| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 50:4-7; Matius 26:14-27:66. Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). |
Ada kontras yang begitu tajam dalam kisah sengsara Yesus. Dia yang sebelumnya tampil penuh kuasa – menyembuhkan orang sakit, meredakan badai, dan menguatkan para murid agar tidak takut – kini berdiri dalam kerapuhan yang mendalam. Di taman Getsemani, Ia mengaku, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mat. 26:38). Apa yang membuat-Nya begitu tertekan?
Jawabannya adalah “cawan” itu. Cawan bukan sekadar simbol penderitaan fisik, tetapi juga gambaran beban dosa manusia dan keadilan ilahi yang harus ditanggung. Seluruh kebencian, kebohongan, keegoisan, dan ketidakadilan dunia seolah-olah bertumpu pada hati Yesus dan menusuk Dia. Ia tidak hanya menghadapi salib secara lahiriah, tetapi juga memikul realitas dosa dunia secara batiniah.
Bayangkan sebuah piramida raksasa yang terbalik, bertumpu pada satu titik kecil. Tekanan yang harus ditanggung titik itu begitu dahsyat. Demikian pula, seluruh beban moral dunia seakan bertumpu pada Yesus. Tidak mengherankan jika Ia bergumul sedemikian rupa hingga keringat-Nya menjadi seperti darah. Seperti dinubuatkan Nabi Yesaya: “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita” (Yes. 53:5).
Namun, di tengah pergumulan itu, Yesus tidak melarikan diri. Ia memilih taat. Ia menyerahkan kehendak-Nya kepada kehendak Bapa. Di sinilah letak kekuatan sejati: bukan dalam menghindari penderitaan, tetapi dalam kesetiaan kepada Allah di tengah penderitaan.
Apakah kita akan membiarkan Yesus sendirian di Getsemani? Kita mungkin tidak hadir secara fisik di sana, tetapi Getsemani tidak pernah hilang dari dunia. Ia hadir dalam kehidupan orang-orang yang bergumul dengan kesedihan, ketakutan, kesepian, dan penderitaan yang tak terlihat. Di sekitar kita ada begitu banyak “Getsemani”: di rumah tangga yang retak, dalam hati yang terluka, dalam orang-orang yang merasa tidak punya harapan.
Sering kali kita melewati mereka tanpa menyadari. Kita sibuk dengan hidup sendiri, seolah-olah penderitaan orang lain bukan urusan kita. Padahal, ketika kita hadir bagi mereka, mendengar, menemani, menguatkan, kita sebenarnya sedang tidak membiarkan Yesus sendirian.
Kemudian, mari kit dengar pula seruan Yesus di kayu salib: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Dalam seruan ini, Ia masuk ke dalam pengalaman terdalam manusia: merasa ditinggalkan. Ia merasakan kegelapan yang juga dialami banyak orang, terutama mereka yang kehilangan iman. Yesus merasakan akibat dari apa yang disebut ateisme praktis, yakni hidup seolah-olah Tuhan tidak ada atau yang menempatkan Allah di tempat terakhir dalam hidupnya. Batapa banyak dewasa ini orang yang secara nalar percaya akan adanya Allah, tetapi dalam kehidupannya mereka menjadikan Allah seperti “orang buangan”, terpinggirkan, sehingga dalam arti tertentu mereka sebenarnya meninggalkan Allah. Yesus masuk ke dalam “kegelapan iman” agar tidak ada seorang pun merasa sendirian dalam pergumulannya.
Marilah kita menemani Yesus di taman Getsemani dengan hadir bagi sesama yang sedang berada dalam “Getsemani” mereka. Kepedulian, sapaan lembut, perhatian, dan kehadiran sederhana kita dalam pergumulan dan penderitaan mereka, kiranya menjadi tanda bahwa kita tidak membiarkan Yesus seorang diri di Getsemani. Mari kita membangun gaya hidup yang menempatkan Allah sebagai pusat, dan bukan di pinggiran, agar Dia tidak perlu lagi berseru “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
