-Mu.
Kami bersyukur atas kasih-Mu dalam Yesus Kristus,
yang rela berkorban demi menyatukan kami kembali.
Ampunilah kami, ya Tuhan,
jika kami masih menyimpan luka, perpecahan, dan ketidakpedulian.
Lembutkan hati kami,
agar kami mampu mengampuni, menerima, dan mengasihi dengan tulus.
Satukanlah keluarga kami, komunitas kami, dan Gereja-Mu,
agar kami hidup dalam damai dan menjadi tanda kasih-Mu.
Jadikanlah kami alat-Mu,
untuk menghadirkan persatuan di tengah dunia yang terpecah.
Demi Kristus Tuhan dan Juruselamat kami.
Amin.
